Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Artikel

Syekh Maulana Malik Ibrahim: Ulama Azerbaijan, Pelopor Dakwah di Jawa

Ahmad
Terakhir diupdate: 18 Juni 2024 00:43 12:43 am
Ahmad
Dipublikasikan 18 Juni 2024 06:00
Bagikan
Syekh Maulana Malik Ibrahim
Bagikan

Hidayatullah.com – Di sebelah timur Sumatra, ada pulau besar (Jawa) yang sangat subur. Namun sayang, sebagian besar penduduknya masih menyembah berhala. (Ibnu Batutah dalam Salim A.p Fillah, 2021)

Kalimat tersebut diungkapkan oleh Ibnu Batutah dalam buku catatan perjalanannya, al-Rihlah yang terbit pada abad ke-14 M.

Dalam bukunya, Ibnu Batutah mengungkapkan kesedihannya, bahwa sebagian besar masyarakat Jawa belum disentuh oleh dakwah Islam. Mereka masih diliputi kemusyrikan.

Pada abad ke-15 M, salinan buku al-Risalah di perpustakaan Universitas al-Azhar, Kairo, Mesir, dibaca oleh seorang mahasiswanya, Malik Ibrahim. Mahasiswa tersebut lahir dan dibesarkan di Azerbaijan.

Setelah membaca al-Rihlah, Ibrahim sangat mengagumi perjalanan keliling dunia yang dilakukan oleh penulisnya sendiri, Ibnu Batutah.

Baca Juga

Hubungan Agama dan Sains
Al-Qur’an, Ulama, dan Lembaga Pendidikan Islam: Kompas Peradaban di Tengah Disrupsi Zaman
Amerika dan Perang Salib Baru?
Pesan Khutbah Jum’at H. Agus Salim Tahun 1928: Persatuan Lahir dan Batin
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran

Karena pengaruh al-Rihlah, mahasiswa tersebut memiliki cita-cita kuat untuk berdakwah di Jawa, pulau subur yang diceritakan oleh Ibnu Batutah. Ia berharap, penduduk Jawa yang mayoritas masih musyrik, diberi hidayah oleh Allah swt. untuk menjadi umat Nab Muhammad saw.

Setelah dinyatakan lulus kuliah dari al-Azhar, Ibrahim mulai mewujudkan cita-citanya. Ia menumpang kapal layar (dahulu belum ada kapal motor) yang digerakkan oleh tiupan angin muson barat.

Dibutuhkan waktu sekitar dua tahun baginya untuk bisa mencapai pelabuhan Gresik, kota termaju di Jawa saat itu. Karena ia terlebih dahulu harus singgah, menetap, dan bekerja di beberapa kota pelabuhan yang dilaluinya, untuk mengumpulkan dana. Dana tersebut dijadikan sebagai modal agar bisa survive ketika sampai di Jawa.

Sewaktu kapal yang ditumpangi Ibrahim merapat di pelabuhan Gresik, ternyata Majapahit dilanda konflik bersenjata. Konflik tersebut dikenal sebagai Perang Paregreg.

Saat itu, Majapahit yang diperintah Raja Wikramawardhana, harus menghadapi kelompok pemberontak yang berkekuatan besar.

Perang Paregreg membuat sebagian besar petani tidak pergi ke sawah selama berbulan-bulan, karena takut dibunuh oleh pemberontak. Majapahit pun mengalami gagal panen, padahal sebelumnya dikenal sebagai kerajaan berswasembada pangan.

Akibat gagal panen, masa paceklik (krisis pangan) tidak dapat dihindari. Kelaparan juga dialami sebagian besar masyarakat kelas menengah ke bawah, yang tidak mampu membeli bahan pangan, karena harganya meroket.

Kondisi Majapahit yang dilanda krisis pangan, membuat Ibrahim tidak langsung berdakwah bil qalam melalui ceramah-ceramah. Ia memulai dakwah bil hal, dengan memanfaatkan dana yang dimilikinya, untuk membeli sawah-sawah terbengkalai di daerah aliran sungai Bengawan Solo.

Sebagian sumber sejarah menceritakan, bahwa profesi pertama yang digeluti Ibrahim di Majapahit adalah sebagai pedagang. Ia berjualan di bandar (pasar besar sekitar pelabuhan) Gresik, yang keuntungannya dipakai untuk menambah modal dalam pendanaan dakwahnya.

Meskipun tidak lama berdagang, keuntungan yang diperoleh Ibrahim sangat banyak. Karena ia berdagang dengan ananah dan humanis, seperti yang diajarkan dalam Islam. Tidak sedikit orang Majapahit yang senang bertransaksi dengan Ibrahim, bahkan terpesona dengan agama Islam yang dianutnya.

Ibrahim mengelola sawah-sawah terbengkai yang dibelinya, agar bisa ditanami kembali. Dengan ditemani sejumlah orang sahabat barunya (asli Jawa yang masih non-muslim), ia mulai aktif sebagai petani.

Ibrahim pun mempelopori revolusi pertanian padi, dari sistem tadah hujan, menjadi sistem irigasi, dengan memanfaatkan aliran sungai Bengawan Solo.

Revolusi pertanian tersebut akhirnya diketahui oleh Raja Wikramawardhana. Ibrahim pun diberi berhektar-hektar tanah oleh kerajaan untuk diolah menjadi sawah sistem irigasi. Banyak orang laki-laki juga dikerahkan kerajaan untuk membantu Ibrahim dalam menjalankan revolusi pertanian tersebut.

Perluasan wilayah pembuatan sawah irigasi semakin cepat dilaksanakan, setelah adanya bantuan dari ribuan tentara angkatan laut Cina pimpinan Laksamana Cheng Ho. Selama beberapa bulan, sambil menanti datangnya angin muson timur yang akan membawa mereka ke India dan Timur Tengah, tentara Cina membantu program revolusi pertanian yang digagas Ibrahim.

Program revolusi pertanian pun akhirnya berhasil, sehingga swasembada pangan dapat kembali dicapai Majapahit. Rakyat kelas menengah ke bawah tidak didera kelaparan lagi.

Sepeninggal Wikramawardhana, putri beliau, Dyah Suhita, dinobatkan sebagai penguasa baru Majapahit. Perang Paregreg pun berakhir, karena kelompok pemberontak dapat ditumpas.

Suhita yang perempuan, diangkat sebagai penguasa Majapahit, karena adik laki-lakinya, Dyah Ranawijaya (Brawijaya) masih kecil.

Tulisan ini juga dimaksudkan revisi atas artikel sebelumnya berjudul Ratu Dwarawati: Muslimah Vietnam, Pelopor Dakwah di Jawa. Dalam artikel tersebut, oleh penulis, disebutkan bahwa Wikramawardhana merupakan kakek Brawijaya. Padahal setelah diteliti lebih lanjut, ternyata Wikramawardhana adalah ayah kandung Brawijaya.

Keluhuran akhlak yang ditunjukkan Ibrahim, dan keberhasil revolusi pertanian membuat banyak pejabat maupun rakyat Majapahit secara sukarela _login_ke agama Islam.

Meskipun tidak masuk Islam, Ratu Suhita sangat menghormati Ibrahim yang dikenal sebagai figur berakhlak luhur. Ulama asal Azerbaijan yang oleh masyarakat dipanggil Syekh Maulana Malik Ibrahim tersebut, menerima gelar kehormatan sebagai Wong Agung ing Majapahit.

Oleh Ratu Suhita, Syekh Maulana Malik Ibrahim diberi sebidang tanah di Gresik untuk membangun pesantren dan sekolah da’i. Pesantren ini dijadikan sebagai basis dakwah beliau. Dan karena berkedudukan di kota pelabuhan tersebut, maka kelak beliau digelari sebagai Sunan Gresik.

Banyak sejarahwan yang menyatakan Sunan Gresik bukan termasuk pendiri ataupun penggiat Wali Songo, karena beliau wafat sebelum ormas para ulama tersebut dibentuk.

Namun beliau dianggap sebagai “ayah ideologis” Wali Songo, karena Sunan Gisik dan Sunan Ampel yang mendirikan ormas para ulama tersebut sempat berguru dan berkonsultasi secara intensif kepada Sunan Gresik. Wallahua’lam.*/Muh. Nurhidayat, Pengajar Ponpes Kun Sholihan dan PKBM al-Madinah, Gunungkidul, D.I. Yogyakarta

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:HeadlinesejarahSunan GresikSyekh Maulana Malik IbrahimulamaWali Songo
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Al Aqsha De Latinos BSD Qurban 76 Sapi dan 75 Kambing Senilai Rp 2,3 Miliar
Tulisan selanjutnya Setelah Disengat Panas Jamaah Haji Diguyur Hujan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Vatikan Pecat Kelompok Katolik Tradisional SSPX karena Menentang Paus

Berita
8 Juli 2026 06:56
Mengenang Pembantaian Srebenica, Ribuan Peserta Susuri Rute Pelarian Korban Genosida
30 Tahun Menyalahgunakan Kekuasaan Pejabat China Diganjar Hukuman Mati
Waketum PBNU KH Zulfa Mustofa Luncurkan Kitab Ithafu Ummati Al Muqtafa Jelang Muktamar PBNU ke 35
Indonesia Prioritaskan Promosi Produk Halal Lewat HEI 2026

Terbaru

  • Pengangguran di China Lahirkan Industri Baru: Kantor untuk “Pura-pura Bekerja”
  • ASN Jabar Bisa Dipecat Jika Terbukti Jadi Bagian Kelompok LGBT, Wagub Erwan Tegaskan Sanksi Terberat
  • Indonesia Prioritaskan Promosi Produk Halal Lewat HEI 2026
  • Korban di Gaza Capai 73.223, Barghouthi: Penjajah Jalankan Perang Pembersihan Etnis
  • Mantan Pemimpin Qatar Sheikh Hamad bin Khalifa Wafat
  • Dua Topan Mendera China dalam Sepekan Hampir 2 Juta Orang Dievakuasi
  • Trump Bilang 1.000 Rudal akan Memusnahkan Iran Apabila Presiden AS Dibunuh
  • Pejabat Libanon Konfirmasi Keikutsertaan Negaranya dalam Pembicaraan dengan Israel di Roma
  • Laporan Pesawat Kepresidenan AS Hadiah Qatar Bermasalah Berujung Pemanggilan Jurnalis New York Times
  • Mojtaba Khamenei Janji akan Menuntut Balas Kematian Ayahnya

Mungkin Anda Juga Suka

Ghazwul FikrKajian

Krisis Makna di Era Modern dan Jalan Kembali kepada Wahyu

26 Juni 2026 11:30
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai
Opini

Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

25 Juni 2026 17:06
Artikel

Khalwat Digital, Fenomena Pacaran Era Media Sosial

16 Juni 2026 16:34
Artikel

‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza

3 Juni 2026 05:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?