Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Berita

Pengurangan Penggunaan Bahasa Inggris Ditentang Universitas dan Mahasiswa Belanda

Ama Farah
Terakhir diupdate: 28 Juni 2023 15:49 3:49 pm
Ama Farah
Dipublikasikan 28 Juni 2023 15:49
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com– Universitas, staf pengajar, dan mahasiswa mengkritik rencana pemerintah untuk mengurangi penggunaan bahasa Inggris di lembaga pendidikan Belanda, dengan alasan hal itu akan merusak reputasi dan penelitian mereka. 

Menteri Pendidikan Belanda Robbert Dijkgraaf berencana membatasi penggunaan bahasa asing dalam proses pembelajaran di tingkat sarjana menjadi sepertiga dari kredit kuliah, dengan tujuan agar mahasiswa asli Belanda tidak terdesak dan mendorong mahasiswa asing lebih giat belajar bahasa lokal dan tinggal di negeri kincir angin itu.

Perubahan batasan itu hanya bisa dilakukan dengan izin dari menteri, kata Kementerian Pendidikan mengkonfirmasi hari Selasa (27/6/2023) seperti dilansir Dutch News. Selain itu, kuliah dalam bahasa aing lain akan dikaji ulang guna memastikan apakah mereka layak didanai oleh uang negara.

Pada bulan April, Kementerian Pendidikan mengumumkan bahwa ketentuan baru itu akan berusaha untuk “mengelola dan mengarahkan” jumlah siswa internasional di Belanda dengan lebih baik, setelah muncul kekhawatiran di seluruh negeri bahwa perkuliahan dalam bahasa Inggris berarti akan menggerus talenta-talenta dari dalam Belanda sendiri.

Saat ini terdapat 122.000 mahasiswa internasional di Belanda, tiga setengah kali lebih banyak dibandingkan tahun akademik 2005. Sekitar 15% mahasiswa bukan orang Belanda.

Baca Juga

Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait

Sebagian kalangan khawatir jika rencana tersebut berjalan seperti yang terlihat saat ini, Kementerian Pendidikan tidak hanya akan merusak sektor pendidikan dan pasar pekerjaan di masa depan, tetapi juga reputasi negara Belanda.

Kritik terhadap kebijakan itu paling kuat datang dari Eindhoven University of Technology, yang saat ini memberikan kuliah tingkat sarjana dan master seluruhnya dalam bahasa Inggris. Robert-Jan Smits, pimpinan badan eksekutif universitas itu, mengatakan kepada Dutch News bahwa kuota bahasa itu justru akan merusak baik reputasi universitasnya maupun negara Belanda sendiri di kancah internasional.

“Kami berlokasi di Eindhoven, pusat teknologi tinggi Belanda, ekonomi yang berkembang pesat dengan perusahaan seperti Philips Electronics, ASML, NXP, dan kami telah melakukan semuanya dalam bahasa Inggris,” kata Smits.

“Untuk beberapa mata kuliah bahkan kami tidak menemukan profesor yang bisa berbahasa Belanda. Jika kami diwajibkan untuk memberikan sebagian besar dari kuliah sarjana kami dalam bahasa Belanda, kami tidak akan dapat melakukan itu: kami bahkan tidak memiliki staf untuk mengajar misalnya AI dalam bahasa Belanda. Ada kekurangan yang sangat besar.”

Dia menambahkan bahwa tawaran pendidikan semua dalam bahasa Inggris yang disodorkan universitasnya adalah untuk menarik bakat internasional terbaik.

“Belanda selalu memiliki masyarakat liberal di mana setiap orang diterima,” kata Smits. “Itulah kekuatan Belanda, toleransi, keterbukaan. Ini terasa sangat bertentangan dengan semangat Belanda.”

Lulusan Universitas Delft bernama Marco mengatakan bahwa dia datang ke Belanda dari Italia lewat program Erasmus+, menuntaskan PhD-nya di sana dan sekarang sedang mempelajari bahasa Belanda dan menetap di Belanda.

“Akankah saya datang ke sini jika semua (perkuliahan) dalam bahasa Belanda? Jelas tidak,” katanya. “Berapa banyak sekolah di Eropa dan dunia pada umumnya yang mengajarkan bahasa Belanda sebagai bahasa kedua atau ketiga? Tidak banyak.”

Universitas Groningen mengeluarkan pernyataan yang menilai rencana Dijkgraaf itu, dipaparkan di parlemen pekan lalu, tampaknya justru akan “mengganggu kemampuan kami untuk berkontribusi pada nilai ekonomi pengetahuan Belanda”. 

Tampaknya menteri “ingin menggunakan bahasa sebagai instrumen untuk mengurangi penerimaan mahasiswa internasional,” kata pimpinan Universitas Groningen Jouke de Vries.

Kebijakan serupa pernah diambil di Denmark, tetapi kemudian dibatalkan karena dinilai justru merugikan negara itu sendiri. Menghapus bajsa Inggris berarti tidak menarik kedatangan talenta-talenta internasional dan membuat mereka takut belajar dan bekerja di Denmark karena kendala bahasa lokal.*

Redaktur: Ama Farah
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:bahasa inggrisBelandauniversitas
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Usia Warga Korea Selatan Resmi Menjadi Lebih Muda 1-2 Tahun
Tulisan selanjutnya Daging Bisa jadi Obat, Sekaligus Sumber Penyakit

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah

Berita
15 Juli 2026 21:36
INDEF: Bank Emas Berpotensi Besar Dorong Keuangan Syariah, Indonesia Masih Belum Tergarap
Croissant Viral Bergaya Vulgar Tak Penuhi Syarat Sertifikasi Halal, Ini Penjelasan MUI
Matinya Lindsey Graham, Senator AS Paling Vokal Bela ‘Israel’
Pakistan Jadi Tuan Rumah Konferensi Menteri Perempuan OKI, Bahas Sosial Ekonomi dan Politik

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Berita

Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf

18 Juli 2026 09:30
Berita

Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya

17 Juli 2026 15:23
Berita

Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak

17 Juli 2026 14:04
Berita

Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

15 Juli 2026 21:25
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?