Studi menemukan bahasa yang digunakan dalam ujaran kebencian di platform media sosial menunjukkan kemiripan mencolok bahasa yang dipakai penderita gangguan kepribadian
Hidayatullah.com | ANDA sering melontarkan cacian atau berbagai bentuk ujaran kebencian secara online (daring?) berhati-hatilah!
Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal PLOS Digital Health menemukan temuan mengejutkan: bahasa yang digunakan dalam ujaran kebencian di platform media sosial menunjukkan kemiripan mencolok dengan pola bahasa yang dipakai oleh penderita gangguan kepribadian Klaster B.
Hasil riset ini memberikan perspektif baru, mengisyaratkan adanya kemungkinan hubungan psikologis di balik maraknya fenomena kebencian daring.
Para peneliti menggunakan model AI canggih untuk menganalisis dan membandingkan ribuan unggahan dari komunitas-komunitas daring yang menyebarkan kebencian (sering disebut “forum kebencian”) dan forum-forum lain yang didedikasikan untuk diskusi mengenai gangguan kepribadian.
“Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa pola bicara orang yang berpartisipasi dalam ujaran kebencian online memiliki kemiripan mendalam dengan mereka yang terlibat dalam komunitas untuk individu dengan kondisi kejiwaan tertentu,” demikian menurut Dr. Andrew William Alexander salah satu penulis studi, dimuat www.psypost.org.
Penelitian ini tidak serta-merta mengklaim bahwa semua individu yang menyebarkan ujaran kebencian memiliki gangguan mental. Namun, temuan ini membuka dua hipotesis yang saling berhubungan:
- Penderita Gangguan Klaster B Rentan Terlibat dalam Ujaran Kebencian: Individu dengan kondisi kejiwaan seperti gangguan kepribadian ambang (BPD), narsistik, dan antisosial mungkin lebih rentan untuk terlibat dalam perilaku ujaran kebencian. Kondisi-kondisi ini seringkali ditandai oleh kesulitan dalam regulasi emosi, impulsivitas, dan kurangnya empati—ciri-ciri yang juga sering muncul dalam konten yang mengandung kebencian.
- Komunitas Online Membentuk Perilaku Negatif: Lingkungan di komunitas daring yang berpusat pada kebencian dapat memicu dan memelihara pola pikir serta bahasa yang mencerminkan sifat-sifat gangguan kepribadian tersebut, terlepas dari kondisi mental awal individu.
Penemuan ini menjadi pengingat penting bahwa isu ujaran kebencian tidak bisa hanya diselesaikan dari sisi teknis atau hukum. Sebaliknya, hal ini juga memerlukan pemahaman yang lebih dalam tentang dimensi psikologis dan sosial.
Memerangi kebencian online membutuhkan pendekatan holistik, yang tidak hanya memblokir konten, tetapi juga memberikan edukasi dan dukungan kesehatan mental.
Metode Penelitian Canggih
Dalam studi ini, para peneliti memanfaatkan model bahasa berskala besar (large language model) dan teknik analisis data topologi matematis. Metode ini memungkinkan mereka untuk memetakan bagaimana ujaran di forum-forum kebencian dan forum-forum gangguan kepribadian selaras secara linguistik.
Hasil klasifikasi menunjukkan, 80% dari unggahan ujaran kebencian secara linguistik mirip dengan unggahan di forum kesehatan mental, dengan kesamaan terkuat pada forum yang berhubungan dengan gangguan kepribadian Klaster B.
Para peneliti menegaskan bahwa temuan ini tidak bertujuan untuk memberikan stigma pada penderita gangguan mental. Tujuannya adalah untuk mendorong pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana ujaran kebencian dapat berkembang dan bagaimana dampaknya bisa mencerminkan kondisi-kondisi psikologis tertentu.
Studi ini memberikan wawasan berharga bagi pengembang platform media sosial, ahli kesehatan mental, dan pembuat kebijakan untuk merumuskan strategi yang lebih efektif dalam mengatasi masalah ini.
Dengan memahami akar psikologis dari ujaran kebencian, langkah-langkah yang diambil bisa lebih tepat sasaran, tidak hanya menekan gejala, tetapi juga mengatasi penyebabnya.*




