Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Jurnalis Aljazeera yang Dipenjara di Mesir Peroleh Penghargaan

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 5 Mei 2014 21:29 9:29 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 5 Mei 2014 21:29
Bagikan
Aljazeera juga mendesak pemerintah Mesir untuk memanfaatkan Hari Kebebasan Pers Dunia untuk membebaskan para wartawanny
Bagikan

Hidayatullah.com–Muhamad Fahmy, warganegara Kanada dan Mesir, salah satu dari empat jurnalis Aljazeera di penjara Mesir, telah menerima “Press Freedom Award”

Fahmy menerima penghargaan sebelum sesi ketujuh sidang pada Sabtu pekan lalu atas kontribusinya terhadap dunia pers.

Dia dinilai berjasa dalam mempromosikan World Press Freedom Day yang diprakarsai UNESCO dan diperingati setiap 3 Mei.

Komite Kanada untuk Kebebasan Pers Dunia telah menominasikan mantan wartawan CNN itu  untuk menerima “Press Freedom Award” sebagai pengakuan atas perjuangannya demi kebebasan berbicara sejak ditahan bersama dua rekannya di akhir Desember tahun lalu.

Kepala biro Aljazeera siaran Bahasa Inggris di Kairo  itu telah menyumbangkan uang hadiah itu sejumlah C$2,000 (£1,100) kepada keluarga seorang wartawan Mesir, Mayada Ashraf, yang ditembak mati dalam keadaan yang tidak dapat dijelaskan pada saat terjadi demonstasi bulan lalu.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Aljazeera telah memperoleh surat yang ia tulis dengan tangan yang diselundupkan keluar dari penjara Tora. Di dalam suratnya, ia mengucapkan terima kasih kepada hakim yang mengadilinya atas penghargaan yang diterimanya itu dan kepada semua orang yang telah berkampanye demi pembebasannya.

Fahmy menulis, tuduhan terhadap mereka tidak masuk akal. Dia menyatakan sekadar melakukan tugas yang ia cintai.

“Bagian penting dari pembelaan kami adalah meyakinkan hakim akan integritas profesional kami, untuk membuktikan kepadanya bahwa kami adalah wartawan yang berjuang demi kebenaran, dan bukan agen teror,” ujarnya dikutip Aljazeera.

“Untuk membungkam saya dan rekan-rekan saya dengan dalih kami adalah ancaman bagi keamanan nasional dan anggota sebuah organisasi teroris. Ini adalah pelecehan  bagi kecerdasan rakyat Mesir dan bagi demokrasi yang dipromosikan dalam konstitusi yang baru disahkan,” lanjutnya.

Menanggapi pertanyaan tentang apakah benar-benar terjadi aksi mogok makan di penjara Tora, Fahmy menulis, “puluhan tahanan yang melakukan aksi mogok makan yang bisa mengancam jiwa mereka adalah orang-orang terhormat yang tidak memiliki cara lain untuk mengekspos perlakuan buruk yang mereka terima dalam penjara.”

Fahmy menyebut penahanan Al-Shamy, koresponden Aljazeera Arab, yang melakukan aksi mogok makan sejak 21 Januari, yang telah ditahan selama hampir sembilan bulan tanpa pengadilan sebagai pelanggaran HAM.

Dia bersama dengan staf Aljazeera lainnya, Peter Greste – warga negara Australia mantan wartawan BBC – dan Baher Muhamad, produser lokal, menghadapi tuduhan mencoreng nama baik Mesir, menyebarkan berita palsu dan menjadi anggota atau membantu Al Ikhwan al Muslimun, kelompok Islam yang telah ditetapkan sebagai “kelompok teroris” oleh pemerintah saat ini.

Hingga di Hari Kebebasan Pers Dunia itu, Peter Greste, Baher Muhamad, dan Muhamad Fahmy telah dipenjara selama 126 hari. Al-Shamy telah dipenjara selama sembilan bulan dan aksi mogok makannya telah memasuki hari ke-103.

Dalam sidang hari Sabtu itu yang bertepatan dengan Hari Kebebasan Pers Dunia, sang hakim mencoba memberikan ucapan selamat  Hari Kebebasan Pers Dunia kepada mereka bertiga, tapi kemudian menolak jaminan yang mereka ajukan. Setelah mendengar keterangan singkat dari mereka, hakim menunda pengadilan hingga 15 Mei.

Di pengadilan itu, Al-Shamy juga muncul dalam keadaan lemah bersama dengan puluhan tahanan demonstran pendukung Mursi.  Dia berteriak kepada wartawan, ia telah kehilangan berat badan 35 kg dan otoritas penjara masih menolak memberinya bantuan medis, bahkan tidak mengakui aksi mogok makannya.

Sementara itu, Aljazeera menolak semua tuduhan atas para stafnya itu.

Al-Anstey, Direktur Aljazeera edisi English mengatakan seperti dikutip Aljazeera English mengatakan,  “Muhamad Fahmy, Baher Muhamad, dan Peter Greste kini telah berada di balik jeruji di Mesir selama 100 hari hanya karena melakukan pekerjaan mereka, dan untuk melaksanakan jurnalisme kualitas tingkat tinggi.”

“Tuduhan atas mereka adalah palsu dan tidak berdasar, sehingga tidak ada pembenaran apa pun atas penahanan para wartawan yang tak bersalah itu dalam jangka waktu yang keterlaluan. Kami terus menyerukan agar mereka segera dibebaskan termasuk rekan kami dari Aljazeera Arab, Abdullah Al-Shamy, yang telah di berada balik jeruji selama 236 hari,” lanjutnya.

Aljazeera juga mendesak pemerintah Mesir untuk memanfaatkan Hari Kebebasan Pers Dunia untuk membebaskan para wartawannya.*

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:AljazeeradipenjarajurnalisMesir
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Korban MERS-CoV Capai 115 Orang, Disarankan Tidak Minum Susu Unta
Tulisan selanjutnya BMH Pecahkan Rekor Bantuan Fasilitas Sekolah Terbanyak dan Serentak Se Indonesia

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat

Berita
5 Juni 2026 06:00
Prancis Minta Pelecehan Terhadap Aktivis Gaza Flotilla oleh Israel Diselidiki
Irlandia Bakal Larang Impor dari Permukiman ‘Israel’ Mulai Pertengahan Juli
Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB

Terbaru

  • Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?