Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Tiga Pesan Tjokroaminoto untuk Anak Biologis dan Ideologisnya

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 13 November 2022 06:48 6:48 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 13 November 2022 07:30
Bagikan
Raden Mas Haji Oemar Said (H.O.S) Tjokroaminoto, salah satu pemimpin Sarekat Dagang Islam, yang didirikan oleh Samanhudi, yang menjadi Sarekat Islam
Bagikan

Seringkali H.O.S Tjokroaminoto memberi nasehat kepada anak-anaknya agar berhenti makan sebelum kenyang dan banyak beribadah

Hidayatullah.com | PADA tahun 1945, beberapa orang yang tergolong ulama berkunjung ke rumah Anwar Tjokroaminoto (anak kedua Tjokroaminoto). Di antara mereka ada yang bertanya, “Adakah almarhum mempunyai peninggalan kepada saudara?”

“Ada,” jawab Anwar yang menimbulkan keheranan bagi para tamunya. Sebab, setahu mereka, HOS. Tjokroaminoto tidak meninggalka kekayaan harta.

Rupanya, yang dimaksud dengan peninggalan oleh Anwar adalah pesan-pesan dari Tjokroaminoto kepada anak-anaknya.  

Jawaban ini malah menambah keheranan para tamu. Mengapa kalau ada pesan, tidak diketahui orang banyak dan karib Tjokroaminoto?

Baca Juga

Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah
H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina
Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina
Membungkam Suara Kritis: Kriminalisasi Ulama Masyumi di Orde Lama
KH. Ahmad Dahlan dan Peran sebagai Jembatan Ukhuwah Islamiyah

Anwar sengaja tidak bercerita, karena ia anggap itu adalah pesan ayah kepada anak biologisnya.

Tamu itu makin penasaran dan memberi penjelasan;

“Jang disebut anak-anak Tjokroaminoto itu bukanlah semata-mata anak-anak jang terikat oleh darah, bukan semata-mata jang dilahirkan oleh istrinja, tetapi masih ada jalan lain. Banjak dari golongan kaum Muslimin jang mengakui Tjokroaminoto sebagai bapaknja, sebagai ajahnja. Mereka ini pun juga anak-anak Tjokroaminoto, bukan anak-anak jang terikat oleh darah, tetapi terikat oleh ruch, terikat oleh djiwa!”

Kalau peninggalan berupa harta benda, memang hak anak biologis. Tapi jika berupa pesan dan nasihat, maka anak ideologis juga berhak mengetahuinya.

Mendengar ungkapan indah itu, Anwar Tjokroaminoto pun berbagi pesan yang pernah didapat dari ayahnya.

PESAN PERTAMA:

Seringkali Tjokroaminoto pada waktu sakitnya memberi nasihat demikian, “Lereno mangan sakdurunge wareg!” (Berhentilah makan sebelum kenyang!).

Kebiasaan setiap hari, Tjokroaminoto jarang memerintah anak-anaknya. Apalagi berulang-ulang. Maka pesan yang disampaikan waktu sakitnya itu sangat penting nilainya.

Anwar mencoba memaknai pesan itu: “Tiap-tiap manusia mesti mempunjai keinginan didalam hatinja. Tetapi keinginan itu bisa dikendalikan, bisa diarahkan kepada djalan jang baik, sehingga mendjadi semangat jang membadja.”

Ini secara umum sebagai simbol pengendalian nafsu. Nasihat ini, masih menurut Anwar, bisa melindungi manusia dari keserakahan, loba, tamak, perbuatan korup dan sebagainya.

Lebih jauh kalau kita kaitkan dengan ungkapan Arab yang menggambarkan kondisi umat Rasulullah:

نحن قوم لا نأكل حتى نجوع وإذا أكلنا لا نشبع

“Kami adalah kaum yang tidak makan hingga lapar, dan ketika kami makan, tidak (sampai) kenyang.”

PESAN KEDUA:

Nasihat kedua; “Gunakanlah lima menit tiap-tiap malam buat membulatkan pikiran!” Menurut Anwar, ini terkait perkembangan kecerdasan.

Membulatkan pikiran bukanlah melamun, tetapi mengatur berpikir. Pikiran yang bisa menghasilkan daya cipta (menimbulkan sebab dan akibat). Kalau membuat rencana, maka rencana yang bisa dikerjakan, bukan utopia.

Kebiasaan meluangkan waktu untuk berpikir merupakan kebiasaan orang-orang besar. Dalam Al-Qur`an banyak ayat yang menganjurkan orang untuk mendayagunakan pikirannya.

***

Meski ada anjuran berpikir, tentunya bukan bebas semaunya sendiri. Perhatikan perkataan Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhu:

تفكروا في خلق الله ولا تفكروا في الله عز وجل

“Berpikirlah tentang ciptaan Allah, dan jangan berpikir tentang Allah Azza Wa Jalla.”

PESAN KETIGA:

Berupa pertanyaan berikut, “Bagaimana tjaranja supaja bisa bersih sebelum berwudhu?” Sebuah pertanyaan mengandung pesan tentang kehidupan suci.

Ada yang berupaya memaknai pertanyaan Tjokroaminoto di atas. Kata Anwar, “Sembahjang itu maksudnya menjembah Allah. Dan menjembah Allah itu tidaklah hanja jang berupa sembahjang lima waktu, melainkan didalam tiap-tiap perbuatan manusia ini, bisalah didjadikan sembahjangnnja kepada Allahj Subhanahu wa Ta’ala….Karena amal-sesembahan itu pun seakan-akan merupakan sembahjang, maka perlulah manusia jang menjembah itu selalu bersih, seakan-akan selalu didalam keadaan berwudhu.” (Sumber: H.O.S. Tjokroaminoto Hidup dan Perdjuangannya Djilid II, Amelz, 1952: 162-169).

***

Nasihat ketiga ini juga tidak kalah pentingnya. Ibarat shalat sebagai ibadah mahdhah, yang membutuhkan kesucian (wudhu). Maka demikian juga ibadah dalam pengertian umum, juga perlu prinsip kebersihan, karena aktivitasnya pada hakikatnya diniatkan untuk ibadah kepada Allah. Maka ketika jadi pedagang, ia harus menjaga kesuciannya, baik kebersian yang dalam makna lahiriah, maupun maknawiahnya seperti kejujuran dan semacamnya.

Kalau yang dimaksud menjaga kebersihan sebelum wudhu ini adalah secara lahiriah, kita bisa mencontoh dalam sejarah sebagaimana Bilal bin Rabbah yang dikenal menjaga kesuciannya. Dan setiap kali bersuci (wudhu), beliau tak lupa melakukan shalat sunnah.

Di kalangan ulama terdahulu ada yang terkenal bisa menjaga wudhu. Misalnya, Muhammad bin Abdus Rahimakumullah yang selama 30 tahun shalat Shubuh dengan wudhu shalat Isya. Lebih dahsyat lagi imam Malik. Menurut kesaksian pelayanya, sampai 49 tahun, beliau (Imam Malik) shalat Subuh dengan wudhu shalat Isya.

Untuk menjaga wudhu di antara shalat Subuh, Zhuhur, Ashar saja sudah sangat susah. Apalagi menjaga waktu antara Isya dan Subuh.  Ini benar-benar luar biasa dan hanya orang-orang tertentu yang diberi kemampuan Allah bisa melaksanakannya.

***

Kalau diringkas dengan bahasa mudah, maka 3 pesan Tjokroaminoto kepada anak-anaknya adalah sebagai berikut: Pesan pertama, menyangkut pengendalian nafsu, Kedua, terkait pengembangan kecerdasan. Ketiga, mengenai kesucian.*/Mahmud Budi Setiawan

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:H.O.S. TjokroaminotoSarekat Dagang IslamSarikat Islam
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Kementerian Pariwisata Kembangkan Wisata Berbasis Masjid
Tulisan selanjutnya Membangun Peradaban Bermartabat

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Tujuh Negara Eropa Menyeru RSF untuk Menghentikan Segera Kekerasan di Sudan

Berita
25 Juni 2026 15:06
Prancis dan Jerman Sepakat Kelola Bersama Perusahaan Senjata KNDS
Prancis Umumkan Kasus Pertama Ebola di Wilayahnya
Trump Sebut Dana Iran yang Dibebaskan Akan Dipakai Beli Produk AS
ISIS Klaim Serangan di Aleppo yang Tewaskan 2 Tentara Suriah

Terbaru

  • Zionis ‘Israel’ Habiskan Hampir Rp3.673 Triliun untuk Perang sejak 7 Oktober
  • Krisis Makna di Era Modern dan Jalan Kembali kepada Wahyu
  • Jadi Target, Koresponden Al Arabiya Tewas di Mukalla Yaman
  • Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai
  • Amerika Serikat Kembali Buka Kedutaannya di Kuwait Usai Serangan Iran
  • Tujuh Negara Eropa Menyeru RSF untuk Menghentikan Segera Kekerasan di Sudan
  • Prancis Umumkan Kasus Pertama Ebola di Wilayahnya
  • Italia Geram Sekjen NATO Ungkap Perannya Bantu Amerika dalam Perang Iran
  • Seorang Pemimpin ISIS Terbunuh Dalam Serangan Amerika di Suriah
  • Iman, Ilmu, dan Amal: Tiga Pilar Kebangkitan Umat

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

R.A Kartini: Latarbelakang Kehidupan dan Alam Pikirannya

25 April 2026 08:37
Sejarah

Salam al-Turjuman dan Ekspedisi Pencarian Tembok Ya’juj dan Ma’juj

14 April 2026 07:01
Sejarah

Akibat Mengabaikan Ukhuwah Islamiyah dan Bekerjasama dengan Musuh

9 April 2026 14:00
Sejarah

Cermin Sejarah: Respon Indonesia Saat Masjidil Aqsha Dinista Kesuciannya oleh Zionis Israel

6 April 2026 13:22
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?