Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Analisis

Menilik Jalinan Kerja Sama Rusia dan Zionis ‘Israel’

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 14 Maret 2022 17:50 5:50 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 14 Maret 2022 18:30
Bagikan
Bagikan

Keengganan ‘Israel’ melawan Rusia berasal dengan perhitungan yang dianggap penting untuk melestarikan arsitektur keamanan zionis di Timur Tengah, khususnya Baitul Maqdis

Oleh: Pizaro Gozali

Hidayatullah.com | SERANGAN Serangan Rusia terhadap Ukraina sejak 24 Februari lalu terus menyita perhatian publik. Banyak orang kemudian terjebak dalam salah satu dukungan terhadap kedua pihak.

Salah satu pihak mendukung Ukraina dan NATO. Pihak lainnya mendukung Rusia. Salah satu alasan yang diberikan untuk mendukung Putin beralasan Rusia adalah sebuah kekuatan entitas yang melawan dominasi barat dan zionis ‘Israel’ saat ini. Pertanyaannya adalah: betulkah?

Hubungan Sejarah Uni Soviet dan ‘Israel’ 

Baca Juga

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan di Sidang Umum PBB UNGA
Mimpi Buruk Israel: Turki Bangkit Jadi Kekuatan Baru Timur Tengah
Strategi Ibrahim Traoré: Tinggalkan Penjajah Prancis, Dekati Rusia
“Gubernur Konten”,  Antara Pencitraan, dan Polarisasi Digital
Kampanye Digital Masif dari Arab Diluncurkan untuk Menjatuhkan Sinwar dan Hamas
NAS Daily Terima Penghargaan dari Lobi ‘Israel’

Jika kita mempelajari hubungan internasional, maka kita perlu memahami legasi sejarah dan interaksi geopolitik antara Uni Soviet, yang kemudian menjadi Rusia, dengan ‘Israel’.

Hubungan Uni Soviet dan zionis ‘Israel’ telah berlangsung sangat lama. Megan Bailey dalam A Strategic Alliance: An Exploration of ‘Israel’i-Russian Relations (2014) menyebut legasi relasi resmi Soviet dengan ‘Israel’ terjadi saat Soviet menerima rencana PBB untuk membagi Mandat Inggris atas Palestina menjadi dua negara yakni Yahudi dan Muslim pada 1947.

Saat itu, Uni Soviet menjadi menjadi salah satu negara pertama yang mengakui penjajah ‘Israel’ usai membentuk negara palsu di atas penjajahan terhadap bangsa Palestina pada Mei 1948.  Tiga hari setelah ‘Israel’ mendeklarasikan kemerdekaan palsunya atau 17 Mei 1948, Soviet secara resmi mengakui ‘Israel’.

Selanjutnya, politisi Zionis Golda Meir, yang kelak menjadi perdana menteri pada 1969-1974, diangkat sebagai duta besar ‘Israel’ untuk Uni Soviet, dengan masa jabatan dimulai pada 2 September 1948. Meir menghadiri kebaktian Rosh Hashanah dan Yom Kippur di Sinagog Paduan Suara Moskow dikelilingi oleh 50.000 orang Yahudi.

Голда Меир (в круге) среди десятков тысяч советских евреев в первый день Рош ха-Шана 1948 г. Kunjungan Golda Meir ke Moscow tahun 1948 disambut meriah dengan teriakan dalam bahasa Ibrani “Shalom!” dan “Hore!”, dalam waktu cukup lama/Wiki

Namun tidak selamanya hubungan Soviet dan ‘Israel’ tanpa dinamika. Hubungan kedua entitas itu kompleks dan beragam, termasuk dukungan diplomatik, militer, kerja sama teknologi, dan energi. Selain itu, ‘Israel’ menjadi destinasi nomor satu bagi orang Yahudi pasca-Uni Soviet migrasi, sehingga diaspora Rusia-Yahudi yang besar ada di ‘Israel’.

Larissa Remennick dalam Transnational community in the making: Russian Jewish immigrants of the 1990s in ‘Israel’ (2002) menyampaikan ‘Israel’ menyerap lebih satu juta orang Yahudi Rusia, yang meningkatkan populasi ‘Israel’ sekitar delapan belas persen. Komunitas diaspora telah mempertahankan jaringannya di Rusia, sehingga meningkatkan hubungan antara kedua negara.

Meski demikian, hubungan kedua negara juga sempat beku pada Juni 1967. Hal ini lantaran Uni Soviet mendukung negara-negara Arab dalam Perang Enam Hari melawan ‘Israel’ di mana mana ‘Israel’ merebut wilayah dari Yordania dan sekutu Soviet Mesir dan Suriah. Saat itu, Moskow melanjutkan untuk mempersenjatai dan mendanai negara-negara Arab selama beberapa dekade.

Ketegangan Rusia dan ‘Israel’ akhirnya secara bertahap mulai pulih. Pemulihan hubungan antara Soviet dan ‘Israel’ terjadi pada Agustus 1986. Kontak resmi pertama terjadi di Helsinki antara delegasi konsuler ‘Israel’ dan Soviet. Pada Oktober 1991, Mikhail Gorbachev membangun kembali hubungan diplomatik dengan ‘Israel’, tepat dua bulan sebelum runtuhnya Uni Soviet.

Gorbachev saat itu mengizinkan orang Yahudi untuk beremigrasi dengan bebas dan lebih dari satu dekade lebih dari satu juta dari mereka pindah ke ‘Israel’. Setelah itu, hubungan kedua pihak terus berkembang dari waktu ke waktu.

Pada April 1994, Perdana Menteri ‘Israel’ Yitzhak Rabin melakukan kunjungan resmi ke Moskow. Kunjungan ini adalah yang pertama dilakukan perdana menteri ‘Israel’ sekaligus mengabadikan normalisasi penuh hubungan bilateral kedua pihak.

Pada Juni 1967, Uni Soviet memutuskan hubungan dengan ‘Israel’ setelah Perang Enam Hari 1967, di mana ‘Israel’ merebut wilayah dari Yordania dan sekutu Soviet Mesir dan Suriah.

Moskow melanjutkan untuk mempersenjatai dan mendanai negara-negara Arab selama beberapa dekade.

Selanjutnya pada September 2001, perdana menteri ‘Israel’ saat itu Ariel Sharon dan Presiden Rusia Vladimir Putin bertemu di Moskow. Keduanya  bersama-sama mengutuk terorisme di mana Putin dan Sharon sama-sama mengatakan mereka adalah korban.

Posisi Kremlin dan ‘Israel’ semakin dekat sejak serangan Rusia di republik Chechnya, di mana Moskow mengklaim sedang memerangi terorisme. Dan ‘Israel’ mengkalim mendapatkan serangan dari pejuang Palestina. Meski pada kenyataannya, apa yang dilakukan faksi perlawanan Palestina hanyalah respons atas penjajahan, kekerasan, pembunuhan, penggusuran yang dilakukan negara Zionis itu terhadap bangsa Palestina.

Kerja Sama Pertahanan Rusia-’Israel’

Salah satu sektor terbesar kerja sama antara Rusia dan ‘Israel’ adalah pada bidang pertahanan. Keduanya selama ini telah terlibat upaya untuk meningkatkan kapasitas militernya masing-masing.

Pada 2010, Rusia dan ‘Israel’ resmi menandatangani perjanjian kerja sama militer. Menteri Pertahanan Rusia Anatoly Serdyukov mengatakan Moskow mempelajari dengan serius praktik militer ‘Israel’ saat memodernisasi tentaranya.

Sementara itu, Menhan ‘Israel’ Ehud Barak mengatakan ‘Israel’ siap pengalaman dengan militer Rusia dalam memerangi “terorisme” dan memastikan keamanan, termasuk dengan menggunakan pesawat tak berawak. (Al-Arabiya, Associated Press, 2010).

Saat itu, Putin mengatakan telah membeli beberapa kendaraan udara tak berawak di ‘Israel’. Rusia juga telah meluncurkan beberapa satelit untuk kepentingan ‘Israel’.

“Kami sedang memeriksa kemungkinan untuk melengkapi pesawat ‘Israel’ dengan instrumen dan peralatan laser kami,” ucap Putin.

Rusia telah berusaha untuk membangun armada pesawat mata-mata buatan ‘Israel’ sejak Georgia menggunakan pesawat ‘Israel’ semacam itu untuk melawan Rusia dalam perang tahun 2008. Saat itu, pejabat Rusia mengatakan ‘Israel’ telah menjual 12 pesawat tanpa pilot ke Moskow dan akan memasok 36 lagi, senilai sekitar USD100 juta.

Pada April 2014, ‘Israel’ mengambil sikap netral terhadap aneksasi illegal Rusia atas Krimea, yang merupakan rumah bagi 12 persen etnis Muslim Tatar, di PBB. Kondisi ini membuat marah pejabat Departemen Luar Negeri AS dan Gedung Putih [Hareetz, 2014].

Sebaliknya, selama Operasi Protective Edge pada tahun 2014 untuk menghentikan perlawanan Hamas. Dalam perang Gaza itu, total 1.880 orang tewas, termasuk 1.500 warga sipil berdasarkan data Kementerian Kesehatan Gaza. Dan Putin menyatakan bahwa “Saya mendukung pertempuran ‘Israel’ yang dimaksudkan untuk melindungi warganya”. [Federation of the Jewish Communities of The CIS, 2014].

Joshua Krasna dalam Moscow on The Mediteranian: Russia and ‘Israel’’s Relationship (2018) mencatat hubungan ‘Israel’ dan Moskow meningkat tiga kali lipat sejak Putin naik ke kekuasaan pada 2000.

“Kemajuan stabil yang telah dibuat sejak pemulihan hubungan diplomatik pada tahun 1991—dan khususnya sejak Vladimir Putin menjabat pada tahun 2000—mewakili peningkatan yang signifikan dalam lingkungan keamanan nasional ‘Israel’ dan dan keuntungan penting bagi kebijakan global dan regional Rusia. Hubungan bilateral terbaik yang mereka miliki sejak 1991,” tulis Krasna.

Krasna mengatakan untuk memahami kepentingan Rusia terhadap ‘Israel’, pertama-tama kita harus memahami Moskow secara lebih luas dalam hal tujuan kebijakan, baik regional maupun global. Menurut pakar Rusia Dmitri Trenin, tujuan utama kebijakan luar negeri Moskow dalam beberapa tahun terakhir adalah mengembalikan Rusia ke “tingkat teratas politik global.”

Kontak Putin dan Benett

Kini rezim zionis ‘Israel’ telah berganti. Naftali Bennett naik ke puncak kekuasaan ‘Israel’ sebagai perdana menteri ‘Israel’ pada 2021 menggantikan Benyamin Netanyahu. Meski wajah penguasa ‘Israel’ berganti, hubungan Rusia dan ‘Israel’ tidak lantas berubah.

Presiden Rusia Vladimir Putin dan Perdana Menteri ‘Israel’ Naftali Bennett telah melakukan kontak untuk mendukung negaranya masing-masing. Kedekatan keduanya mendorong Putin meminta Bennett agar melobi AS meringankan beberapa sanksinya terhadap rezim Bashar al-Assad.

Tahun 2018 Menteri Pertahanan Israel Avigdor Lieberman bertemu dengan timpalannya Menhan Rusia Sergei Shoigu di Moskow untuk mendukung Rezim Bashar al-Assad/TASS

Lobi ini dilakukan Moskow kepada Tel Aviv agar perusahaan-perusahaan Rusia dapat mengambil bagian dalam rekonstruksi di Suriah.

Moskow ingin mendapatkan sebagian besar proyek rekonstruksi skala besar di Suriah dalam upaya meningkatkan pendapatan sambil meningkatkan pengaruhnya terhadap ekonomi Suriah.

Menurut Rusia, sanksi AS membuka jalan bagi perusahaan Iran untuk mendapatkan proyek-proyek rekonstruksi besar demi meningkatkan pengaruh Iran di Suriah.

Saat perang Rusia-Ukraina meletus, Bennett muncul sebagai pemimpin ‘Israel’ yang berusaha menengahi konflik. Batu Coskun (2022), pakar kajian ‘Israel’ dan Teluk, mengatakan motif ini dilakukan karena Bennett haus akan pengakuan publik internasional setelah Netanyahu lengser.

Nama Bennett masih asing dalam pergaulan internasional. Kesepakatan Abraham, keputusan Washington untuk memindahkan kedutaan Amerika ke Yerusalem dan keputusan Trump untuk menarik diri dari perjanjian nuklir Iran adalah kemenangan bagi Netanyahu yang pada gilirannya ditransformasikan menjadi propaganda elektoral.

Bennett tidak menikmati prestise internasional yang sama seperti Netanyahu. Dia masih belum dikenal oleh sebagian besar pemimpin global dan memiliki sedikit pengalaman di forum multilateral.

Selain itu, kata Coskun, adalah faktor keamanan kawasan. ‘Israel’ dapat beroperasi di Suriah lewat restu Rusia, yang menjalankan kontrol hampir total atas wilayah udara rezim Assad. Dengan demikian, ‘Israel’ memandang insentif yang besar dalam mempertahankan hubungannya dengan Moskow.

Bennett akhirnya bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin selama tiga jam di Kremlin pada 5 Maret lalu. Bennett juga telah berbicara dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky beberapa kali melalui telepon dalam beberapa hari terakhir dan dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron.

Foreign Policy (2022) mencatat diplomasi yang dilakukan Bennett juga dimaksudkan untuk melestarikan kepentingan strategis ‘Israel’ di Timur Tengah ketika konflik Ukraina meningkat serta memastikan keamanan komunitas besar Yahudi di Ukraina.

Seorang pejabat di kantor Bennett mengatakan pembicaraan itu dilakukan “dalam koordinasi dan dengan restu” Washington dan dapat berfungsi sebagai saluran utama bagi Barat dalam meredakan konflik dan solusi tetap bisa dilakukan di atas meja.

‘Israel’ memilih bersama Amerika Serikat dan negara-negara Barat lainnya di Majelis Umum PBB mengutuk invasi Rusia. Tetapi juga menolak permintaan Ukraina untuk mengirim perlengkapan militer, termasuk perlengkapan pertahanan.

Keengganan ‘Israel’ untuk masuk melawan Rusia berasal dari serangkaian perhitungan yang dianggap penting oleh ‘Israel’ dalam melestarikan arsitektur keamanan zionis di Timur Tengah, khususnya Baitul Maqdis.*

Peneliti Center for Islam and Global Studies

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:israelKerjasama Rusia dan IsraelrusiaZionis
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Satu Lagi Jet Tempur Taiwan Jatuh ke Laut
Tulisan selanjutnya Berbahaya, Kamerun Larang Merokok Shisha

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara

Berita
31 Mei 2026 05:45
Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak
Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB
Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram
Malaysia Resmi Batasi Media Sosial Anak, Siapkan Denda Rp45 Miliar bagi Pelanggar

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Mundurnya 'Israel' dari Gaza Utara, Awal dari Perang Penghabisan?
Analisis

Mundurnya ‘Israel’ dari Gaza Utara, Awal dari Perang Penghabisan?

5 Januari 2024 07:00
Analisis

Analisa Mantan Intel AS: Hamas Memenangkan Perang di Gaza

24 November 2023 13:00
Invasi Darat Israel ke Gaza
AnalisisArtikel

3 Skenario Invasi Darat Israel Menurut Pakar Keamanan Internasional

1 November 2023 06:10
Analisis

Serangan Pejuang Kemerdekaan Palestina  terhadap ‘Israel’ Makin Menampakkan Kemunafikan Barat

11 Oktober 2023 21:55
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?