Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Ilahiyah Finance

A Necessary Evil Bernama Pasar…

Ahmad
Terakhir diupdate: 5 April 2011 09:03 9:03 am
Ahmad
Dipublikasikan 5 April 2011 09:03
Bagikan
Bagikan

Oleh: Muhaimin Iqbal

SALAH satu tempat yang paling dibenci oleh Allah di muka bumi ini adalah pasar. Hal ini sejalan dengan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Lokasi yang paling Allah cintai adalah masjid, dan Lokasi yang paling Allah benci adalah pasar.” (Shahih Muslim, 1076).

Tetapi sepintas mungkin nampak ironi bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bahkan juga mendirikan pasar bagi kaum muslimin. Mengapa demikian?

Inilah apa yang dalam istilah modern disebut a necessary evil, yaitu bisa jadi suatu hal itu banyak keburukannya – tetapi keberadaannya diperlukan. Justru di sinilah letak sempurnanya agama ini, bahkan untuk mengatasi atau mengelola tempat yang paling dibenci Allah pun ada tuntunannya.

Allah dan RasulNya tentu lebih mengetahui mengapa pasar menjadi tempat yang dibenci olehNya, tetapi bisa jadi ini karena di pasar pada umumnya banyak sekali penipuan, pengelabuhan, pengurangan timbangan, sumpah palsu, dan berbagai kecurangan lainnya.

Baca Juga

Indonesia Masuk Peringkat Dunia dalam Keuangan Syariah, Perlu Pembenahan Kurikulum Lebih Baik
Cashback yang di Tawarkan Go-pay dan OVO, Haramkah?
Industri Pertanian Zaman Nabi
Makanan Yang Membuat Tidak Miskin
Industry 0.0

Bila pasar diartikan sebagai tempat bertemunya penjual dan pembeli, maka ‘pasar’ yang paling dibenci Allah itu pun kini menjadi sangat luas cakupannya. Karena banyak sekali kebutuhan kita sekarang yang tidak lagi kita beli di ‘pasar’ dalam arti fisik. Kita bisa membeli kebutuhan kita atas barang atau jasa lewat internet, lewat kantor-kantor perusahaan penyedia barang dan jasa, atau bahkan salesmannya yang datang ke rumah-rumah kita untuk menjajakan produknya.

Lantas apakah tempat-tempat ‘jualan’ yang kini, termasuk kantor atau juga rumah-rumah yang dijadikan tempat usaha tersebut, juga menjadi tempat yang dibenci Allah?

Bisa jadi, bila di dalamnya dilakukan berbagai penipuan, kecurangan, dan lain sebagainya. Tetapi kita bisa belajar dari para sahabat beliau, yang tentu lebih paham makna dari hadits tersebut di atas dibandingkan dengan kita-kita di zaman ini.

Para sahabat beliau dari kaum Muhajirin, yang rata-rata aslinya memang pedagang di Makkah, tetap melakukan jual beli di pasar sampai akhir usianya, kecuali yang mendapatkan tugas-tugas khusus, seperti menjadi khalifah, gubernur, dan lain sebagainya. Bahkan sebagian sahabat ini pun dijamin masuk surga, seperti sahabat yang super kaya melalui kepandaiannya berdagang di pasar, yaitu Abdur Rahman Bin ‘Auf.

Jadi untuk selamat dari ‘tempat terburuk’ yang berupa pasar ini kita bisa belajar dari para sahabat dalam menyikapi hadits ‘peringatan’ seperti tersebut di atas.
Tidak serta merta kita jauhi pasar, karena bila ini yang dilakukan, maka pasar akan dikuasai kaum yang lain yang malah bisa merugikan umat secara keseluruhan.

Sebaliknya kita juga harus mencontoh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam mendirikan pasar ini bahwa umat ini harus memiliki pasarnya sendiri, sehingga bisa terbangun di dalamnya budaya jual beli yang syar’i dan mendatangkan berkah, dan terbebas dari ketergantungan terhadap pasarnya ‘yahudi’.

Begitu detilnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengajari umatnya untuk bisa memperoleh beribu-ribu kebaikan, terhapusnya beribu-ribu keburukan, dan terangkatnya kedudukan beribu-ribu derajat, bahkan bisa datang dari tempat yang dibenci oleh Allah sekalipun, yaitu pasar ini. Beliau pun mengajari kita untuk berdoa sebelum memasuki pasar melalui sabdanya:

“Barangsiapa yang memasuki pasar lalu mengucapkan; LAA ILAHA ILLAALLAH WAHDAHU LAA SYRIKALAH LAHUL MULKU WA LAHL HAMDU YUHYI WA YUMIT WA HUWA HAYYUN LAA YAMUT BIYADIHIL KHAIR WA HUWA ‘ALA KULLI SYAI`IN QADIR (Tidak ada tuhan yang haq kecuali Allah semata, tiada sekutu bagiNya, bagiNya kerajaan dan pujian. Dia Maha Menghidupkan dan Maha Mematikan, Dia Hidup dan tidak mati, seluruh kebaikan ada di TanganNya, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu). Maka Allah akan mencatat beribu-ribu kebaikan untuknya, menghapus beribu-ribu keburukan darinya dan mengangkat kedudukannya beribu-beribu derajat.” Ketika aku tiba di Khurasan dan bertemu dengan Qutaibah bin Muslim, aku berkata; Aku datang kepadamu membawa sebuah hadiah, lalu aku menceritakan hadits itu kepadanya. Ia pun segera mengendarai tungganganya dan menuju ke pasar. Ia berdiri dan membacanya, kemudian kembali pulang.” (Sunan Darimi, Hadits no 2576).

Hadits ini menginspirasi saya bahwa suatu saat kelak ketika Bazaar Madinah telah meluas dan ada di mana-mana, di pintu-pintunya ada tulisan besar yang isinya do’a untuk memasuki pasar tersebut. Dengan demikian beribu-ribu orang akan memperoleh “ …beribu-ribu kebaikan untuknya, menghapus beribu-ribu keburukan darinya, dan mengangkat kedudukannya beribu-beribu derajat…”

Bila di pasar saja orang bisa memperoleh kebaikan, tentu di tempat yang paling Allah cintai – di masjid– akan lebih banyak lagi kebaikannya. Maka mengikuti yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pula, pasar atau bazaar-bazaar yang kita dirikan nantinya tidak terlalu jauh dari masjid agar orang tidak lalai dengan jual beli atau perniagaannya, dan tidak terlalu dekat pula agar keramaian atau kebisingan pasar tidak mengganggu aktifitas masjid.

Bazaar Madinah yang pertama kami dirikan berada dalam radius beberapa ratus meter dari 3 masjid dan dua surau sekaligus, dengan demikian kami berharap para lelaki (rijal) yang beraktivitas di dalamnya masuk kategori “laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi guncang.” Amin.(QS 24:37).*

Penulis adalah Direktur Geraidinar. Kolumnis hidayatullah.com

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Aktor Israel Pembela Palestina Ditembak Mati Orang Bertopeng
Tulisan selanjutnya Ring 1 Pemondokan Haji Capai 81,36 Persen

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Hukuman Mati In Absentia Bagi Pemimpin RSF Mohamed Hamdan Daglo

Berita
15 Juli 2026 09:27
Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
Pakistan Jadi Tuan Rumah Konferensi Menteri Perempuan OKI, Bahas Sosial Ekonomi dan Politik
MPR Singgung LGBT di Muswil BKPRMI DKI Jakarta, Ajak Pemuda Masjid Selamatkan Generasi Muda

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Ilahiyah Finance

Probiotic Food dan Prophetic Food

17 Juni 2020 08:00
Ilahiyah Finance

Syirkah “Orang-Orang Miskin”

11 Februari 2019 20:49
Hamas bitcoin
Ilahiyah Finance

Halal Haram Uang Kripto

11 Desember 2018 08:15
Ilahiyah Finance

Golden Balance: Financing the Needy

15 Agustus 2018 13:21
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?