Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Kajian

Menjadi Teman dan Pembisik yang Baik

Ahmad
Terakhir diupdate: 24 Januari 2024 14:58 2:58 pm
Ahmad
Dipublikasikan 24 Januari 2024 15:30
Bagikan
ilustrasi: Ceredwyn Sykolsky
Bagikan

Tidaklah Allah mengutus seorang Nabi atau mengangkat khalifah/ pemimpin, melainkan ada dua pengawal, orang dekat, orang kepercayaan, atau pembisik, yang memerintahkan perkara baik

Hidayatullah.com | ADA NARASI yang telah popular di masyarakat, khususnya kalangan aktivis politik praktis, atau minimalnya simpatisan dari sebuah kendaraan politik. “Tidak ada pertemanan abadi, yang ada adalah kepentingan abadi”.

Demikian kalimat ini sering muncul, terutama jelang perhelatan hajat demokrasi. Bagaimana Islam memandang persoalan ini? Sebagai ummat Rasulullaah ﷺ tentunya hal ini menjadi sangat penting untuk dikritisi.

Pertama; Dalam Al-Qur’anul Kariim digambarkan, bahwa pertemanan orang-orang bertaqwa itu abadi hingga hari akhir. Allah ‘azza wa jalla berfirman:

الأخلاء يومئذ بعضهم لبعض عدو إلا للمتقين

Baca Juga

Jeritan Seorang Homoseksual dan Solusi Drs. Faruq Nasution
Teladan Jusuf Wibisono : Pejabat Masyumi yang Berintegritas Tinggi
Krisis Makna di Era Modern dan Jalan Kembali kepada Wahyu
Khutbah Jumat: Tauhid, Fondasi Peradaban yang Tak Pernah Runtuh
Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah

“Pertemanan di hari itu [hari qiyamat] satu sama lain menjadi musuh, kecuali orang-orang bertaqwa.” (QS. Az-Zukhruf/ 43: 67).

Kedua; Selain ayat sebelumnya, juga Allah ‘azza wa jalla memberikan jaminan kepada siapa saja dari orang-orang beriman, lalu diikuti oleh keturunannya, maka mereka akan dikumpulkan kembali dalam satu hamparan-Nya [yakni halaqah] yang teramat mulia di akhirat kelak.

والذين أمنوا واتبعتهم ذريتهم بإيمان ألحقنا بهم ذريتهم وما ألتناهم من عملهم من شيء كل امرئ بما كسب رهين

“Orang-orang beriman beserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami pertemukan mereka dengan anak cucu mereka [di dalam surga], dan Kami tidak mengurangi sedikitpun pahala amal [kebajikan] mereka. Setiap orang terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (QS. At-Thuur/ 52: 21)

Dari dua ayat ini saja sangat jelas, pertemanan atau kekerabatan bagi orang-orang muttaqiin itu, bukanlah sebatas ada kepentingan sesaat. Melainkan persahabatan yang melekat dalam jiwa dan mampu mengantarkan mereka pada kemuliaan alam akhir.

Dengan demikian, narasi popular sebagaimana diawal tidak layak untuk diabadikan.

Biasanya, dalam konteks kepemimpinan atau kekuasaan, kita sering dikenalkan dengan istilah “orang dekat” atau “orang dalam”. Atau lebih spesifik lagi menggunakan sebutan “orang kepercayaan” yang dalam bahasa wahyu menggunakan kata bithaanah dengan terjemah yang beragam. Larangan Al-Qur’an tentang dijadikannya selain orang beriman sebagai “teman kepercayaan” [Lihat QS. Ali ‘Imran/ 3: 118], merupakan terjemah yang umum digunakan.

Sedangkan dalam hadits Rasulullaah ﷺ sering diterjemahkan dengan “para pembisik”. Sekalipun berbeda istilahnya, namun hakikatnya adalah sama.

Imam Abu Zakariya an-Nawawi menuliskan bab khusus dalam kitab monumental Riyadhus Shalihin, terkait anjuran untuk para hakim, sulthan [dan yang sederajat] agar mereka tidak menjadikan para kabinetnya [menteri, staf, pengawal dan yang sederajat] dari kalangan orang-orang yang buruk, serta mewaspadai terjadinya kroni-kroni yang jahat.

Tertera dengan jelas dalam bab tersebut: “Hatstsul qaadhiy was sulthaan wa ghaiyrihimaa min wulaatil umuuri ‘alaa ittikhaadzi waziiri shaalih wat tahdziiru min quranaais suui”. Ini menunjukkan bahwa urusan “orang dekat” yang akan menjadi pendamping sang pemimpin benar-benar kalangan yang bisa dan mampu dipercaya.

Di antara hadits-hadits mulia yang dibawakannya adalah sebagai berikut:

مابعث الله من نبي ولا إستخلف من خليفة، إلا كانت له بطانتان؛ بطانة تأمره بالمعروف وتحضه عليه، وبطانة تأمره بالشر وتحضه عليه. والمعصوم من عصم الله

“Tidaklah Allah ‘azza wa jalla mengutus seorang Nabi atau mengangkat seorang khalifah [pemimpin], melainkan padanya ada dua pengawal [orang dekat, orang kepercayaan, atau pembisik]; pembisik yang memerintahkan perkara baik dan ia mendukungnya serta pembisik yang memerintahkan perkara buruk dan ia mendukungnya. Orang yang terpelihara, adalah yang dijaga Allah ‘azza wa jalla.” (HR. Al-Bukhari dari shahabat Abu Sa’id al-Khudri dan Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhumaa).

Bagaimana cara membedakan antara pembisik yang baik dengan pembisik yang buruk?

Ummul Mukminiin ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anhaa menuturkan sabda Rasulullaah  ﷺ berikut ini:

إذا أراد الله بالأمير خيرًا جعل له وزير صدق؛ إن نسي ذكَّره، وإن ذكَر أعانه، وإذا أراد به غير ذلك جعل له وزير سوء؛ إن نسي لم يذكِّره، وإن ذكَر لم يُعِنه

“Apabila Allah ‘azza wa jalla menghendaki kebaikan bagi seorang pemimpin, maka Allah jadikan baginya menteri (amir) yang baik; jika pemimpin lupa ia mengingatkannya, jika pemimpin ada dalam kebenaran ia membantunya. Dan apabila Allah ‘azza wa jalla menghendaki selain itu [bukan kebaikan] bagi seorang pemimpin, maka Allah jadikan baginya menteri (amir) yang buruk; jika pemimpin lupa ia tidak mengingatkannya, jika pemimpin ada dalam kebenaran ia tidak membantunya.” (HR. Abu Dawud dengan sanad jayyid berdasarkan persyaratan Imam Muslim).

Sungguh benar, lahirnya pemimpin yang baik sangat ditentukan oleh masyarakatnya yang baik pula. Masyarakat yang baik sangat ditentukan oleh kehidupan sosial dan kehidupan moral yang baik.

Di antara kehidupan sosial dan moral yang baik adalah tercermin dalam pergaulan, pertemanan dan persahabatan yang menjunjung prinsip dasar kehidupan; “silih asah, silih asih dan silih asuh”.

Jangankan membantu kebaikan terhadap sesama [terlebih terhadap pemimpin], sekadar “membisikkan” kebenaran saja akan sangat berpengaruh dalam mewujudkan kehidupan yang lebih bahagia dan bermartabat. Semoga!.*/Teten Romly Qomaruddien

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:HeadlineKhalifahorang dekatpembisikpemimpinpengawalperkara baikPilihan Redaksi
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya China Paling Banyak Penjarakan Wartawan, Mayoritas Warga Uighur
Tulisan selanjutnya Indonesia Tolak ‘Israel’ yang Menentang Negara Palestina

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Artikel

Pena Muballigh Menentukan Masa Depan Peradaban Islam

Artikel
21 Juli 2026 07:00
Masjid Jadi Sasaran, Pemukim ‘Israel’ Lanjutkan Aksi Pembakaran di Tepi Barat
Hukuman Mati In Absentia Bagi Pemimpin RSF Mohamed Hamdan Daglo
Belgia Resmi Larang Impor Barang dari Permukiman Ilegal ‘Israel’
Kelompok Houthi Nyatakan Blokade Laut terhadap Arab Saudi

Terbaru

  • Buya Amirsyah Ajak Seniman Muslim Bangun Peradaban Bangsa Melalui Kebudayaan Islam
  • AS Lancarkan Gelombang Serangan ke Iran, Ledakan Terdengar di Sejumlah Kota
  • Empat Negara Islam Sepakat Hidupkan Kembali Jalur Kereta Hijaz Warisan Utsmaniyyah
  • Pena Muballigh Menentukan Masa Depan Peradaban Islam
  • Kelompok Houthi Nyatakan Blokade Laut terhadap Arab Saudi
  • SPI Himpun Lembaga Dakwah Perkuat Bela Palestina
  • Belgia Resmi Larang Impor Barang dari Permukiman Ilegal ‘Israel’
  • Obituari: Zeyd Baktir, Penggerak Sunyi di Jalan Dakwah
  • Masjid Jadi Sasaran, Pemukim ‘Israel’ Lanjutkan Aksi Pembakaran di Tepi Barat
  • Fasilitas Kesehatan Belum Pulih, Cacar Air Mewabah di Gaza

Mungkin Anda Juga Suka

Hikmah

Sikap Prof. H. M. Rasjidi terhadap Jabatan

13 Juni 2026 04:49
Kajian

Keutamaan Puasa Tarwiyah dan Puasa Arafah

26 Mei 2026 09:00
Kajian

Rahasia Hari Arafah yang Dibenci Iblis: Inilah 10 Keutamaannya

26 Mei 2026 08:30
Sejarah

H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina

23 Mei 2026 15:57
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?