Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Nasional

Perdebatan Permendikbudristek 30, Haedar Nashir: Masihkah Menyisakan Nilai Pancasila, Agama, dan Kebudayaan Luhur Indonesia

Bambang S
Terakhir diupdate: 16 November 2021 11:15 11:15 am
Bambang S
Dipublikasikan 16 November 2021 12:30
Bagikan
islam komprehensif
Ketua PP Muhammadiyah, Prof Dr Haedar Nasir
Bagikan

Hidayatullah.com — Konsep negara sejahtera lebih berpeluang terwujud jika unsur penting seperti Demokrasi dan Hak Asasi Manusia (HAM) terjamin dan terkelola dengan baik. Bagi negara demokrasi terbesar ketiga di dunia seperti Indonesia, nampaknya konsep ideal pengelolaan demokrasi belum menemukan rumus yang tepat. Hal ini nampak pada sering terjadinya perdebatan mengenai kebijakan publik yang dianggap bernafas sekular-liberal dan berbenturan dengan dasar negara yakni Pancasila.

Melansir laman Muhammadiyah.or.id, dalam forum webinar UMY bertajuk Moderasi Indonesia untuk Dunia, Senin (15/11/2021) Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir memandang jika Indonesia tidak segera menemukan rumus yang tepat, demokrasi bisa beralih menjadi kontraproduktif bagi bangsa Indonesia ke depan.

“Dan (demokrasi) ini jadi pesta pora bagi bangsa kita yang sering tidak punya kemampuan mengkonsolidasi pada titik yang moderat dan kita tidak tahu nanti ujung kita mengelola demokrasi ini,” keluhnya.

Perdebatan Permendikbud 30 Menampilkan Demokrasi yang Tidak Sehat. Proses perdebatan keras Permendikbudristek 30 adalah contoh terbaru dari kebuntuan demokrasi dan Pancasila. Mengutip pendapat Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt (2018), Haedar Nashir yang juga Guru Besar ilmu Sosiologi UMY itu menyebut bahwa demokrasi sering dibunuh bukan oleh rezim otoriter semata, tetapi oleh masyarakat sipil sendiri.

“Ada hal yang menarik ketika perkembangan demokrasi di dunia itu begitu masif dan luas tapi asumsi kematian demokrasi itu muncul, bahwa kematian demokrasi tidak berada di tangan rezim militer seperti pada era beberapa dekade sebelum ini. Justru kematian demokrasi akan berada di tangan para pemimpin negara yang non-militer tetapi membajak demokrasi,” kata Haedar.

Baca Juga

Lukmanul Hakim MUI wafat
KH Dr. Lukmanul Hakim, Pejuang Ekonomi Umat yang Berpulang
Layanan SIHALAL Bermasalah, ALPHI Minta Dikembalikan Ke Sistem Lama
LPPOM Bersama ALPHI Kupas Tuntas Tarif dan Waktu Proses Sertifikasi Halal
PAD Kota Depok Meningkat Tanpa Iklan Rokok
Pembukaan Silatnas 2023, Pj Gubernur Kaltim Puji Kiprah Dai – Daiyah Hidayatullah

“Dan kemudian era ini akan ditandai dengan era demokrasi semu yang kemudian juga membawa demokrasi pada proses ekstrimitas. Saya pikir isu yang terakhir di Indonesia soal Permendikbud itu juga bagian dari ekstrimitas demokrasi dan hak asasi manusia,” kritiknya.

Kritikan Haedar jelas beralasan, pasalnya perdebatan yang terjadi nampak timpang dengan semangat demokrasi itu sendiri. Masyarakat sipil pendukung Permendikbudristek 30 bukan hanya tidak memberi ruang argumentasi bagi pihak yang berlawanan pendapat.

Bahkan sebagian influencer melakukan penyematan dengan menyebut pihak kontra sebagai ‘mati otak’ hingga membingkainya dalam posisi ‘pembela penjahat kelamin’ tanpa memperhatikan alasan-alasan dari pihak yang kontra secara jernih.

Lantas Haedar mempertanyakan, apakah Pancasila Masih Relevan dengan Demokrasi?

Haedar Nashir lebih lanjut menuturkan bahwa pengerasan masyarakat sipil bukanlah satu-satunya hambatan bagi terbentuknya demokrasi yang ideal bagi negara Pancasila seperti Indonesia.

“Saya pikir jika tidak kita kelola dengan baik, itu akan menjadi problem baru di mana ternyata kekuatan-kekuatan sipil itu tidak kalah otoriternya dengan kekuatan militer ketika dia dibangun di atas oligarki. Oligarki ekonomi, oligarki politik, bahkan saya menambahkan satu istilah oligarki keagamaan di mana ada kelompok-kelompok agama yang merasa paling berkuasa di negara-negara, di tengah agama-agama itu hidup. Ini bisa menjadi proses kematian demokrasi,” ungkapnya.

Bagi Haedar, perdebatan Permendikbudristek 30 juga menyisakan pertanyaan apakah Indonesia masih berkomitmen untuk mengejawantahkan nilai-nilai batin bangsa Indonesia seperti Pancasila, Agama, dan kebudayaan luhur bangsa dalam perjalanan negara ini ke depan.

Haedar lalu mengutip penjelasan Roy Scranton dalam Learning to Die in Anthropocene bahwa tantangan terbesar zaman ini adalah tantangan filosofis di mana peradaban manusia yang terlalu pragmatis dan instrumental.

“Dan di sinilah sebenarnya orang harus kembali pada ide-ide metafisik yang mungkin sekarang dianggap sebagai hal yang tidak berguna sehingga karena demokrasi, paham hak asasi manusia, dan mungkin juga pemikiran yang sekular dan liberal di atas humanisme sekular yang dibangun sejak abad ke-18 di Eropa, menganggap hal-hal yang metafisik, agama, Pancasila, kebudayaan luhur bangsa itu menjadi sesuatu yang sub-ordinate dari pikiran-pikiran yang ekstrim tentang demokrasi, tentang HAM, dan pemikiran-pemikiran yang orang sebut sebagai post-modernisme yang sebenarnya liberal sekular,” terang Haedar.

“Nah dalam konteks ini maka hati-hati bahwa Indonesia sebenarnya punya problem yang oleh Scranton disebut sebagai persoalan filosofis dan metasifik. Maka dalam rangka proses ini pertama kita perlu sebuah ikthiar,” pungkasnya.*

Redaktur: Bambang S
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:demokrasihaedar NashirPermendikbudristek 30
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya sidang-habib-rizieq Habib Rizieq Dijerat UU Nomer 1 Tahun 1946, Kuasa Hukum Siapkan Judicial Review ke Mahkamah Konstitusi
Tulisan selanjutnya Wahn dan Cacat Iman

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas

Berita
4 Juni 2026 14:01
Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara
‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

BeritaBerita dari AndaNasional

Workshop Tenun dan Tudung Manto untuk Santri dan Masyarakat Lingga

6 November 2023 08:51
BeritaLensaNasional

Investasi LM Antam untuk Pendidikan Anak

13 September 2023 11:00
BeritaLensaNasional

[Foto] Belajar Gosok Gigi yang Benar

29 Juli 2023 07:00
BeritaNasional

Dukung Kegiatan PFI, Eri Cahyadi Tawarkan untuk Pameran Foto Berikutnya

14 Mei 2023 07:35
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?