Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Catatan Akhir Pekan

Benarkah Masalah Utama Kita adalah Kekuasaan?

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 7 Agustus 2021 13:09 1:09 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 7 Agustus 2021 13:09
Bagikan
Jatimtimes
Bagikan

Oleh: Dr. Adian Husaini

Hidayatullah.com | BEBERAPA  kali saya menerima kiriman pesan – baik perorangan atau dalam group media sosial —  tentang perlunya umat Islam bisa memegang kekuasaan negara. Dengan itu, maka umat Islam akan bisa berbuat banyak untuk melakukan berbagai kebaikan  dan memberantas kemunkaran atau kemaksiyatan.

Apakah benar, bahwa kekuasaan itu sangat penting dan menjadi kunci kebangkitan umat? Jawabnya: tentu saja hal itu ada benarnya. Tetapi, juga dengan catatan. Bahwa yang memegang kekuasaan itu haruslah orang-orang yang amanah dan ‘capable’ (profesional).

Kekuasaan ibarat pisau bermata dua. Ia bisa membangun dan bisa juga merusak. Semakin besar kekuasaan yang dipegang seseorang, maka semakin besar pula daya bangun dan daya rusaknya. Tergantung, siapa yang memegang kekuasaan.

Seorang khalifah/raja/kaisar yang baik, dengan kekuasaan besar, akan mudah melakukan berbagai kebaikan. Sebab, kekuasaan berada di satu tangan, dan tidak terbagi-bagi. Karena itu, sistem kekaisaran, kerajaan, atau kekhalifahan, akan dengan cepat melakukan perbaikan, jika pemimpinnya itu mumpuni. Tetapi, hal sebaliknya juga bisa terjadi. Jika raja/khalifah/kaisar itu “tidak bermutu”, maka akan cepat pula kehancuran negaranya.

Baca Juga

Hiruk Pikuk Urusan Pilpres, Jangan Lupakan 5 Adab Bernegara
Selamat, Prof. KH Hamid F Zarkasyi jadi Tokoh Perbukuan Islam
Catatan Akhir Pekan: Jangan Lupakan dan Jangan Hancurkan Peradaban Melayu yang Agung
Jatuh Bangunnya Peradaban
Beginilah Berpolitik yang Cerdas

Karena itu, upaya banyak kalangan umat Islam untuk berjuang di jalur politik praktis – dengan membentuk partai-partai politik – adalah satu bidang perjuangan yang penting. Jelas, tujuan perjuangan di bidang politik memang untuk meraih kekuasaan, agar dapat digunakan untuk menegakkan kebaikan dan kebenaran, dan meruntuhkan kemunkaran.

Akan tetapi, perlu direnungkan masak-masak, bahwa kunci utama kesuksesan dalam semua bidang perjuangan – politik, ekonomi, pendidikan, media, budaya, dan sebagainya – adalah kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Orang-orang yang terjun dalam perjuangan di bidang politik harus benar-benar memiliki kualitas iman, akhlak, ilmu dan ketrampilan berpolitik yang tinggi. Sebab, tantangan dan godaan dalam bidang politik ini sangatlah besar.

Jadi, sebelum membentuk partai politik, maka hal yang paling utama disiapkan adalah SDM-SDM-nya. Orang-orang yang mendirikan dan aktif di partai politik Islam haruslah orang-orang yang memiliki keimanan yang kokoh dan akhlak yang mulia. Misalnya, mereka harus terjauh dari sikap cinta dunia, termasuk cinta jabatan. Sebab, cinta dunia adalah pangkal segala kerusakan (Hubbud-dunya ra’su kulli khathi’atin).

                                      ***

Jadi, itulah akar masalah kita. Yakni, kualitas SDM yang terjun dalam berbagai bidang perjuangan, baik bidang politik atau yang lainnya. Bikin partai politik, problem utamanya adalah kualitas SDM; bikin sekolah atau kampus Islam, masalah utamanya juga kualitas SDM-nya; bikin Rumah Sakit Islam, problem utamanya pun terletak pada kualitas SDM; bikin media Islam juga berhadapan dengan masalah SDM.

Nah, jika bicara tentang kualitas SDM, maka ini adalah ranah pendidikan! Maka, lagi-lagi, inilah yang pernah diingatkan oleh Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas, bahwa akar masalah umat Islam adalah “loss of adab” (hilang adab). Jika adab hilang dari penguasa pada tingkatan apa saja – mulai keluarga, RT, RW, Kelurahan, Kecamatan, Kabupaten, dan seterusnya – maka kekuasaan yang dipegangnya tidak akan dapat digunakan untuk kebaikan secara optimal. Bahkan, bisa jadi, penguasa itu akan membuat kebijakan yang merusak.

Jadi, “hilang adab” alias tidak beradab, itulah kata kunci dari akar seluruh krisis yang melanda umat dan dunia Islam zaman kini. Karena itu, menurut Prof. al-Attas, jika umat Islam ingin bangkit dan terbebas dari berbagai krisis yang membelit mereka, pahamilah adab dan didiklah umat ini agar mereka menjadi manusia-manusia yang beradab.

Manusia-manusia beradab (insan adaby) inilah sosok-sosok manusia yang unggul yang memiliki kemampuan untuk menjadi pemimpi-pemimpin yang sebenarnya (true leaders). Mereka akan mampu menjadi pemimpin (imam) di bidang politik, pendidikan, ekonomi, media, sosial, kesehatan, dan sebagainya.

Inilah yang juga sudah diingatkan banyak ulama, termasuk KH Hasyim Asy’ari, sebagaimana disebutkan dalam kitabnya, kitab Adab Alim wal Muta’allim, bahwa: “Tauhid mewajibkan wujudnya iman; barangsiapa tidak beriman, maka dia tidak bertauhid; dan iman mewajibkan syariat, maka barangsiapa yang tidak ada syariat padanya, maka dia tidak memiliki iman dan tidak bertauhid; dan syariat mewajibkan adanya adab; maka barangsiapa yang tidak beradab maka tiada syariat, tiada iman, dan tiada tauhid padanya.”

Dalam bukunya, Tinjauan Ringkas Peri Ilmu dan Pandangan Alam, (Pulau Pinang: USM, 2007), Prof. al-Attas menjelaskan, bahwa hakekat pendidikan adalah penyerapan adab ke dalam diri seseorang. Sedangkan adab adalah perwujudan keadilan sebagaimana dipancarkan oleh hikmah.”

Ringkasnya, krisis yang melanda dan masih mencengkeram umat Islam adalah akibat muslim hilang adab. Adab hilang karena ilmu yang salah, sehingga hikmah tiada didapatnya. Solusinya adalah pendidikan yang benar!  Pendidikan yang menekankan “penyerapan adab ke dalam diri”. Itulah proses membentuk manusia beradab.

Jadi, tidak perlu mempertentangankan antara perjuangan di bidang dakwah, pendidikan, ekonomi, kesehatan, dan sebagainya. Semua bidang perjuangan itu harus dipimpin oleh orang-orang yang beradab. Dengan adab itulah, seorang akan terhindar dari perilaku zalim. Yakni, ia terhindar dari melakukan atau menempatkan sesuatu yang tidak pada tempatnya.

Seoang penguasa yang beradab tidak akan membiarkan berlakunya sistem pendidikan yang meluluskan anak-anak muslim yang sudah akil baligh, tetapi tidak bisa shalat dan membaca al-Quran dengan benar. Rektor kampus yang beradab tidak akan meluluskan mahasiswanya yang bejat akhlaknya, meskipun sangat tinggi nilai-nilai ujiannya.

Penguasa yang beradab tidak akan mau menggunakan anggaran negaranya untuk kemewahan hidupnya, sementara banyak rakyatnya yang dicekam kelaparan dan kesusahan hidup. Pun, ia tidak akan bangga menggunakan anggaran negara untuk mendukung kemaksiatan.

Jadi, umat Islam memang memerlukan kekuasaan untuk bisa menegakkan kebenaran dan mewujudkan kehidupan masyarakat yang adil dan makmur. Bukan sekedar berkuasa untuk berbangga-bangga dan ingin dihormati di sana-sini.

Ini penting dipikirkan, dan terus direnungkan! Meraih kekuasaan itu hal penting. Tetapi, sekali lagi, kekuasaan akan berdampak baik jika dipegang orang-orang yang baik pula. Karena itu, menjalankan proses pendidikan untuk membentuk manusia-manusia unggul (manusia beradab/insan adaby), adalah hal yang lebih penting lagi!

Manusia-manusia terbaik (khairun naas) itulah yang pernah dihasilkan oleh Pendidikan Rasulullah ﷺ. Manusia-manusia terbaik itu tak akan muncul lagi,  jika konsep pendidikan dalam Islam tak dipahami dan tidak diterapkan. Wallahu a’lam bish-shawab. (Depok, 6 Agustus 2021).*

Penulis pengasuh PP Attaqwa College (ATCO), Depok Jawa Barat

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:adabkekuasaanlose of adabpolitik
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Masjid Ar Riyadh Pesantren Hidayatullah Kampus Ber-Qur’an Itu Bernama Hidayatullah
Tulisan selanjutnya Husnudzon dan Hikmah Berbaik Sangka

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Iran Persiapkan Upacara Pemakaman Besar untuk Ayatullah Ali Khamenei

Berita
30 Mei 2026 10:11
‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
Warga Yunani Didakwa Membantu Iran untuk Menarget Jurnalis di Inggris
Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Catatan Akhir Pekan

Peringatan Penting Ulama India

26 Desember 2022 14:45
Catatan Akhir Pekan

Teokrasi dan Demokrasi

17 Desember 2022 17:10
Catatan Akhir Pekan

Beginilah Terjadinya Liberalisasi Politik

5 Desember 2022 11:45
Catatan Akhir Pekan

Menjaga Pikiran di Era Kebohongan

26 November 2022 14:10
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?