Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
KajianSejarah

HAMKA Ditanya Belajar Agama Harus Ada Sanad, Begini Jawabannya 

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 2 Oktober 2023 13:43 1:43 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 1 Oktober 2023 21:00
Bagikan
Buya Hamka
Bagikan

Penting belajar agama menggunakan sanad atau ijazah guru, namun jangan sampai denganya menegasikan kelompok lain, kata Buya Hamka

Hidayatullah.com | DALAM rubrik “Tanja Djawab” majalah Gema Islam (No. 89/V/1966), Buya Hamka pernah ditanya anak SMA dari Malang bernama Ichlas tentang persoalan sanad dalam belajar ilmu agama.

Ichlas saat itu bercerita bahwa dia punya abang. Si abang punya guru agama.

Kata guru agamanya, berlajar ilmu agama (Al-Qur`an, hadits dan seabagainya) harus bersanad. Sebab ilmu tidak sah tanpa sanad seorang guru.

Menurutnya, orang belajar agama tanpa guru bagaikan hidup tanpa amir (pemimpin, red). Dan bila tak punya amir, maka matinya masuk kategori jahiliyah.

Baca Juga

Membangun Ketahanan Mental dengan Nilai-Nilai Al-Qur’an
Prajurit di Balik Layar, Pelita di Pinggir Jalan: Jejak Langkah Chumam Dasuki Merawat Literasi
Buya Natsir dan 1.000 Sarung untuk Tapol PKI
Jeritan Seorang Homoseksual dan Solusi Drs. Faruq Nasution
Teladan Jusuf Wibisono : Pejabat Masyumi yang Berintegritas Tinggi

***

Dalam jawabannya, Buya Hamka mengapresiasi maksud abang Ichlas mengenai pentingnya sanad dan guru. Belajar itu semestinya ada guru yang membimbing.

Hanya saja, menurut Hamka, ia benar dalam satu segi, tapi dapat ‘membahayakan’ dari segi yang lain, kalau semua digeneralisasi.

***

Seperti diketahui, dalam belajar agama lebih tepat memakai sanad atau ijazah guru. Makanya, kadang satu orang bisa mendapat banyak sanad karena belajar pada beberapa guru.

Sedangkan dalam pendidikan modern, ada yang dinamakan ijazah yang diberikan setelah siswa menyelesaikan tahapan belajar tertentu dan bisa lulus ujian.

Buya Hamka tetap menganggap baik cara pengambilan ilmu dengan sanad model klasik. Hanya saja kata Hamka, ada juga orang yang merasa telah mengambil sanad terjerumus kepada kultus, yang dampaknya menolak kelompok lain.

“Ditilik dari segi jang lain dan kenjataan sehari-hari jang kita lihat, menundjukkan bahwa Idjazah dari guru dan Isnad itu menimbulkan Kultus Perseorangan, memudja guru. Tidak ada guru jang sebenar guru sadja!. Tidak ada satu idjazah jang tulen ilmunja kalau bukan dari guru saja!”

Akibat kultus ini berakibat efek lain. Misalnya bersikap keras, menjadi fanatik, dan selain dari gurunya dianggap tak benar, dan yang benar hanyalah golongannya, tidak mau memperhatikan dasar pendirian orang lain, benci kepada orang yang tak sepaham dan efek buruk lainnya.

“Orang2 sematjam ini susah buat diadjak bitjara. Susah buat diadjak bertukar fikiran. Sebab segala ilmu didunia ini tidak ada jang boleh diterima, kalau tidak mendapat idjazah dari Sjaihch mereka sendiri,” kata Buya Hamka.

Faktanya, kata Buya Hamka, terkadang ijazah-ijazah atau sanad–sanad itu tidak menjadi ilmu yang dapat diketengahkan. Ia diambil semata-mata untuk membatasi diri dan memamerkan kebesaran guru kepada murid. Kadang-kadang sang guru secara eksklusif berpesan kepada murid agar tidak bergaul dengan orang lain.

Hamka dalam hal ini menyebutkan beberapa contoh di lapangan yang menyalahgunakan sanad dan ijazah guru. 

“Umumnja mereka tidak mau bergaul ke tengah, karena dengan mengisolasikan diri itulah mereka merasa selalu menang dan selalu di pihak benar!  Mereka enggan bahwa pendirian atau kebenaran mereka akan dapat diudji dan diperbandingkan dengan pendapat jang lain,” kata Hamka.

***

Dari penjelasan Buya Hamka, poin pentingnya di antaranya: sanad keilmuan itu memang penting (dalam pengertian perlu guru dan pembimbing otoritatif dalam belajar ilmu agama).

Hanya saja tidak boleh pada taraf menjadikan orang fanatik, bahkan mempergunakannya untuk kepentingan pribadi dan golongan sehingga menegasikan yang lain. Maka dalam hal ini, umat perlu hati-hati betul dalam penggunaan istilah ini.

Belum lagi pengertian sanad yang berbeda-beda antar golongan. Orang bermazhab salaf juga menyerukan ilmu harus ada sanad, kalangan tradisionalis salafaiyah juga mengaku harus bersanad.

Dulu –mungkin sampai sekarang– gerakan Darul Hadits, juga mengangkat masalah sanad, yang menganggap selain dari Hasan Ubaidah (sang guru besar-nya), maka sanadnya perlu ditinjau kembali.*/Mahmud Budi Setiawan

Yuk bantu dakwah media melalui BCA 1280720000 a.n. Yayasan Baitul Maal Hidayatullah (BMH)

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:belajar agamaBuya HamkaHeadlineijazahsanadsanad ilmu
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Apple Akui iPhone 15 Terlalu Panas karena Masalah Software Bukan Casing
Tulisan selanjutnya PPATK Memblokir 1000 Rekening Judi Online dengan Transaksi lebih dari Rp 160 Triliun

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Gempa M 5,6–5,7 Guncang Mesir, Getaran Terasa hingga Sejumlah Negara Timur Tengah 

Berita
3 Agustus 2026 08:34
Dituduh Plagiat Profesor Kulit Hitam Termuda Cambridge Mengundurkan Diri
Turki, Arab Saudi, dan Pakistan Bentuk Pakta Pertahanan Makkah: “Serang Satu, Hadapi Bertiga” 
Serangan Houthi Lukai 11 Orang, Koalisi Saudi: Sengaja Targetkan Sipil
Kerusuhan antara Hindu dan Muslim, Apa yang Sebenarnya Terjadi di Nepal?

Terbaru

  • Inilah Lima Poin Utama Pakta Pertahanan Mekkah antara Turki-Arab Saudi dan Pakistan
  • Liga Arab Sambut Pakta Pertahanan Makkah untuk Dunia Islam
  • Turki, Arab Saudi, dan Pakistan Bentuk Pakta Pertahanan Makkah: “Serang Satu, Hadapi Bertiga” 
  • Peringatan Arbain, Pro-Rezim Iran Bentrok dengan Pendukung Sadiq al-Shirazi
  • Pasukan Keamanan Nigeria Selamatkan 308 Korban Penculikan dari Taman Nasional Danau Kainji
  • Seminar Hidayatullah Bahas Isu LGSP dari Perspektif Psikologi, Keluarga dan Hukum
  • Militer Uganda Beri Penghormatan Abang Benyamin Netanyahu dengan Patung Memorial di Entebbe
  • MUI Tegaskan Pria Berbusana Wanita dalam Karnaval Kemerdekaan Hukumnya Haram
  • Jutaan Senjata Api di Tangan Warga Sipil, Thailand akan Perketat Izin Kepemilikan Usai Penembakan di Sekolah
  • Pelajar Pelaku Penembakan di Sekolah Bergengsi Thailand Pendiam dan Kerap Main Game Kekerasan

Mungkin Anda Juga Suka

Ghazwul FikrKajian

Krisis Makna di Era Modern dan Jalan Kembali kepada Wahyu

26 Juni 2026 11:30
Kajian

Khutbah Jumat: Tauhid, Fondasi Peradaban yang Tak Pernah Runtuh

24 Juni 2026 14:35
Sejarah

Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah

15 Juni 2026 07:41
Hikmah

Sikap Prof. H. M. Rasjidi terhadap Jabatan

13 Juni 2026 04:49
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?