Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Tsaqafah

Mengamalkan Syariat  untuk Meraih Ilmu

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 14 September 2022 15:55 3:55 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 14 September 2022 23:00
Bagikan
Bagikan

Jika syariat Islam menjadi gaya hidup (way of life) umat Islam di era kejayaan peradaban Islam, maka ilmu adalah obsesi mereka dalam menata bumi

Oleh: Teuku Zulkhairi

Hidayatullah.com | KAMPUS-KAMPUS negeri saat ini sedang memberikan pengenalan budaya akademik dan kemahasiswaan bagi ribuan mahasiswa barunya. Begitu juga kampus-kampus swasta lainnya di seluruh Indonesia yang juga pastinya akan menerima begitu banyak mahasiswa baru. 

Kita tidak ragu bahwa tekad mereka menjadi mahasiswa atau mahasiswi sepenuhnya adalah untuk menuntut ilmu. Peribahasa mengatakan, “banyak ilmu makin maju”. Peribahasa lain berbunyi: “Dengan ilmu jadi mudah. Dengan seni jadi indah. Dengan agama jadi terarah”.

Imam Syafi’i mengatakan, “Siapa yang ingin bahagia hidupnya di dunia, maka hendaklah dengan ilmu. Siapa yang ingin bahagia hidupnya di akhirat, maka hendaklah dengan ilmu. Dan siapa yang ingin bahagia di dunia dan akhirat, maka hendaklah dengan ilmu.”

Baca Juga

Buya Hamka
Buya Hamka: Hari Raya sebagai Cermin Kekuatan Batin Bangsa
Salaf Saleh dan Tafsir Kata Ulil Amri
Ulama Sufi dan Islam Nusantara
Amalan di Bulan Muharram yang Dapat Kita Lakukan
Pengaruh Freemason dalam Wacana Pluralisme Agama (2)

Jadi, ilmu adalah kunci. Ilmu akan mengangkat derajat pemiliknya di hadapan Allah Swt.

Sebagaimana Allah berfirman dalam Al-Quran surat Al-Mujadilah ayat 11:

يَرۡفَعِ اللّٰهُ الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا مِنۡكُمۡ ۙ وَالَّذِيۡنَ اُوۡتُوا الۡعِلۡمَ دَرَجٰتٍ ‌ؕ وَاللّٰهُ بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ خَبِيۡرٌ

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS: Al-Mujadilah:11) 

Maka dalam rekaman sejarah, peradaban Islam dipenuhi oleh catatan yang mengesankan tentang perkembangan keilmuan. Peradaban Islam mampu memberikan pencerahan bagi umat manusia di permukaan bumi ini yang dibuktikan dengan berbagai karya para ilmuan Muslim yang memberi manfaat besar bagi umat manusia.  

Bahkan karya-karya para intelektual muslim menjadi fondasi utama ilmu pengetahuan Barat modern. Ketika Barat masih dalam kegelapan, umat Islam di Andalusia telah menjadi mercusuar dalam lapangan ilmu dan peradaban.

Jika kita membaca catatan sejarah, maka kita akan mendapatkan pemahaman bahwa modal utama umat Islam di era kejayaannya adalah iman dan ilmu. Dengan iman dan ilmu itulah mereka diberikan kejayaan oleh Allah.

Jadi, ilmu harus seiring sejalan dengan iman. Jika ilmu kita maknai ringkas sebagai usaha mencari pengetahuan, maka iman adalah berkaitan dengan keyakinan kita terhadap enam rukunnya yang disampaikan oleh Jibril kepada Rasulullah ﷺ untuk diberitahukan kepada kita umatnya. Dan iman yang memiliki enam rukunnya sebagaimana dipahami secara istilah bukan hanya memada diucapkan dengan lisan saja, tapi juga dibenarkan dengan hati dan dibuktikan dengan amal perbuatan.

Jadi, iman menuntut bukti serius kepada setiap pribadi muslim, yaitu kesedian untuk menjalankan Syariat  Islam sebagai konsekuensi dari iman. Maka seseorang yang beriman akan menjalankan perintah Allah dan tinggalkan larangan-laranganNya.

Ia juga akan menjadikan Rasul sebagai teladan hidupnya dan seterusnya. Jadi, iman yang betul akan memberikan kekuatan yang dahsyat bagi setiap muslim.

Dan inilah pandangan hidup Islam yang mesti dipahami oleh setiap penuntut ilmu. Bahwa upaya menuntut ilmu tidak boleh lepas dari iman.

Menurut Hamid Fahmi Zarkasyi, (2010: 68), jika substansi peradaban Islam adalah pandangan hidupnya, maka membangun kembali peradaban Islam adalah memperkuat pandangan hidup Islam. Hal ini dilakukan dengan menggali konsep-konsep penting khazanah ilmu pengetahuan Islam dan menyebarkannya agar dimiliki oleh kaum terpelajarnya yang secara sosial berperan sebagai agen perubahan dan yang secara individual akan menjadi decision maker.

Lalu, apakah kunci dari ilmu tersebut?  Salah satunya adalah taqwa. Perhatikan janji Allah Swt dalam Al-Quran Surat Al-Baqarah ayat 282 : “…….dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Menurut Ibnu Katsir (Ibnu Katsir Jilid 1, terj. M. Abdul Ghoffar,: 725), “Allah mengajarmu” di atas adalah seperti firman Allah Swt: “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqan (QS Al-Anfaal: 29). 

Furqan adalah petunjuk yang dapat membedakan antara yang hak dan yang bathil. Dapat juga diartikan sebagai pertolongan.

Jadi, penggalan ayat“Allah mengajarmu”, bermakna bahwa jika kita bertaqwa kepada Allah, maka Ia akan memberi kita ilmu yang dengan ilmu itu kita dapat membedakan antara yang haq dan yang bathil. Dan itulah ilmu dalam Islam, yaitu ilmu yang memadukan antara dimensi akhirat dengan dimensi duniawi.

Permahaman semacam ini menegaskan bahwa Islamisasi ilmu pengetahuan adalah sebuah keniscayaan.      

Ayat pada ujung surat al-Baqarah di atas menegaskan bahwa salah satu kunci mendapatkan ilmu adalah ‘takwa’. Sementara esensi dari takwa adalah “menjalankan segala perintah Allah Swt dan menjauhi segala laranganNya”.  

Jadi, taqwa adalah syarat untuk memperoleh ilmu. Dan takwa itu tidak lain adalah menjalankan Syariat  Islam sebagai konsekuensi dari iman.

Maka, syarat utama diperolehnya ilmu adalah dengan taqwa, sementara taqwa akan muncul dengan implementasi syariat Islam, baik syariah yang menjadi domain negara, seperti jinayah, zakat, haji, hudud, Ekonomi Islam, jihad dan sebagainya. Begitu juga Syariat  yang menyangkut persoalan individual, seperti shalat sehari semalam lima waktu, ibadah Jumat, sedekah, dan seterusnya.

Jadi, penerapan syariat Islam oleh negara maupun oleh individual muslim akan membentuk karakter taqwa yang pada akhirnya akan memancarkan cahaya ilmu dari Allah Swt sebagai Pencipta Alam Semesta.

Bagi diri kita pribadi, ilmu yang berkah akan terhalang sekiranya kita bermaksiat kepada Allah Swt, tidak menjalankan syariat Islam, atau melanggar hukum-hukum syariah, baik dalam konteks kenegaraan maupun pada level individual.

Sebab, Ilmu adalah cahaya Allah, dan cahaya tersebut tidak akan diberikan kepada pelaku maksiat, baik maksiat pribadi maupun maupun di level negara dengan cara meninggalkan syariat  Islam.  

Imam Syafi’i dalam kitab I’anatuth Thalibin karya Sayyid Abu Bakar Muhammad Syatha ad-Dimyathi mengatakan: “Saya pernah mengadukan kepada waki’ tentang buruknya hafalanku. Lalu beliau menunjuki saya untuk meninggalkan maksiat. Beliau memberitahukan saya bahwa  ilmu adalah cahaya Allah. Dan cahaya Allah tidaklah mungkin diberikan pelaku maksiat.” (juzuk 2 hal: 190).

Jadi, sangat erat kaitannya antara ilmu dengan syariat Islam, dimana ilmu yang diberkahi Allah Swt lahir dari ketaqwaan seorang muslim, sementara ketaqwaan muncul dengan menjalankan seluruh syari`at Islam.  Pada dasarnya suatu ilmu tidak boleh dipisahkan dari Islam, sebab Islam datangnya dari Allah, dan bahwa Allah adalah Yang Maha Mengetahui.

Ilmu yang berkah adalah ilmu yang pemiliknya mampu melihat keagungan Allah Swt dan lalu membuat si pemilik ilmu tersebut bertafakkur dan bersyukur, lalu ia menjadi seorang hamba Allah yang patuh atas aturan-aturan Allah Swt dan meninggalkan segala laranganNya. Dengan kata lain yaitu menjalankan segala ketentuan Syari`at Islam dan meninggalkan apa saja yang bertentangan dengan syariat Islam.

Setelah kita bertafakkur, sesungguhnya Allah Swt sebagai Zat Yang Maha Mengetahui, Dia menghendaki kita menggunakan ilmu yang diberikannya untuk selalu mengagungkanNya, sebab memang ilmu tersebut berasal dariNya. Pesan-pesan semacam ini hanya mampu ditangkap oleh Muslim, yang mau bertafakkur.

Itulah yang dilakukan oleh generasi terdahulu yang di tangan mereka Islam memimpin peradaban. Jika syariat Islam menjadi gaya hidup (way of life) umat Islam di era kejayaan peradaban Islam, maka ilmu adalah obsesi mereka dalam menata bumi sesuai fungsi manusia sebagai khalifah di atas permukaan bumi. Wallahu a’lam bishshawab.*

Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry, Banda Aceh

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:ilmuSyariatsyariat dan ilmu
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Netflix Mesir Tertibkan Konten Streaming Platform
Tulisan selanjutnya Enam Alasan Mengapa Kita Beribadah pada Allah

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Artikel

‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza

Artikel
3 Juni 2026 05:00
Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
Malaysia Resmi Batasi Media Sosial Anak, Siapkan Denda Rp45 Miliar bagi Pelanggar
Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel

Terbaru

  • Usai Serangan Drone Terminal Pelabuhan Mina al-Fahl Oman Beroperasi Kembali
  • Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis

Mungkin Anda Juga Suka

ArtikelTsaqafah

Pengaruh Freemason dalam Wacana Pluralisme Agama (1)

5 Januari 2023 13:30
Tsaqafah

Ijtihad sebagai Solusi Persoalan Umat

29 Desember 2022 19:00
Tsaqafah

Bahaya Sekularisasi dan Sekularisme

26 Desember 2022 13:45
Tsaqafah

Loss of Adab, Kebingungan Ilmu dan Pemimpin Palsu

18 Desember 2022 18:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?