Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Cermin

Menemukan Kesadaran Setelah “Dibuang”

Bambang S
Terakhir diupdate: 25 Januari 2021 11:35 11:35 am
Bambang S
Dipublikasikan 25 Januari 2021 16:00
Bagikan
Bagikan

Hukuman bisa jadi itu cara Allah membuka dan mengetuk hati untuk bertemu dengan hidayah

Hidayatullah.com–Dicap sebagai santri nakal karena sering melanggar peraturan, bahkan sampai dikeluarkan dari pesantren karena melawan ustadz. Padahal sudah hampir separuh usia,  saya habiskan menjadi santri di sebuah pesantren di Kalimantan. Entah apa yang ada dalam benak saya sehingga sering memberontak dan melanggar batas-batas aturan pesantren.

Saya ingin bercerita sebelum menjadi santri. Akhir 2004 orangtua saya bercerai. Saya bersama adik laki-laki ikut bersama ibu. Tentu perceraian itu sangat mempengaruhi hidup saya hingga kini. Ibu bekerja sebagai Tenaga Kerja Wanita (TKW) ke negeri seberang. Beliau  membanting tulang demi bertahan hidup, sedangkan saya dan adik dimasukan ke pondok pesantren sejak SD.

Sekian banyak pengalaman hidup yang saya lalui, termasuk hiruk-pikuknya dunia santri. Melalui masa kecil  jauh dari orangtua, sungguh tidaklah mudah. Hidup serba pas-pasan bahkan serba kekurangan. Mulai dari pakaian yang saya bawa dari rumah sudah mulai berkurang, kumuh, rusak, dan ada juga yang hilang entah kemana. Bila waktu makan tiba, harus pergi memancing dulu atau turun ke empang pondok untuk mencari ikan, keong dan kadang kala mencuri udang yang dibudidayakan di empang pondok. Kala itu melanggar peraturan sudah jadi hal yang lumrah bagi saya, dan sudah terlalu sering mendapatkan hukuman.

Hingga jenjang SMA saya di pesantren yang sama, dan dicap menjadi santri nakal karena suka melanggar. Hingga sikap saya sudah tak bisa ditolelir lagi karena berani melawan ustadz. Akibatnya  saya dikeluarkan dari pesantren dan  tidak  bisa mengikuti ujian nasional. Semenjak itulah saya putus sekolah.

Baca Juga

Karāmah yang Tidak Pernah Diminta
Kisah ODGJ Berbagi Makanan
Saat Suami Jadi ‘Pusat’ Perhatian karena Urus Bayi Sendirian
Kehilangan Uang yang Bikin Ketagihan…
Pondok Gontor Putri, Al Hamra, dan Hagia Sophia

Sebenarnya saya tak benar-benar dikeluarkan, hanya “dibuang” ke pesantren lainya yang masih tahap perintisan dan masih ada hubungan dengan pesantren dimana saya nyantri. Jaraknya memang tak terlalu jauh, namun medan yang harus ditempuh untuk sampai ke tujuan tidaklah mudah. Perlu dua kali menyeberangi sungai yang terkenal dengan hewan buasnya, kemudian berkendara kurang lebih satu jam dijalur darat.

Beradaptasi di tempat baru menjadi sebuah keresahan sekaligus tantangan baru bagi saya, karena saat itu pesantren ini berada di tengah hutan  dan baru berdiri satu bangunan yaitu Taman kanak-kanak (TK). Rutinitas sehari-hari membabat semak belukar dan pepohonan. Kegiatan ini membuat saya lupa untuk melanggar peraturan lagi.

Satu tahun berlalu, semenjak kejadian itu, setelah lama di “pembuangan” dan sudah lumayan banyak ikut berpartisipasi di pesantren. Setahun itu mengubah cara berfikir saya dari seorang santri yang nakal menjadi seorang yang memiliki rasa empati dan peduli pada  sosial sekitar.

Namun saya sadar, peduli saja tak cukup melihat pendidikan di perbatasan yang masih terbelakang dan melihat masyarakat yang masih jauh dari agama. Kembali terbesit dalam pikiran untuk memperdalam ilmu agama, khususnya dibidang dakwah. Tapi tidak untuk melanjutkan sekolah, melainkan hanya ingin menimbah ilmu saja.

Saya kemudian mengikuti program pendidikan dai di kota Bogor selama satu tahun. Semakin banyak pengalaman dan ilmu yang saya dapatkan di sana, khususnya tentang kiat berdakwah di pelosok dan pedalaman Nusantara. Setelah selesai mengikuti program itu, saya diamanahkan bertugas di Malinau, Kalimantan Utara.

Semakin kuat tekad untuk terus berubah menjadi lebih baik, dari sekian banyak kesalahan yang diperbuat dari yang ringan hingga kesalahan yang besar sampai mencoreng nama baik sendiri. Ada sebuah hadits yang saya hafal sejak kecil yang terus terngiang-ngiang hingga sekarang. Hadits itu artinya;

 “Semua perbuatan tergantung niatnya, dan (balasan) bagi tiap-tiap orang (tergantung) apa yang diniatkan; barangsiapa niat hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya adalah kepada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa niat hijrahnya karena dunia yang ingin digapainya atau karena seorang perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya adalah kepada apa dia diniatkan.” (Riwayat Imam Bukhari {52}).

Hingga saat ini saya masih bertugas di Malinau dan kerap berkeliling melaksanakan tugas khutbah dan ceramah di pedalaman. Saya juga dipercaya menjadi tenaga pengajar di sebuah SD di sana.

Mungkin setiap manusia tak luput berbuat salah, tapi saya yakin Allah pasti akan menerima mereka yang mau bertaubat seperti hadits Nabi yang berbunyi; “Setiap manusia pernah berbuat salah. Namun yang paling baik dari yang berbuat salah adalah yang mau bertaubat.” (Riwayat Tirmidzi no. 2499; Ibnu Majah, no. 4251; Ahmad, 3: 198. Syaikh Al-Albani mengatakan hadits ini hasan).

Pesan saya untuk para santri yang masih menempuh pendidikan di pesantren, terusaha belajar dengan giat, hormati para ustadz dan hargai setiap waktu selama belajar di pesantren. Karena setelah usai, masyarakat memanggil kita untuk mengamalkan apa yang pernah diajarkan.

Yang paling penting, jika pernah berbuat salah dan mungkin bahkan dikeluarkan dari pesantren, yakinlah mungkin itu cara Allah membuka dan mengetuk hati kita bertemu dengan hidayah.

 “Katakanlah, ‘Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Az Zumar: 53).

*Diceritakan oleh Rusdi dan ditulis oleh Ismail (Mahasiswa STAIL Surabaya Semester VII) kepada  Hidayatullah.com

 

Redaktur: Bambang S
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:keutamaan taubatsantri nakal tobatsantri tobattaubat nashuha
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Belasan Mayat Terbakar Ditemukan di Perbatasan Meksiko-AS
Tulisan selanjutnya Masya Allah, Pesantren Sidogiri Punya 201 Mini Market

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’

Berita
4 Juni 2026 08:06
‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis
Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan
Kapal Kargo Turki Diserang Drone di Laut Hitam

Terbaru

  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Mungkin Anda Juga Suka

Cermin

“Nak, Ustadzah Boleh Peluk?”

2 Juli 2022 09:40
Cermin

Cerita Almarhum Pendiri Hidayatullah Kepingin Berjumpa Ramadhan Tahun Ini…

17 Februari 2022 07:59
Cermin

Ketika Nikmat Shalat Berjamaah Itu Terhalangi, Begini Pengakuan Sang Dai…

3 Januari 2022 05:00
Cermin

Bantuan Allah itu Datang Tengah Malam Persis Sesuai yang Dibutuhkan

27 Desember 2021 15:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?