Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Hijrah pada Media Bertauhid

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 15 Juli 2014 11:23 11:23 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 15 Juli 2014 11:23
Bagikan
ilustrasi: Begini cara media Barat memandang Islam
Bagikan

Oleh: Mochamad Fauzie

SEMUA yang berinteraksi dengan kita adalah sumber-sumber belajar. Ia bisa latar, orang (guru, teman, komunitas), buku, media massa, dan lain-lain.

Sumber-sumber belajar ini secara terstruktur atau tidak terstruktur akan membuat kita belajar. Belajar itu sendiri adalah proses perubahan tingkah-laku, sehingga terdapat korelasi yang signifikan antara pencapaian belajar dengan perilaku seseorang. Oleh sebab itu, belajar merupakan satuan-satuan kegiatan dalam sebuah kerangka besar yang disebut pendidikan, yang pengertiannya adalah: segala usaha untuk membentuk atau mengembangkan kepribadian yang meliputi aspek kognisi (pengetahuan). aspek psikomotor (unjuk kerja) dan afeksi (sikap; perilaku).

Bagaimana kepribadian seseorang itu terbentuk, sangat ditentukan oleh ‘teman-teman’ atau ‘wali-wali’ atau sumber-sumber belajar yang berinteraksi dengannya. Sumber belajar ini dapat dipilih, didesain atau dimanfaatkan untuk membelajarkan secara terarah, terkontrol, bahkan terukur, baik oleh si belajar atau pihak lain.

Membiarkan sumber-sumber belajar datang ke dalam hidup kita dan menggaulinya tanpa seleksi adalah tindakan jahil (tanpa pengetahuan), yang menyelisihi perintah Allah untuk memilih teman/wali. Itu sama saja menjadikan diri kita minimal keranjang sampah, dan lebih celaka dari itu: ‘kelinci percobaan’ dari pihak-pihak yang berusaha menggamangkan kita, bahkan memalingkan, dari tauhid.

Baca Juga

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman
Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia
Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

Maka sekali lagi menjadi penting untuk setiap kali mencermati, mengevaluasi dan mengkalibrasi segenap sumber-sumber belajar kita, apakah mereka sebangun dan sejalan dengan tauhid atau tidak. Sekali lagi, di antara sumber belajar dengan kekuatan dahsyat hari ini, yang memungkinkan memasuki rumah dan kamar-kamar anggota keluarga kita adalah: Media massa.

Media dan tahuid

Akhir-akhir kita saksikan betapa media massa (baik TV/koran/majalah/online) begitu seronok menampakkan keberpihakan pada kebathilan. Baik terhadap institusi atau penokohan seseorang.

Bahkan banyak orang terpengaruh tipu daya media, hingga mengabaikan pandangan dan pesan-pesan para ulama negeri ini.

Seorang tokoh Muslim kulit hitam Amerika (Afro-Amerika) Malcolm X pernah berkata: “Media adalah entitas yang paling kuat di bumi. Mereka memiliki kekuatan untuk membuat orang yang tidak bersalah menjadi bersalah, dan membuat yang bersalah menjadi tidak bersalah, dan itu adalah kekuasaan. Karena mereka mengendalikan pikiran massa.”

Begitulah, media massa bukan pabrik sandal atau panci yang tidak ada urusan langsung dengan pemikiran. Media adalah pabrik kata-kata; pabrik opini, ia berurusan dengan bagaimana mengkonstruk opini dan sikap publik.

Melanggan media massa tertentu bermakna kita memberi amanah kepada media yang bersangkutan untuk menyampaikan khabar dan nasihat (opini) kepada kita dan anggota keluarga kita.

Pertanyaannya adalah, dalam perspektif atau worldview apakah media itu menyusun khabar dan opini? Maka menjadi penting untuk mengetahui benar berbagai seluk-beluk yang menunjukkan siapa media massa tersebut: basis histori (bagaiman riwayat pendiriannya), basis teologi dan ideologinya, basis massa, basis modal dan, yang tidak kalah penting, rekam jejak media massa tersebut terhadap Islam/muslim – adakah ia secara latent cenderung mencuri kesempatan untuk mendiskreditkan atau menyerang Islam/Muslim?

Melihat tanda-tanda seperti ini sebenarnya sangat mudah dan cukup bisa dibedakan.

Jika sebangun dan sejalan dengan tauhid dan orang-orang yang bertauhid, tambahan lagi rekam jejaknya baik kepada Islam/muslim, maka ambillah, bahkan makmurkanlah media tersebut.

Tetapi jika sebaliknya, jangan ragu untuk mengeliminasinya dari area belajar kita, sekalipun ia tampak mempesona/menakjubkan, memberi citra status sosial atau intelektualitas tinggi yang sejatinya fatamorgana belaka. Bahkan jika Anda terlanjur bekerja di dalamnya, berpikirlah untuk hijrah. Apakah patut kita berada di ‘kapal perang’ yang ‘misil-misilnya’ menghantam saudara muslim? Apakah pantas kita mengais kemuliaan di sisi media yang penanya berlumuran airmata dan darah saudara Muslim?

Belum lagi kerusakan kepribadian yang tanpa kita sadari menimpa kita dan keluarga atas penetrasi perspektif syirik mereka dari waktu ke waktu sehingga menjadikan kita pribadi yang keras hati dan ngeyelan terhadap perintah dan larangan Allah Subhanahu Wata’ala.

Jadi, Anda tidak perlu melakukan pengembaraan intelektual yang melelahkan untuk sampai pada kesimpulan yang terlambat di bibir liang lahat, bahwa media itu berpihak.*

Penulis adalah sarjana pendidikan dan dosen di sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:hijrahMedia massaopini
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Ismail Haniyah: Hamas tak bela Entitas Sendiri, tapi membela Al-Quds dan Umat Islam Sedunia
Tulisan selanjutnya Kembali ke Militer Bowe Bergdahl Dapat Tugas Adminstratif

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Jangan Cuma di Stadion, Pria Jepang Diminta Ikut Bantu Bersihkan Rumah

Berita
19 Juni 2026 14:50
MUI Serukan Masyarakat Lawan Gerakan Normalisasi LGBT
Kapalnya Ditembak Dekat Oman India Panggil Diplomat Amerika Serikat
Santri Tahfidz Ar-Riyadh Tampil pada Pembukaan Rapat Paripurna DPRD Bontang
Hijrah Digital adalah Upaya Memuliakan Waktu di Era Teknologi

Terbaru

  • Jangan Cuma di Stadion, Pria Jepang Diminta Ikut Bantu Bersihkan Rumah
  • Tiga Kapal Tanker Saudi Melewati Selat Hormuz Setelah Iran-AS Sepakat Mengakhiri Perang
  • Semua Biaya Ditanggung Qatar Kirim 1.000 Pendukung Timnas Jelang Laga Versus Kanada
  • MUI Serukan Masyarakat Lawan Gerakan Normalisasi LGBT
  • AS-Iran Capai Kesepakatan Final, Trump dan Pezeshkian Resmikan Memorandum
  • AI Grok Besutan Elon Musk Dipakai dalam Serangan AS Terhadap Iran
  • Santri Tahfidz Ar-Riyadh Tampil pada Pembukaan Rapat Paripurna DPRD Bontang
  • Hijrah Digital adalah Upaya Memuliakan Waktu di Era Teknologi
  • Tahun Baru Hijriah, Kini Punya Makna Perubahan Orientasi Hidup dan Kepedulian Sosial
  • Wakaf Al-Qur’an, Tumbuhkan Generasi Qurani di Cibuntu

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Opini

Zohran Mamdani dan Paranoia Primitif di Jantung Amerika

11 November 2025 16:00
Opini

Ketika Bertanya Dianggap Bersalah: Membaca Logika Polisi atas Kasus Roy Suryo Cs

10 November 2025 10:19
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?