Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Nasional

Dr. Syamsuddin Arif: Orientalis Tak Pernah Lepas dari Kepentingan

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 17 Oktober 2021 13:58 1:58 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 17 Oktober 2021 13:31
Bagikan
Dr. Syamsuddin Arif
Bagikan

Hidayatullah.com—Hidayatullah.com—Peneliti Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS) Dr. Syamsuddin Arif menyampaikan bahwa orientalis, dari dulu hingga sekarang, tak pernah lepas dari kepentingan. Dia juga menyebut orientalis sebagai salah satu pintu masuk pemikiran liberal di kalangan muslim, termasuk di Indonesia.

“Orientalis tidak terlepas dari kepentingan. Saat ini, kepentingannya kebanyakan adalah intelejen atau misi internasional,” ungkap Dr. Syamsuddin dalam Workshop Tantangan Liberalisasi  dalam tema “Orientalisme Sebagai Akar Liberalisme di Indonesia” pada Ahad (17/10/2021).

Dalam acara ini  Syamsuddin menjelaskan beberapa faktor utama kerusakan pemikiran saat ini. Di antaranya adalah serbuan pemikiran Barat, kekeliruan dan kebingungan, hilangnya adab, serta munculnya pemimpin-pemimpin palsu.

Semua itu menurut peneliti Insist tersebut, merupakan lingkaran setan yang berkesinambungan dan saling terkait. Namun, dalam pembahasan kali ini, Syamsuddin memfokuskan pembahasan pada orientalis sebagai salah satu jalur masuknya pemikiran barat selain kolonial dan misionaris.

Berawal dari Gerakan Penerjemahan

Baca Juga

Lukmanul Hakim MUI wafat
KH Dr. Lukmanul Hakim, Pejuang Ekonomi Umat yang Berpulang
Layanan SIHALAL Bermasalah, ALPHI Minta Dikembalikan Ke Sistem Lama
LPPOM Bersama ALPHI Kupas Tuntas Tarif dan Waktu Proses Sertifikasi Halal
PAD Kota Depok Meningkat Tanpa Iklan Rokok
Pembukaan Silatnas 2023, Pj Gubernur Kaltim Puji Kiprah Dai – Daiyah Hidayatullah

Syamsuddin menjelaskan bahwa yang disebut orientalis adalah mereka yang merupakan sarjana / ahli ketimuran, termasuk ke-Islaman. Lebih spesifik, mereka mempelajari peradaban Timur, termasuk bahasa, literasi, sejarah dan agama. Dan kebanyakan mereka adalah Yahudi dan Kristen.

Orientalis, menurut  Syamsuddin, berbeda dengan orientalisme. Ia memaparkan bahwa orientalisme adalah sekumpulan ide dan asumsi yang mendasari pembelajaran ketimuran (orient) oleh para sarjana Barat.

“Oleh karenanya, orientalisme merupakan kerangka berpikir,” ungkapnya.

Ketertarikan Barat untuk mempelajari Islam dan Timur, ujar  Syamsuddin, telah dimulai sejak abad ke-11 yang dipicu oleh interaksi Muslim-Kristen semasa perang Salib. Dan hal ini, ungkapnya, dimulai dengan gerakan penerjemahan dimana banyak karya tulis berbahasa Arab diterjemahkan ke bahasa Latin.

Gerakan orientalisme utamanya terjadi di Italia dan Spanyol, tapi juga menyebar di Prancis, Inggris, dan Jerman.  “Dari banyak usaha tersebut, sedikit sekali yang obyektif. Kebanyakan sarat kepentingan,” ungkapnya.

Dampak Orientalisme

Pada periode modern invasi Napoloen ke Mesir merupakan slah satu peristiwa yang memunculkan gelombang orientalis. Mereka berbondong-bondong memepelajari bahasa, budaya, dan agama masyarakat Mesir, yang kebanyakan adalah Muslim.

Ia mengungkap bahawa sejak dulu hingga kini, agenda orientalis selalu persisten dengan kepentingan mereka. Dulu, ia berujar, kepentingan orientalis sejalan dengan kolonial dan, misionaris, dan kini dengan liberalime maupun kerusakan pemikiran lainnya.

Cara bermain orientalis, ungkap  Syamsuddin, di antaranya adalah dengan seolah merepresentasikan Islam / Timur, padahal merupakan misrepresentasi. Dan hal itu diakui oleh salah satu orientalis sendiri, Patricia Crone dalam bukunya Hagarism, The Making of Islamic World, bahwa tulisannya adalah “dari infidel (kafir) untuk infidel”.

Syamsuddin mengutip ungkapan Roger DuPasquier bahwa “studi oleh Barat selalu menunjukkan satu hal: ‘sikap anti-Islam para pengarangnya’. Lulusan International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC) itu juga menyoroti sarjana Muslim lulusan Barat yang kemudian juga terpengaruh oleh orientalis, meski terdapat juga pengecualian.

Dampak dari mengadopsi studi orientalis mentah-mentah, ujarnya adalah kebingungan, kerusakan, hilangnya adab, dan pengetahuan palsu. Dia pun menyebutkan berbagai kasus yang melibatkan dosen di banyak universitas di Indonesia yang rusak pemikirannya terhadap Islam.

Mengakhiri pembahasanya, alumni Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo ini mengingatkan agar kaum Muslim memperhatikan kepada siapa ia belajar. Terutama saat berkaitan dengan agamanya, yakni Islam.*

 

 

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Gazwul FikriliberalismeorientalisorientalismeSyamsuddin Arif
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Tokoh Sekuler Turki Kemal Ataturk akan Jadi Nama Jalan di Jakarta, Tuai Penolakan
Tulisan selanjutnya Media Barat Soroti Suara Azan, Kemenag Tegaskan Aturan Panggilan Shalat Masih Relevan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Kapal Kargo Turki Diserang Drone di Laut Hitam

Berita
30 Mei 2026 13:38
Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi
Malaysia Resmi Batasi Media Sosial Anak, Siapkan Denda Rp45 Miliar bagi Pelanggar
Warga Yunani Didakwa Membantu Iran untuk Menarget Jurnalis di Inggris
Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

BeritaBerita dari AndaNasional

Workshop Tenun dan Tudung Manto untuk Santri dan Masyarakat Lingga

6 November 2023 08:51
BeritaLensaNasional

Investasi LM Antam untuk Pendidikan Anak

13 September 2023 11:00
BeritaLensaNasional

[Foto] Belajar Gosok Gigi yang Benar

29 Juli 2023 07:00
BeritaNasional

Dukung Kegiatan PFI, Eri Cahyadi Tawarkan untuk Pameran Foto Berikutnya

14 Mei 2023 07:35
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?