Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Pak Moel, Merenung Itu Perlu

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 13 Maret 2021 13:00 1:00 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 13 Maret 2021 13:00
Bagikan
Moeldoko
Bagikan

Oleh: Ady Amar 

Hidayatullah.com | Tampaknya tidak ada tokoh, pejabat negara atau politisi hari-hari ini yang namanya dibicarakan sebanyak dan seheboh Pak Moeldoko, Kepala Staf Kepresidenan (KSP).

Ini serius, bukan gurau, lho. Nama beliau banyak disebut bahkan dibanding Presiden Joko Widodo (Jokowi) sekalipun. Apalagi di medsos, Pak Moel benar-benar number one.

Pokoknya top markotop deh, meski dibicarakan dengan tidak baik, nama Pak Moel makin ngetop. Bisa gak ya nama yang terus menerus dibicarakan dengan tidak baik, itu lama kelamaan bisa tampak baik, tampaknya mustahil, ya? He-he-hee…

Pak Moeldoko dibicarakan dengan tidak baik, itu karena apa yang dilakukannya langkah yang buruk, grusa-grusu, di luar etika kepatutan… Apa yang diperbuat di Deli Serdang, 5 Maret yang lalu, itu dicatat sebagai sejarah buruk organisasi politik di Indonesia.

Baca Juga

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman
Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia
Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

Tampak sulit bisa dimengerti langkah yang diambil Pak Moel, itu ibarat orang masuk ke rumah orang lain, dan lalu mengusir semua penghuni rumah itu. Sambil teriak kencang, Ini rumahku!

Analogi di atas itu dibuat sesederhana mungkin, meski apa yang dilakukan dengan merebut partai politik pihak lain itu bukan masalah sederhana. Itu masalah demokrasi yang dirampas semaunya.

Demokrasi bukan seperti kata yang ditulis dalam secarik kertas, lalu kertas itu disobek-sobek sesukanya. Tentu tidak demikian. Langkah yang dilakukan Pak Moel itu, “menyobek-nyobek” nilai demokrasi dengan tanpa etika.

Memperlakukan partai politik pihak lain sesuka-suka, itu tentu tidak bisa dibenarkan. Mengambil paksa itu begal, namanya. Setidaknya itu yang dinarasikan pengurus Partai Demokrat (PD) hasil Kongres V, 2020, Jakarta.

Laku Pak Moel membegal Partai Demokrat AHY lewat KLB Deli Serdang, itu perbuatan tanpa nalar. Seperti anak yang mengambil gundu temannya, lalu membawanya lari, khas anak-anak.

Pak Moel, dalam hari-hari ini tidak tampak muncul sebagaimana sebelum peristiwa KLB Deli Serdang. Banyak yang mempertanyakan ke mana Pak Moel, tapi pastilah ia tetap ngantor di KSP.

Ketidakmunculan Pak Moel di hadapan publik, memang menimbulkan pertanyaan banyak pihak. Gerangan apa yang terjadi dengannya. Bisa  jadi ia suntuk dengan setumpuk pekerjaan rutinnya. Atau bisa jadi, ia sedang menunggu momen untuk tampil dengan berbagai amunisi yang akan disampaikan.

Mestinya Pak Moel tidak ngumpet terlalu lama, nyantai aja tampil sambil keluarkan jurus ngopi-ngopi khas Pak Moel itu. Terlalu lama meninggalkan pasukan itu tidak baik.

Pasukan hasil KLB itu tampak tidak terkoordinir,  menyemburkan pernyataan yang saling bertolak belakang. Yang satu bilang sudah menyerahkan hasil KLB pada Kemenkumham, yang lain menyatakan belum.

Kelamaan ditinggal komandan, pasukan KLB PD tampak kocar-kacir seperti anak itik kehilangan induknya. Maka tidak salah jika banyak yang menanyakan keberadaan Pak Moel, itu karena saking lamanya tidak muncul.

Merenung Itu Penting, Pak Moel

Berharap Pak Moel tetap sehat, dan tentu bisa berpikir sehat. Karenanya, jiwa dan raga sehat itu semestinya yang dimiliki semua orang. Tidak sekadar raga yang sehat, tapi jiwa justru yang sakit.

Jiwa sakit akan hadirkan laku yang tidak baik. Itu sudah kodrati. Maka jiwa raga mesti sehat seimbang. Bahkan jiwa sehat itu jauh lebih penting dari hanya sekadar raga yang sehat.

Pak Moel memang perlu merenung dengan suntuk. Merenung itu berbicara dengan hati. Dan itu mesti jujur. Jujur mencari sesuatu yang sempat hilang, dan itu mesti ditemukan.

Apa yang hilang itu, dan yang lalu mesti ditemukan? Tentu Pak Moel sendiri yang tahu, dan yang bisa menemukannya kembali. Maka, tolong jangan usik ia yang tengah khusyuk merenung itu.

Tapi tentu semua bisa melihat apa yang dilakukan Pak Moel dalam merebut PD, itu karena hilangnya integritas dan rasa malu. Di samping hal-hal lainnya, dan itu semua berkonotasi negatif. Bagaimana mungkin ia bisa melakukan laku demikian. Laku di luar nalar.

KLB itu sudah terjadi, dibicarakan saban waktu dengan negatif. Dibicarakan entah sampai kapan. Meninggalkan luka yang dalam bagi banyak pihak, terutama pihak PD, juga pada pribadi-pribadi yang pernah dekat dengannya, bahkan pernah membantu dan membesarkannya, dalam karir Pak Moel.

 

Terutama luka yang dalam pada nilai demokrasi yang dicabut sewenang-wenang atas nama kekuasaan. Itu luka yang sulit diobati, meninggalkan bekas, yang dikenang bagai monumen buruk selamanya.

Persoalan PD itu bukan sekadar persoalan sebuah partai politik, tapi persoalan nilai dan etika demokrasi yang sudah disepakati, dipilih dan dibangun, dan yang harus dijaga bersama pula. Maka mencederainya, semua pihak akan melawannya.

Jangan terus-teruskan melawan akal sehat dan nurani, hanya karena bersandar pada nafsu kekuasaan, lalu bersikap makin kencang dan brutal. Justru itu langkah keliru, dikenang buruk, dan jauh dari sikap ksatria.

Jika itu yang Pak Moeldoko pilih, semoga tidak demikian, itu justru akan menambah bukan saja luka, tapi juga bara perlawanan yang keras pula. Jangan seret persoalan PD menjadi persoalan dengan skala yang lebih luas.

Presiden Jokowi mestinya bersikap, tidak membiarkan seolah ini “pekerjaan” Moeldoko seorang. Mustahil ia berani melakukan tanpa setidaknya izin atasannya, dan itu Presiden.

Menjadi aneh jika melihat persoalan PD itu, Presiden Jokowi justru dengan happy-happy, bukannya prihatin? Sikap Presiden Jokowi yang absurd itu disampaikan Pak Mahfud MD, Menko Polhukam, dalam acara Mata Najwa.

Membiarkan ini membesar, pastilah akan menyeret persoalan bangsa menuju kehancuran. Sesal memang selalu datang di akhir, dan semuanya sudah terlambat. (*)

Kolumnis, tinggal di Surabaya

Baca Opini Ady Amar lainnya

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:KLB Partai DemoMoeldokoPartai Demokrat
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Pesan Muhaimin Iskandar kepada Anak Muda: Agama Tak Boleh Dipisahkan dari Negara
Tulisan selanjutnya Wasathiyyah Islam Din Din Syamsudin: UUD dan Pancasila Manifestasi Wasathiyyah Islam

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Global Sumud FLotilla
Berita

Prancis Minta Pelecehan Terhadap Aktivis Gaza Flotilla oleh Israel Diselidiki

Berita
30 Mei 2026 09:51
Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
Pengadilan Kenya Tolak Rencana Amerika Serikat untuk Mendirikan Fasilitas Karantina Ebola di Negaranya
Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal
Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Opini

Zohran Mamdani dan Paranoia Primitif di Jantung Amerika

11 November 2025 16:00
Opini

Ketika Bertanya Dianggap Bersalah: Membaca Logika Polisi atas Kasus Roy Suryo Cs

10 November 2025 10:19
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?