Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Feature

Umat Islam Bergabung dengan Budha dan Kristen Melawan Junta Militer Myanmar

Insan Kamil
Terakhir diupdate: 21 Oktober 2024 14:20 2:20 pm
Insan Kamil
Dipublikasikan 21 Oktober 2024 06:00
Bagikan
Umat Islam Bergabung dengan Budha dan Kristen Melawan Junta Militer Myanmar
Seorang petugas medis tempur berusia 28 tahun, yang telah bertugas di Kompi 3 sejak Oktober 2021 (Lorcan Lovett/Al Jazeera)
Bagikan

Di sebuah perbukitan hijau nan subur di Tanintharyi, Myanmar selatan, para pejuang perlawanan yang ditempatkan di pos memeriksa mobil dan truk yang melaju ke kota terdekat yang dikuasai junta militer. Suasana seperti ini merupakan pemandangan umum di wilayah tersebut, sejak militer melakukan kudeta tahun 2021.

Daftar isi
  • Berbagai Garis Keturunan
  • Sejarah Perlawanan Muslim
  • Untuk Semua Orang Burma
          • Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Di antara para pejuang perlawanan itu ada kelompok yang disebut 3rd Company. Mereka adalah para pejuang Muslim yang telah bergabung dalam barisan perlawanan bersenjata yang didominasi oleh Kristen dan Budha, yakni the Karen National Union (KNU).

Secara resmi diberi nama Kompi ke-3 Brigade 4 di KNU. Jumlahnya sekitar 130 prajurit. Ini hanyalah sebagian kecil dari puluhan ribu prajurit yang berjuang melawan junta militer Myanmar.

Belum lama ini wartawan Al Jazeera mengunjungi markas para pejuang tersebut. Lokasinya di antara pegunungan yang diselimuti hutan di bagian selatan Myanmar. Kelompok Muslim ini seperti menyatukan kembali benang yang hampir terlupakan dalam jalinan rumit konflik Myanmar.

“Beberapa daerah difokuskan pada etnis yang memiliki negara bagian mereka sendiri,” kata pemimpin 3rd Company, Mohammed Eisher, 47 tahun. Ia menjelaskan tentang gerakan perlawanan bersenjata yang telah lama berperang melawan militer Myanmar.

Baca Juga

10 Ribu Porsi Bakso untuk Ukhuwah di Muktamar NU
Kisah Mualaf Big Frank, Influencer Penuh Tato asal Inggris
Pengangguran di China Lahirkan Industri Baru: Kantor untuk “Pura-pura Bekerja”
Tangis Perempuan Guangzhou: Ketika Pasar Jodoh China jadi Cermin Krisis Sosial
Dari Ateis jadi Muslim: Perjalanan Simon Wallgren Menemukan Cahaya Islam

Di Tanintharyi, kata Eisher, tidak ada satu kelompok pun yang mendominasi. Selain itu, penindasan oleh junta militer telah menimpa semua kelompok. “Selama militer masih berkuasa, umat Islam dan semua orang lainnya akan tertindas,” katanya.

Eisher berharap keberagaman di dalam pasukan perlawanan akan membantu meredakan ketegangan budaya dan regional yang sebelumnya telah menyebabkan konflik di Myanmar. Menurut para cendekiawan, bergabungnya elemen Muslim menggambarkan sifat inklusif kaum perlawanan dan mampu mengakomodasi kelompok-kelompok yang sebelumnya terpinggirkan.

Berbagai Garis Keturunan

Umat Islam di Myanmar berasal dari beragam garis keturunan. Ada etnis Rohingya di bagian barat, etnis Muslim keturunan India dan Cina, serta suku Kamein yang nenek moyangnya diyakini sebagai pemanah pangeran Mughal (India) yang mencari perlindungan di kerajaan Arakan pada abad ke-17. Sekarang wilayah ini menjadi bagian dari Myanmar.

Di wilayah Tanintharyi, sebagian Muslim merupakan keturunan pedagang Arab, Persia, dan India. Ada pula orang Melayu Burma yang dikenal sebagai Pashu, suku Karen dan Mon, suku Bamar dari kota Dawei dan Myeik, dan lain-lain.

Meskipun seragamnya berlambang KNU, para prajurit Muslim membawa lencana bintang dan bulan sabit di tas mereka. Hal ini melambangkan garis keturunan mereka dari the All Burma Muslim Liberation Army (ABMLA).

Yang perempuan mengenakan hijab. Kaum laki-laki biasa memakai thobe, jubah tradisional berlengan panjang yang panjangnya sampai ke mata kaki seperti yang sering dikenakan oleh pria dan wanita di negara-negara Muslim.

Bacaan ayat-ayat al-Qur’an bergema dari sebuah masjid, sementara sajadah digelar di pos-pos perjuangan yang terpencil. Sepanjang bulan suci Ramadan, para pejuang berpuasa dan menunaikan shalat tarawih.

Junta militer Myanmar yang didukung oleh para biksu nasionalis garis keras selama ini menggambarkan kaum Muslim sebagai ancaman serius bagi budaya Budha Burma. Itulah sebabnya komunitas Muslim –yang telah tinggal lebih dari satu milenium di Myanmar—kerap menjadi kambing hitam, mengalami penindasan, dan tidak diakui sebagai warga negara.

“Umat Muslim di Myanmar sangat rentan dan telah menjadi korban kekerasan yang signifikan,” kata cendekiawan Myanmar, Ashley South. “Namun di wilayah Karen, sering ditemukan masyarakat yang hidup damai.”

Para pejuang di Kompi 3 salat di masjid di kamp utama mereka di Myanmar selatan (Lorcan Lovett / Al Jazeera)

Sejarah Perlawanan Muslim

Perlawanan umat Islam di Myanmar bukanlah hal baru. Ketika terjadi kerusuhan anti-Muslim pada bulan Agustus 1983, warga yang melarikan diri kemudian membentuk the Kawthoolei Muslim Liberation Front (KMLF). KNU pernah melatih 200-an orang pejuang KMLF. Tetapi perselisihan antara Sunni dan Syiah akhirnya memecah belah kelompok tersebut.

Pada tahun 1985, beberapa pejuang KMLF pindah ke Tanintharyi dan mendirikan ABMLA. Beberapa dekade terlibat bentrokan sporadis dengan junta militer, kemudian terbentuklah 3rd Company pada tahun 2015.

Kekejaman junta militer belakangan ini telah menghancurkan banyak keluarga di seluruh Myanmar. Tidak hanya bagi umat Islam dan etnis minoritas, tetapi juga bagi sebagian besar penduduk. Mereka semua mengutuk, kata seorang warga yang tidak mau disebut namanya.

“Kudeta (2021) membuka jalan menuju kebebasan bagi semua orang,” katanya kepada Al Jazeera, sambil duduk di tempat tidur gantung di atas sepasang sepatu bot militer yang diambilnya dari pangkalan junta militer.

Thandar –bukan nama sebenarnya, 28 tahun, seorang petugas medis, ikut bergabung pada Oktober 2021. Ia pernah mengikuti pelatihan tempur KNU, lalu mendengar tentang adanya pasukan Muslim. Ia pun memutuskan untuk mendaftar.

“Saya akan bekerja di sini sampai revolusi berakhir,” katanya sambil tersenyum kepada komandan Eisher. “Dia seperti ayah baru saya sekarang,” katanya.

Bergabung dengan pejuang Muslim membuatnya tenang. Salah satunya terjamin makanannya halal.

“Saya bersama sesama Muslim. Di sini suasananya menyenangkan. Itulah sebabnya saya tinggal di sini begitu lama,” ujarnya.

Untuk Semua Orang Burma

Dalam kunjungan Al Jazeera di kamp pejuang Muslim, tampak sebagian besar tentaranya adalah pria dewasa dan sudah menikah. Mereka ditampung di sebuah barak. Ada pula barak yang terpisah untuk menampung orang sakit, di antaranya karena malaria.

Di kamp itu ada sebuah masjid sederhana, terbuat dari balok beton dengan atap seng. Ada pipa plastik pada dinding luar untuk keperluan wudhu sebelum shalat.

Mohammed Eisher berkisah tentang pengalaman tak terlupakan pada tahun 2012. Saat terlibat bentrok dengan militer Myanmar, ia tertembak di leher dan lengan kanan atas. Ia kemudian terpisah dari kesatuannya sehingga harus terlunta-lunta sendirian selama dua hari. Akhirnya ia bertemu dengan rekan-rekannya, yang menggendongnya selama lima hari melewati hutan lebat.

“Bau nanah dari luka di leher membuatku muntah,” kenangnya sambil menyentuh bekas luka menganga akibat tembakan itu.

“Saya berdoa agar dosa-dosa diampuni, jika saya telah berbuat salah. Jika tidak, saya berdoa agar diberi kekuatan untuk terus berjuang,” ungkapnya.

Pengalaman lainnya dikisahkan oleh Mohammed Yusuf, 47 tahun. Sekitar 20 tahun lalu, saat membersihkan ranjau darat, satu ranjau meledak dan membutakannya. Kini ia terus berjuang.

“Saya menginginkan kebebasan bagi semua orang di Burma. Revolusi akan berhasil, tetapi butuh lebih banyak persatuan,” ujarnya.

Di kamp itu juga ada beberapa anggota Budha dan Kristen. Misalnya Bamar, 46 tahun, yang tengah menanam terong dan kacang panjang untuk bahan makanan para pejuang. Dia pernah bergabung dengan kelompok perlawanan lain, sampai akhirnya kini merasa nyaman bersama para pejuang Muslim.

“Tidak ada diskriminasi di sini. Kita semua sama: manusia,” ujarnya.*

Redaktur: Insan Kamil
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Headlinejunta militerMuslimmyanmarperlawananPilihan RedaksiRohingya
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Presiden Erdogan mendesak pendirian negara Palestina Sampaikan Belasungkawa, Erdogan: Saya Memohon Rahmat kepada Allah untuk Yahya Sinwar
Tulisan selanjutnya Ribuan Pemukim ‘Israel’ Serbu Masjid Al-Aqsha untuk Rayakan Hari Raya Yahudi

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Mayat Hanyut Hingga ke India, Korban Jiwa Banjir Nepal-China 750 dan >3.000 Orang Hilang

Berita
30 Agustus 2026 17:04
Laporan: 370 Anak-Anak Palestina Masih Ditahan di Penjara ‘Israel’
Presiden Iran: Jangan Biarkan Wilayah Negara Muslim Dipakai Menyerang Sesama
Sembunyikan Pisau di Kaos Kaki Pria Indonesia Terancam Hukuman Cambuk di Singapura
Nyamuk Datang Naik Pesawat Dua Pekerja Bandara Jerman Meninggal Karena Malaria

Terbaru

  • Aktivis Pro-Demokrawi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
  • Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
  • Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK
  • PM Spanyol Sebut Rusia dan ‘Israel’ Sebarkan Hoaks Krisis Imigran Ceuta
  • Irak Tolak Kehadiran Pasukan Koalisi AS, Harus Pergi pada 30 September
  • Pimpin APHIDA 2026-2030, Fadlurrahman: Bidik Penguatan Bisnis Jamaah hingga Pasar Global
  • DPP Hidayatullah Dorong APHIDA Perkuat Kolaborasi dan Jaringan Bisnis untuk Hidayatullah
  • Pelacur Thailand akan Kedatangan Pelanggan Potensial 5 Ribu Tentara Amerika

Mungkin Anda Juga Suka

Feature

Ketika Penghuni Muslim Terancam Ulah Tetangga

30 Juni 2026 16:15
Feature

Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026

30 Mei 2026 17:30
Feature

Karena Politik Penjaga Sapi, Peternak Menangis Pasar Sepi

27 Mei 2026 07:57
Feature

Niat Ajak Teman Kembali Kristen, Pemuda Ini Justru Temukan Hidayah dan Masuk Islam

30 April 2026 14:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?