Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Tsaqafah

Perihal Tafwidh, Ta’wil, Itsbat dalam Akidah Apa Perlu Dipertentangkan?

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 22 Oktober 2021 16:24 4:24 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 22 Oktober 2021 09:00
Bagikan
akidah
Bagikan

Hidayatullah.com | PADA tanggal 3 November 2008, di toko buku Fakultas Ushuluddin Al-Azhar, ada buku Dr. Muhammad Sayyid Ahmad Al-Musayyar (1948-2008), yang cukup menyita perhatian saya dan kemudian dibeli dengan harga 24 pound. Judulnya: “al-Ilāhiyyāt fī al-‘Aqīdah al-Islāmiyyah” yang terbit pada tahun 2006.

Beliau termasuk dosen favorit di Fakultas Ushuluddin. Buku ini membahas seputar masalah ketuhanan dalam akidah Islamiyah. Sudah menjadi kebiasaan saya, saat melihat-lihat buku, hal pertama yang dilakukan adalah membaca pengantar, pendahuluan dan daftar isi buku.

Dalam proses pembacaan singkat itu, saya amat tertarik ketika membaca pembahasan masalah pemahaman sifat ketuhanan dalam akidah (hal. 154-175) yang menerangkan bahwa dalam memahami teks-teks terkait sifat Allah seperti: wajh, yad, ‘ain dan lain-lain, setidaknya ada empat arus pemahaman dalam tubuh umat Islam: Pertama, tafwidh. Kedua, tasybih. Ketiga, ta’wil. Keempat, itsbat bidh-dhawabit.

Untuk memudahkan pemahaman keempat arus pemahaman ini, pada halaman 168, Dr. Musayyar memberikan contoh konkret dari firman Allah:

يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ

Baca Juga

Buya Hamka
Buya Hamka: Hari Raya sebagai Cermin Kekuatan Batin Bangsa
Salaf Saleh dan Tafsir Kata Ulil Amri
Ulama Sufi dan Islam Nusantara
Amalan di Bulan Muharram yang Dapat Kita Lakukan
Pengaruh Freemason dalam Wacana Pluralisme Agama (2)

“Yad Allah di atas tangan-tangan mereka.” (QS: Al-Fath [48]: 10) (Dalam terjemahan Depag diartikan: “Tangan Allah di atas tangan mereka.’)

Berdasarkan ayat ini, bagi yang berpandangan tafwidh (menyerahkan ke Allah), maka maknanya Allah lebih tahu maksudnya. Golongan ini tidak menetapkan atau menafikan Allah punya tangan, demikian juga tidak mengatakan bahwa kata “yad” yang disandarkan ke Allah itu hakikat ata majaz (kiasan).

Sedangkan yang tasybīh / musyabbihah (yang menyerupakan) memaknai ayat ini sesuai dengan hakikat bahasa bahwa Allah punya tangan seperti tangan kita karena menurut bahasa pengertiannya sudah jelas karena makna tangan yang dipahami secara bahasa adalah tangan manusia.

Adapun yang ta’wīl / mua`wwilah, memahami bahwa kata “yad” adalah majaz (kiasan) bukan makna hakikatnya. Maksud “yad” di sini adalah kuasa atau kekuasaan. Kalau dipakai pada hakikatnya, maka akan mengurangi sifat ketuhanan yaitu adanya penyerupaan dengan makhluk, padahal Allah disucikan dari berbagai penyerupaan dengan makhluk-Nya.

Sementara yang itsbāt /mutsabbitah, berpandangan bahwa berdasarkan ayat ini Allah memiliki “yad” (tangan), tanpa tafwidh, artinya tidak mengatakan hanya Allah yang tahu.

Golongan ini juga tidak menerima tasybīh, artinya menolak pandangan yang menyatakan Allah punya tangan seperti makhluk. Demikian juga menolak ta`wīl yang berpandangan bahwa tangan yang dimaksud adalah kekuasaan.

Fitnah Akidah, Sebuah Fenomena Tahunan

Menariknya, setelah menyebutkan berbagai macam pemahaman itu, al-marhum Dr. Musayyar berusaha mencari titik temu dan berpendapat bahwa tidak masalah bagi yang memegang pendapat nomer 1, 3 dan 4 (Tafwīdh, Ta’wīl, Itsbāt). Sedangkan tasybīh, terang-terangan ditolak karena mengurangi kesempurnaan Allah.

Kata beliau, yang tafwidh itu berarti taslim, menyerahkan pada teks ayat, tak mau masuk lebih dalam karena itu di luar jangkauan akal. Sedangkan yang ta’wil, bukan berarti ta’thil (mengaggapnya tak bermakna).

Pada dasarnya, orang yang memilih ta`wil pun juga mengenal kemulian dan kesempurnaan Allah. Sementara yang memilih itsbāt, menurut beliau, ini termasuk bagian dari ta’wil. Mengapa? Kalau mereka mengatakan : “Kami menetapkan apa yang ditetapkan Allah tanpa “tasybih” (penyerupaan), maka ini bagian dari majaz (kiasan). Karena apa? Memalingkan lafazh dari zahir makna secara bahasa menurut ilmu bahasa Arab adalah majaz atau ta`wil. Dalam pengertian bahasa, yang dimaksud yad adalah tangan manusia. Jadi, kalau mereka menetapkan Allah punya tangan tapi bukan tangan seperti manusia, maka otomatis mereka menggunakan majaz/ta`wil.

Setelah menjelaskan masalah ini, di akhir pembahasan beliau memberikan pernyataan yang cukup mendinginkan. Beliau mengajak untuk mencari titik temu antar ketiga pandangan yang bisa dipakai tadi (tawfidz, ta’wil dan itsbat). Kemudian beliau juga menandaskan, “Kami berharap (antar golongan) tidak mengeluarkan vonis fasik, bid’ah terhadap ketiga kelompok tadi,” katanya.

Dr. Muhammad Musayyar dilahirkan pada tahun 1948. Beliau lahir dalam rahim pendidikan Al-Azhar. Bapaknya Dr. Sayyid Ahmad Musayyar (1907-1975), kakek dan paman-pamanya adalah ulama besar Al-Azhar dan rata-rata jadi dosen dalam berbagai universitas.

Dr Muyassyar telah menghafal al-Qur`an sejak usia di tangan ibunya. Beliau wafat pada 2 November 2008, pada usia 60 tahun. Beliau guru besar akidah filsafat di Al-Azhar.

Beliau pernah menjadi dosen di Universitas Ummul Quro tahun 1993-1998. Beliau aktif mengisi siaran dakwah di berbagai radio dan tv. Di antara karya tulisnya: ar-Ruh fii Diraasaat al-Mutakallimiin wa al-Falaasifah, asy-Syafa’ah fil Islaam, Ushuulu an-Nashraaniyyah fi al-Mizaan, Qadhiyyatut Takfiir fii al-Fikri al-Islaamy dan lain-lain.*/Mahmud Budi Setiawan

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:akidahsifat Allahtekstual
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya kisah sahabat nabi Kisah Sahabat Nabi yang Jari-jarinya Memancarkan Cahaya
Tulisan selanjutnya mustafa kemal ataturk Polemik Sengit A. Hassan dan Natsir dengan Soekarno Soal Kemal Ataturk

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

SPI Himpun Lembaga Dakwah Perkuat Bela Palestina

Berita
20 Juli 2026 17:00
Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
Croissant Viral Bergaya Vulgar Tak Penuhi Syarat Sertifikasi Halal, Ini Penjelasan MUI
Belgia Resmi Larang Impor Barang dari Permukiman Ilegal ‘Israel’

Terbaru

  • SPI Himpun Lembaga Dakwah Perkuat Bela Palestina
  • Belgia Resmi Larang Impor Barang dari Permukiman Ilegal ‘Israel’
  • Obituari: Zeyd Baktir, Penggerak Sunyi di Jalan Dakwah
  • Masjid Jadi Sasaran, Pemukim ‘Israel’ Lanjutkan Aksi Pembakaran di Tepi Barat
  • Fasilitas Kesehatan Belum Pulih, Cacar Air Mewabah di Gaza
  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait

Mungkin Anda Juga Suka

ArtikelTsaqafah

Pengaruh Freemason dalam Wacana Pluralisme Agama (1)

5 Januari 2023 13:30
Tsaqafah

Ijtihad sebagai Solusi Persoalan Umat

29 Desember 2022 19:00
Tsaqafah

Bahaya Sekularisasi dan Sekularisme

26 Desember 2022 13:45
Tsaqafah

Loss of Adab, Kebingungan Ilmu dan Pemimpin Palsu

18 Desember 2022 18:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?