Hidayatullah.com–Amerika Serikat dan seorang pejabat PBB Selasa (20/5/2014) secara terpisah menyerukan penyelidikan segera atas kematian dua pemuda Palestina yang ditembak pekan lalu oleh polisi perbatasan Zionis Israel di Tepi Barat.
Para pemuda itu ditembak mati hari Kamis saat polisi Zionis Israel mengawasi demonstrasi menandai ulang tahun ke-66 Nakbah –atau Bencana—atas berdirinya negara Zionis Israel.
Kelompok Pembela Anak-anak Internasional – Palestina telah merilis rekaman gambar yang menunjukkan kematian tak beralasan dari Musaab Nuwarah (20) dan Mohammed Udeh (17). Seperti biasa Zionis Israel menolak rekaman tersebut dengan mengatakan, hal itu palsu.
Juru bicara Departemen Luar Negeri Amerika Serikat Jen Psaki mengatakan, Amerika Serikat telah melakukan kontak dengan pemerintah Israel.
“Kami sangat mengikuti insiden ini dan rekaman video tersebut. Kami sedang mencari informasi tambahan dari pemerintah Israel,” katanya di Washington.
“Kami mengharapkan pemerintah Israel melakukan investigasi cepat dan transparan untuk menentukan fakta-fakta seputar insiden ini, termasuk apakah telah digunakan tindakan keras yang memang sebanding dengan ancaman yang ditimbulkan oleh para demonstran.”
Dia menambahkan: “Kami mendorong pemerintah Israel melakukan investigasi mereka sendiri.”
Asisten Sekjen PBB untuk urusan politik, Oscar Fernandez-Taranco juga mendesak dilakukan penyelidikan.
“Ini menimbulkan kekhawatiran serius, berdasarkan informasi awal menunjukkan dua warga Palestina yang tewas tersebut tidak bersenjata dan tampaknya tidak menimbulkan ancaman langsung,” kata Fernandez-Taranco, seperti diberitakan AFP.
“PBB menyerukan penyelidikan independen dan transparan oleh pemerintah Israel terhadap dua kematian tersebut, dan mendesak Israel untuk menjamin bahwa pasukan keamanan mematuhi prinsip-prinsip dasar secara ketat tentang penggunaan kekerasan dan senjata api oleh aparat penegak hukum,” katanya di Dewan Keamanan PBB.
Zionis Israel mengatakan, polisi perbatasan mencoba memadamkan demonstrasi kekerasan oleh sekitar 150 warga Palestina. Tetapi para pemimpin Palestina mengatakan, anak laki-laki dibunuh tersebut tidak bersenjata dan tidak menimbulkan ancaman.
Palestina menuduh Israel menggunakan “kekerasan yang berlebihan dan tidak pandang bulu.”*