Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
BeritaLensa

Mendulang Rezeki dari Budidaya Rumput Laut Desa Kupang

Ahmad
Terakhir diupdate: 5 November 2023 01:33 1:33 am
Ahmad
Dipublikasikan 6 Desember 2022 13:26
Bagikan
Buruh tambak, Munajab (65 tahun), sedang menjemur rumput laut Gracilaria sp di Kampung Budidaya Rumput Laut Desa Kupang, Sidoarjo, Senin (5/12/2022). (Foto: hidayatullah.com/Achmad Fazeri)
Bagikan

Hidayatullah.com– Munajab (65 tahun) harus menempuh perjalanan selama 1,5 jam untuk sampai di tempatnya bekerja. Ia berangkat dari rumahnya di Pandaan, Pasuruan menuju Kecamatan Jabon, Kabupaten Sidoarjo. Ia keluar mengendarai sepeda motor sebelum mentari menampakkan hidungnya

Meskipun jaraknya jauh, ia amat bersyukur bisa mendulang rezeki dari Kampung Budidaya Rumput Laut Desa Kupang di Kecamatan Jabon, Sidoarjo. Terlebih, dari situ ia bisa mencukupi kebutuhan keluarga, termasuk juga biaya sekolah anaknya.

“Saya jadi buruh di sini sudah hampir 8 tahun,” aku ayah dari tiga anak ini sambil menyungging senyum, saat berbincang dengan hidayatullah.com di tepi tambak, Senin (5/12/2022).

Pria asal Trosobo, Sidoarjo, ini mengaku memperoleh upah 1,7 juta rupiah dari 1 ton rumput laut kering yang dihasilkan. Upah tersebut ia dapatkan setiap selesai dilakukan penimbangan di gudang Kampung Budidaya Rumput Laut Desa Kupang.

“Kalau musim kemarau, penimbangan bisa dilakukan setiap 10 hari sekali. Namun untuk musim hujan seperti sekarang ini bisa 13-15 hari baru penimbangan. Sebab harus menunggu sampai benar-benar kering terlebih dahulu,” jelas Munajab yang biasa mengambil libur selama 2 hari setiap selesai “gajian”.

Baca Juga

Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait

Awalnya Sempat Dibuang

Munajab merupakan satu dari puluhan buruh tambak yang merasakan manfaat dari kehadiran Kampung Budidaya Rumput Laut Desa Kupang. Padahal, tahun 90-an rumput laut di Desa Kupang justru diacuhkan dan dibuang-buang. Para pemilik tambak lebih fokus kepada budidaya ikan bandeng dan udang.

Lantas, bagaimana ceritanya rumput laut kini menjadi produk unggulan dari Desa Kupang? Bahkan Kupang ditunjuk pemerintah setempat untuk menjadi Kampung Budidaya Rumput Laut serta dinobatkan sebagai satu dari puluhan Desa Devisa di provinsi Jawa Timur?

Kisah perjalanan budidaya rumput laut di Desa Kupang itu bermula ketika datang seorang pengusaha ke Desa Kupang dan menunjuk seorang petani tambak untuk membudidayakan rumput laut jenis Gracilaria sp.

Amin Tohari, pengurus “Samudera Hijau Satu”—Kelompok Pembudidaya Rumput Laut Desa Kupang, mengatakan waktu itu pertumbuhan rumput laut cukup bagus. Tapi setelah panen tak diambil oleh pengusaha tersebut, sehingga petani tambak membuang dan membagikan rumput laut itu secara cuma-cuma kepada siapapun yang berminat.

“Nah, yang dibuang itu akhirnya menyebar ke tambak-tambaknya orang,” terang Tohari kepada hidayatullah.com, Senin (5/12/2022).

Kala itu, Tohari melanjutkan, pemilik tambak di Desa Kupang masih banyak yang menganggap rumput laut sebagai hama—pengganggu bagi pertumbuhan udang maupun bandeng yang mereka budidayakan.

“Baru sekitar tahun 2000-an itu ada yang laku. Tengkulak pertama namanya Pak Wintari. Dulu harganya masih Rp 600 sampai Rp 800 per kilogram,” ujar Tohari.

Kemudian, sekitar tahun 2004, Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sidoarjo menunjuk Agus Rofiq dari Desa Kedung Cangkring dan Bustamin dari Desa Kupang guna membudidayakan rumput laut. Pertumbuhannya ternyata juga cukup bagus.

“Istilahnya, mereka sedang promosi. Tanam rumput laut itu begini caranya. Terus keuntungannya juga lumayan. Ada yang merespon, ada juga yang tidak. Tapi sejak itu memang mulai ada geliat dari petani tambak,” jelas Tohari.

Seiring berjalannya waktu, tahun 2009, terjadi kenaikan harga rumput laut. Petani tambak Desa Kupang pun ramai-ramai membudidayakan rumput laut Gracilaria sp tanpa harus menghentikan budidaya bandeng dan udang. Saat itu, harga jual dari petani tambak ke tengkulak mencapai Rp 7.500 sampai Rp 10.000 per kilogram.

“Setelah itu baru Pak Haji Mustofa terjun di dunia rumput laut. Seingat saya tahun 2013. Sebelumnya jadi penonton saja. Hanya budidaya udang dan bandeng,” kata Tohari.

Tohari mengatakan, saat Mustofa terjun ke budidaya rumput laut, banyak juragan rumput laut yang gulung tikar karena harganya anjlok. Meskipun begitu, Mustofa tak bergeming dan justru memiliki keinginan kuat mencoba budidaya rumput laut, dan ternyata berkembang sampai sekarang.

“Sejak Pak Haji Mustofa turun banyak dilirik oleh dinas maupun pengusaha. Tahun 2015 gencar-gencarnya,” jelas Tohari yang kemudian mulai ikut membudidayakan rumput laut pada tahun tersebut.

Dari Potensi 1.200 Hektar, Baru Tergarap 800 Hektar

Setelah suskes dikembangkan, potensi rumput laut di Desa Kupang ternyata amat besar. Bahkan, menurut Tohari, hasilnya dapat berkali-kali lipat dibanding dengan budidaya udang maupun bandeng yang sudah lebih dahulu dibudidayakan.

“Kalau bagus, tambak seluas 1 hektar itu mampu menghasilkan 2 ton rumput laut kering atau dari 1 kwintal (basah,-red) bisa menghasilkan 15 kilogram rumput laut kering,” jelas Tohari.

Di Desa Kupang sendiri, lahan tambak yang kini digunakan untuk pembudidayaan rumput laut sekitar 800 hektar dan dikelola oleh 167 pelaku utama Rumah Tangga Pembudidaya (RTP). Artinya, dari lahan seluas itu jika tergarap seluruhnya dengan baik, maka mampu menghasilkan 1.600 ton rumput laut kering.

Sementara, Tohari menambahkan, potensi lahan tambak yang bisa dimanfaatkan untuk budi daya rumput laut di tanah kelahirannya tersebut bisa mencapai 1.200 hektar.

“Untuk harga kering per kilogramnya dari petani itu variatif. Sekarang ini ada yang 6.000. Ada juga yang 6.300. Ya.., tergantung dari kualitasnya,” jawab Tohari ketika ditanya soal harga jual rumput laut kering dari para petani tambak ke tengkulak.

Mengenai siklus panennya, Tohari menjelaskan, rumput laut di Desa Kupang baru dapat dipanen setelah 2 bulan dari waktu tanam. Namun, dia menegaskan, untuk panen pertama, tidak boleh diambil semuanya. Tujuannya agar rumput laut yang baru ditanam tersebut dapat merata terlebih dahulu ke seluruh penjuru tambak.

“Sekali tanam, rumput laut dapat dipanen terus menerus. Itu nggak ada habisnya. Kecuali ada penyakit atau faktor alam. Seperti punya saya, itu tanam awal tahun 2015, sampai sekarang masih ada,” papar Tohari yang punya tambak warisan dari orangtuanya seluas 10 hektar.

Dicanangkan Sebagai Kampung Percontohan

Tak sekadar pemerintah setempat, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono pun telah mencanangkan Desa Kupang, Kecamatan Jabon, Kabupaten Sidoarjo sebagai percontohan Kampung Budidaya Rumput Laut.

“Pencanangan Kampung Budidaya Rumput Laut yang merupakan terobosan KKP ini diyakini dapat mendukung optimalisasi peningkatan kesejahteraan masyarakat pembudidaya di daerah,” terang Trenggono, dikutip hidayatullah.com dari siaran persnya.

Trenggono datang langsung ke lokasi budidaya rumput laut ini dalam rangka ingin menjadikan Desa Kupang sebagai kampung percontohan terkait budidaya rumput laut, yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat.

Di Desa Kupang sendiri, komoditas unggulannya adalah jenis Gracilaria sp (rumput laut merah) yang memiliki nilai ekonomis tinggi untuk keperluan industri modern, baik itu di bidang pangan maupun non-pangan.

“Total produksi rumput laut mencapai 200-500 ton per bulan dengan harga jual kurang lebih Rp 6.000 per kilogram. Perputaran ekonomi rumput laut di kawasan Jabon sekitar Rp 1,2-3 miliar per bulan,” jelas Trenggono.

Dengan mengusung konsep Corporate Farming, pencanangan kampung budi daya rumput laut di Desa Kupang ditargetkan bisa menjadi pemicu tumbuhnya aktivitas ekonomi turunan seperti usaha pengolahan dan sebagainya.

Menurut Trenggono konsep ini dilakukan dengan menyinergikan berbagai potensi guna mendorong berkembangnya sistem usaha perikanan budidaya yang berdaya saing dan berkelanjutan.

“Hasil utama tambak ini harus dikembangkan agar bisa menjadi contoh kampung budidaya yang semakin meningkat produktivitasnya. Untuk itu, KKP melalui DJPB melakukan pendampingan teknologi pada kegiatan polikultur guna meningkatkan nilai tambah,” jelas Trenggono.

Keberhasilan Desa Kupang baik sebagai Kampung Budidaya Rumput Laut maupun Desa Devisa yang memberikan kontribusi besar bagi perekonomian bangsa, tentu tidak lepas dari peran berbagai pihak salah satunya adalah PT Pertamina Gas atau Pertagas Eastern Java Area (EJA).

Berikut beberapa potret buruh tambak di Kampung Budidaya Rumput Laut Desa Kupang Sidoarjo:

Buruh tambak, Munajab (65 tahun), sedang memanen rumput laut Gracilaria sp di Kampung Budidaya Rumput Laut Desa Kupang, Sidoarjo, Senin (5/12/2022). (Foto: hidayatullah.com/Achmad Fazeri)
Buruh tambak, Munajab (65 tahun), sedang memindah rumput laut Gracilaria sp dari getek ke rak penjemuran di Kampung Budidaya Rumput Laut Desa Kupang, Sidoarjo, Senin (5/12/2022). (Foto: hidayatullah.com/Achmad Fazeri)
Buruh tambak, Munajab (65 tahun), membolak-balik rumput laut Gracilaria sp di atas rak penjemuran di Kampung Budidaya Rumput Laut Desa Kupang, Sidoarjo, Senin (5/12/2022). (Foto: hidayatullah.com/Achmad Fazeri)
Para buruh angkut siap mengangkut rumput laut Gracilaria sp dari penyimpanan di tambak menuju gudang utama Kampung Budidaya Rumput Laut Desa Kupang, Sidoarjo, Jawa Timur, Senin (5/12/2022). (Foto: hidayatullah.com/Achmad Fazeri)
Buruh pengangkut dalam perjalanan menuju gudang utama Kampung Budidaya Rumput Laut Desa Kupang di Sidoarjo, Jawa Timur, Senin (5/12/2022). (Foto: hidayatullah.com/Achmad Fazeri)
Buruh angkut masuk ke gudang Samudera Hijau Satu untuk menurunkan rumput laut Gracilaria Sp yang kering dari tambak di Kampung Budidaya Rumput Laut Desa Kupang, Sidoarjo, Senin (5/12/2022). (Foto: hidayatullah.com/Achmad Fazeri)
Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:desa kupangkampung budidaya rumput lautpertamina gasrumput lautsamudera hijau satu
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya filsafat Filsafat Sejarah Islam
Tulisan selanjutnya DPR RI Komisi IV RUU KUHP Sah Menjadi UU Mengakhiri 104 Tahun Hukum Buatan Belanda

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Hukuman Mati In Absentia Bagi Pemimpin RSF Mohamed Hamdan Daglo

Berita
15 Juli 2026 09:27
Relawan Bantuan di Gaza Syahid Dibom ‘Israel’ usai Gelar Nobar Piala Dunia
MPR Singgung LGBT di Muswil BKPRMI DKI Jakarta, Ajak Pemuda Masjid Selamatkan Generasi Muda
Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
Matinya Lindsey Graham, Senator AS Paling Vokal Bela ‘Israel’

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Berita

Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf

18 Juli 2026 09:30
Berita

Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya

17 Juli 2026 15:23
Berita

Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak

17 Juli 2026 14:04
Berita

Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah

15 Juli 2026 21:36
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?