Hidayatullah.com–Tujuh negara Eropa menyeru kepada kelompok paramiliter Rapid Support Forces (RSF) untuk segera menghentikan serangan mereka terhadap El-Obeid, sebuah kota di negara bagian Kordofan Utara, karena penduduk sipil terancam akan kekurangan pangan, air dan bahan bakar.
Inggris, Prancis, Jerman, Irlandia, Italia, Belanda dan Norwegia, hari Selasa (23/6/2026) mengeluarkan pernyataan bersama yang mengatakan situasi sudah mencapai titik kritis di kota tersebut, yang masih berada di bawah kendali pasukan pemerintah Sudan.
“Kami menyeru kepada RSF untuk menghentikan serangannya segera,” kata pernyataan itu seperti dilansir AFP.
Seruan itu diutarakan sehari setelah Amerika Serikat, Uni Eropa, Uni Afrika dan Perserikatan Bangsa-Bangsa menyatakan keprihatinan mereka atas eskalasi kekerasan di sekitar El-Obeid, yang sudah dikepung selama 12 hari dan pasukan RSF terus menerus melancarakan serangan terhadap kota itu. PBB memperingatakan resiko bencana kemanusian massal mengintai Kordofan, seperti yang telah dialami El-Fasher dan Darfur.
Serangan drone bertubi-tubi beberapa pekan terakhir telah menewaskan warga sipil, memperparah kelangkaan BBM, bahan makanan dan air, imbuh pernyataan bersama tersebut.
“Warga sipil harus dapat pergi dengan selamat, dan semua pihak harus memastikan akses kemanusiaan tanpa kendali dan aman yang cepat.”Beberapa fasilitas medis di El-Obeid digempur oleh serangan drone RSF. Gardu utama listrik dan fasilitas air juga menjadi target sehingga pasokan air dan listrik putus, sementara perkampungan penduduk menjadi sasaran serangan drone.
Sebuah kamp pengungsian diserang pada hari Senin (22/6/2026), menewaskan dua orang dan melukai 10 orang lain termasuk anak-anak, kata Sudan Doctors Network.
Organisasi-organisasi bantuan memperingatkan situasi di dalam kota akan memberuk dengan cepat.”Apabila pengepungan tidak dihentikan dan apabila akses tanpa syarat bagi bantuan kemanusiaan tdak diperbolehkan, dalam beberapa pekan, atau paling lama satu sampai dua bulan, kita akan menyaksikan tragedi setara dengan yang kita lihat di El-Fasher,” kata Mohamed Refaat, kepala misi Sudan untuk International Organisation for Migration, kepada AFP.
Sejumlah organisasi bantuan, termasuk IOM, beberapa bulan terakhir mendapatkan beberapa kali akses ke El-Obeid tetapi sekarang misi mereka dihentikan karena rute yang ditempuh tidak aman, kata Refaat.
“Tahun lalu, dunia menyaksikan kengerian yang bukan kepalang ketika Rapid Support Forces memperkosa, menjarah dan membunuh di El-Fasher – meninggalkan kehancuran dan kematian di belakang mereka. Hal ini tidak boleh terulang,” kata Menteri Luar Negeri Inggris Yvette Cooper dalam sebuah pernyataan.
“El-Obeid berada di ambang malapetaka yang akan memperdalam luka yang telah ditimbulkan pada Sudan di El Fasher,” imbuhnya.*




