Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Berita

Pasca Serangan Moskow, Etnis Tajik jadi Sasaran Rasisme

Ahmad
Terakhir diupdate: 1 April 2024 17:16 5:16 pm
Ahmad
Dipublikasikan 1 April 2024 17:16
Bagikan
Etnis Tajik di Rusia: Kaum migran asal Asia Tengah di Rusia semakin dimusuhi sejak ada tujuh etnis Tajik jadi tersangka serangan teror Moskow
Bagikan

Hidayatullah.com—Calon penumpang taksi di Rusia  belakangan sering menanyakan latar belakang etnis pengemudi taksinya. “Apakah Anda orang Tajik? Jika iya, batalkan pesanannya!” Komentar bernada pedas semacam itu belakangan sering didengar pengemudi taksi sejak serangan teror di Crocus City Hall, Moskow, pekan lalu.

Sejauh ini, aparat keamanan telah menahan setidaknya 11 orang, termasuk tujuh tersangka yang berasal dari etnis minoritas Tajik. Kelompok teror Islamic State Provinsi Khorasan, ISIS-K, mengaku bertanggung jawab atas tragedi tersebut.

Serangan yang menelan 143 korban jiwa memicu perdebatan di Rusia soal longgarnya aturan keimigrasian. Akibatnya, tren xenofobia menguat terhadap migran asal Asia tengah yang bekerja di Rusia, terutama warga Tajik.

Migran Asia Tengah

Usai teror di Moskow, komunitas Tajik mulai saling memperingatkan satu sama lain agar tidak meninggalkan rumah di malam hari, menurut laporan Baza, sebuah outlet media Rusia.

Baca Juga

SPI Himpun Lembaga Dakwah Perkuat Bela Palestina
Belgia Resmi Larang Impor Barang dari Permukiman Ilegal ‘Israel’
Obituari: Zeyd Baktir, Penggerak Sunyi di Jalan Dakwah
Masjid Jadi Sasaran, Pemukim ‘Israel’ Lanjutkan Aksi Pembakaran di Tepi Barat
Fasilitas Kesehatan Belum Pulih, Cacar Air Mewabah di Gaza

Pekan ini, sejumlah negara Asia Tengah, seperti Kyrgyzstan, merilis peringatan perjalanan kepada warganya agar tidak bepergian ke Rusia.

Meskipun xenofobia telah lama menghantui komunitas Asia Tengah di Rusia, banyak warga Tajik yang khawatir keadaan akan semakin memburuk.

Alisher, seorang petugas pemadam kebakaran beretnis Tajik di Saint Petersburg, mengatakan kepada DW bahwa setelah teror ISIS-K, dia mulai sering dirundung orang tak dikenal di jalan.

“Suatu kali mereka menanyakan etnis saya dan apakah saya mendukung teroris. Saya mengatakan kepada mereka bahwa saya adalah warga negara Rusia tanpa aksen apa pun, dan mereka meninggalkan saya sendirian. Saya berada di sini secara sah, tetapi mereka yang berada di sini secara ilegal akan sangat takut dideportasi,” kata Alisher.

Kanal Telegram kaum ultranasionalis Rusia dibanjiri hasutan tindak kekerasan terhadap migran dan menyarankan agar warga Asia Tengah dan seluruh keluarga mereka dideportasi.

Sebelum serangan, Abdullo, seorang warga negara Tajikistan penjual buah di salah satu pasar Moskow mengatakan, kadang-kadang dia menerima pesan xenofobia di media sosial. Tapi setelah tragedi Jumat lalu, pesan kebencian semakin berhamburan.

“Mereka mengancam dan memaksa saya agar meninggalkan Rusia. Tapi saya tidak menganggapnya serius, karena saya tidak bisa mendapatkan kehidupan yang baik di kampung halaman saya di Tajikistan,” katanya.

Serangan Fisik Warga Tajik di Rusia

Pelecehan terhadap warga Asia Tengah juga tidak hanya terjadi secara verbal, namun juga dalam bentuk fisik. Di Blagoveshchensk, di wilayah Timur Jauh Rusia, misalnya, sebuah kafe yang dikelola oleh warga negara Tajikistan dibakar.

Dalam insiden lain di Kaluga, sebuah kota yang terletak 200 kilometer dari Moskow, tiga warga Tajikistan dipukuli oleh orang tak dikenal. Sabtu lalu, sekelompok warga Kyrgyzstan yang baru tiba di bandara ditahan untuk pemeriksaan.

Kantor berita negara Rusia RIA Novosti melaporkan, pengawasan terhadap pendatang asing memang akan diperketat.

Edward Lemon, pakar Asia Tengah dan profesor riset di Texas University, menilai masyarakat Rusia cenderung memandang kawasan Asia Tengah sebagai daerah terbelakang, meski adanya upaya untuk “membudayakan” wilayah terluar di era Uni Sovyet.

“Media dan influencer nasionalis menggambarkan orang-orang Asia Tengah sebagai bangsa yang tidak berpendidikan, berpotensi menjadi penjahat dan teroris,” kata Lemon. Akibatnya, “mereka menghadapi marginalisasi dan rasisme setiap hari.”

Masa Depan Migran Asia Tengah di Rusia

Kebanyakan migran dari Asia Tengah datang untuk bekerja di Rusia sebagai supir taksi, petugas kebersihan dan pekerja konstruksi. Menurut Institut Penelitian Demografi di Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia, pada tahun 2023 lebih dari 3 juta migran Tajikistan tinggal di Rusia.

Temur Umarov, peneliti di Carnegie Rusia, berpendapat bahwa serangan tersebut akan berdampak terhadap kehidupan sehari-hari kaum migran. Dia meragukan, Rusia bersedia menghentikan arus migran, karena perekonomian yang sangat bergantung pada pasokan tenaga kerja murah dari Asia Tengah.

“Saya rasa situasi ini tidak mungkin diubah karena tidak ada cukup warga Rusia pada usia tertentu yang mampu menggantikan 5–6 juta pekerja migran setiap tahunnya, mengingat situasi demografis yang semakin buruk. Akan menjadi keajaiban, jika Rusia mampu mengusir migran dan menggantikannya dengan orang Rusia,” pungkas Umarov.

Mayoritas penduduk Tajikistan (panggilan bagi masyarakat beretnis Tajik) beragama Islam , sebagian besar Sunni mazhab Ḥanafī . Sebagian kecil Muslim adalah Ismaʿīlī Shiʿi , yang sebagian besar berlokasi di Pamir. Populasi Kristen sebagian besar adalah orang Rusia, namun sebagian besar etnis Rusia telah meninggalkan negara tersebut sejak disintegrasi Uni Soviet.*

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Etnis TajikrasisrusiaTajikistanxenophobia
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Kekalahan Partai Erdogan di Pilkada Turki
Tulisan selanjutnya Delapan Mayat Migran China Terdampar di Pantai Meksiko

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

INDEF: Bank Emas Berpotensi Besar Dorong Keuangan Syariah, Indonesia Masih Belum Tergarap

Berita
14 Juli 2026 19:51
Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
MUI: Fatwa Hukuman Mati bagi Koruptor Sudah Ada Sejak 2005, Tinggal Menjadi Hukum Positif
SPI Himpun Lembaga Dakwah Perkuat Bela Palestina
Belgia Resmi Larang Impor Barang dari Permukiman Ilegal ‘Israel’

Terbaru

  • SPI Himpun Lembaga Dakwah Perkuat Bela Palestina
  • Belgia Resmi Larang Impor Barang dari Permukiman Ilegal ‘Israel’
  • Obituari: Zeyd Baktir, Penggerak Sunyi di Jalan Dakwah
  • Masjid Jadi Sasaran, Pemukim ‘Israel’ Lanjutkan Aksi Pembakaran di Tepi Barat
  • Fasilitas Kesehatan Belum Pulih, Cacar Air Mewabah di Gaza
  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait

Mungkin Anda Juga Suka

Berita

Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang

18 Juli 2026 11:26
Berita

Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air

18 Juli 2026 10:48
Berita

China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat

18 Juli 2026 10:12
Berita

Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait

18 Juli 2026 09:49
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?