Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Artikel

Politik Gagal Empati

Ahmad
Terakhir diupdate: 3 September 2025 12:05 12:05 pm
Ahmad
Dipublikasikan 3 September 2025 11:41
Bagikan
Bagikan

Oleh: Ali Musa Harahap, Ph.D

Rusaknya rakyat disebabkan oleh rusaknya pemimpin,  demikian pesan Imam Al-Ghazali, satul hal fenomena hilangnya politik gagal empati saat ini

Hidayatullah.com | DEMONTSRASI merebak di berbagai kota Indonesia. Aksi –akibat amarah sosial yang meledak— melahirkan perusakan, penjarahan, hingga serangan terhadap simbol-simbol kekuasaan.

Aksi dipicu muncul mulut seorang wakil rakyat kita yang dengan enteng menyebut rakyat sebagai “tolol”.

Ucapan itu mencerminkan watak kekuasaan yang telah kehilangan empati. Betapa mudahnya elit politik kita merendahkan rakyat yang seharusnya mereka wakili.

Alih-alih menjadi pelindung suara rakyat, mereka justru menjelma menjadi penghina yang menjauhi prinsip amanah.

Baca Juga

Pena Muballigh Menentukan Masa Depan Peradaban Islam
Hubungan Agama dan Sains
Al-Qur’an, Ulama, dan Lembaga Pendidikan Islam: Kompas Peradaban di Tengah Disrupsi Zaman
Amerika dan Perang Salib Baru?
Pesan Khutbah Jum’at H. Agus Salim Tahun 1928: Persatuan Lahir dan Batin

Pernyataan seperti itu bukan hanya melukai, tapi juga membuka borok lama: bahwa kekuasaan di republik ini sering lahir dari pengkhianatan terhadap suara yang dulu dipakai untuk naik ke kursi empuk parlemen.

Presiden Prabowo dan Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin pun ikut dalam barisan kekuasaan yang bersikap keras terhadap rakyat. Ia mengutuk penjarahan terhadap rumah-rumah pejabat dan meminta aparat bertindak tegas.

Tapi mengapa tidak ada kalimat empati terhadap rakyat yang didesak oleh harga pangan, pajak konsumtif, dan beban hidup yang makin tak tertanggungkan?

Agama Islam sangat jelas dalam meletakkan prioritas: menolong yang tertindas lebih utama daripada melindungi kenyamanan para elit.

Keadilan tidak boleh hanya ditegakkan ketika properti elit dirusak. Ia harus ditegakkan ketika rakyat dirampas haknya, ditindas oleh kebijakan, dan dipinggirkan dalam sistem.

Demonstrasi Jalan Terakhir

Dalam sejarah peradaban politik, demonstrasi adalah alarm sosial. Ia muncul bukan dari ruang kosong, tapi dari akumulasi ketidakadilan yang tak ditanggapi.

Masyarakat tidak akan memilih turun ke jalan jika saluran legal berfungsi, jika suara mereka didengar di parlemen, jika kebijakan mencerminkan keadilan sosial, bukan sekadar angka-angka pertumbuhan ekonomi di layar presentasi para menteri.

Ketika rakyat merasa negara hanya bekerja untuk segelintir elit, dan ketika simbol-simbol joget Eko Patrio dan Uya Kuya, dan anggota DPR lainnya, kekuasaan mobil mewah, rumah dinas megah, fasilitas Istimewa dipamerkan di tengah penderitaan, maka yang meledak bukan hanya emosi, tapi rasa keadilan yang terinjak-injak.

Haruskah terjadi penjarahan rumah pejabat agar negara mendengar? Haruskah kendaraan dinas dibakar baru menteri datang turun tangan? Mengapa sejak dulu selalu begitu?

Islam dan Kekuasaan

Kekuasaan dalam Islam bukanlah hak istimewa untuk dipertahankan mati-matian. Ia adalah amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Pemimpin adalah pelayan, bukan majikan.

Sayangnya, banyak pemimpin kita hari ini justru merasa lebih tinggi dari rakyat. Mereka tersinggung jika harta pribadinya diganggu, tapi diam saat rakyat diganggu oleh harga, pajak, dan pungutan yang menyesakkan.

Rakyat bukan “tolol”. Rakyat justru sabar. Terlalu sabar. Mereka memilih diam bertahun-tahun, berharap parlemen bekerja untuk mereka. Tapi apa yang mereka dapatkan?

RUU yang lahir tanpa konsultasi publik, anggaran jumbo untuk fasilitas elit, kebijakan ekonomi yang mencekik, serta kriminalisasi terhadap demonstran yang mengakibatkan korban jiwa meninggalnya pengemudi ojol Affan Kurniawan.

Jika negara mau mendengar, dengarlah sebelum rakyat marah. Demonstrasi dan penjarahan memang tidak bisa dibenarkan sebagai norma.

Tapi dalam ilmu politik, gejala-gejala sosial seperti itu adalah peringatan bahwa sistem sedang gagal. Kita tidak membenarkan anarki. Tapi kita juga tidak boleh membenarkan negara yang tuli terhadap jeritan rakyat.

Solusinya bukan represi, tapi introspeksi. Bukan menyalahkan rakyat, tapi mengoreksi kebijakan.

Pesan Al-Ghazali

Mari kita kembalikan ke pemikiran para ulama besar Islam. Al-Ghazali tidak pernah menyebut rakyat sebagai “tolol”. Justru ia menegaskan: “Rusaknya rakyat adalah karena rusaknya pemimpin. Dan rusaknya pemimpin karena lemahnya ilmu dan kuatnya hawa nafsu mereka.”

Jadi jika hari ini rakyat marah, jangan buru-buru menyalahkan mereka. Lihatlah ke cermin kekuasaan.

Mungkin kerusakan itu bukan dari jalanan tapi dari gedung-gedung megah yang telah lupa siapa yang seharusnya mereka layani.*

Dosen Ilmu Politik, Universitas Darussalam Gontor

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:empatiHeadlineImam Al Ghazalipemimpinpilitikrakyat
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Pemuda Pematang Siantar Ucapkan Syahadat di Masjid Al Kawari DDII Aceh
Tulisan selanjutnya Wisuda Sarjana ke-XXIV dan Penugasan Da’i Nusantara STAI Luqman Al Hakim Wisuda Sarjana ke-XXIV dan Penugasan Da’i Nusantara STAI Luqman Al Hakim

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

senjata israel
Berita

Kelompok Houthi Nyatakan Blokade Laut terhadap Arab Saudi

Berita
21 Juli 2026 06:30
Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
Obituari: Zeyd Baktir, Penggerak Sunyi di Jalan Dakwah
Sering Menyakiti Kakek 95 Tahun yang Dirawatnya, ART Indonesia Dihukum Bui 18 Bulan di Singapura
Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah

Terbaru

  • AS Lancarkan Gelombang Serangan ke Iran, Ledakan Terdengar di Sejumlah Kota
  • Empat Negara Islam Sepakat Hidupkan Kembali Jalur Kereta Hijaz Warisan Utsmaniyyah
  • Pena Muballigh Menentukan Masa Depan Peradaban Islam
  • Kelompok Houthi Nyatakan Blokade Laut terhadap Arab Saudi
  • SPI Himpun Lembaga Dakwah Perkuat Bela Palestina
  • Belgia Resmi Larang Impor Barang dari Permukiman Ilegal ‘Israel’
  • Obituari: Zeyd Baktir, Penggerak Sunyi di Jalan Dakwah
  • Masjid Jadi Sasaran, Pemukim ‘Israel’ Lanjutkan Aksi Pembakaran di Tepi Barat
  • Fasilitas Kesehatan Belum Pulih, Cacar Air Mewabah di Gaza
  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran

2 Juli 2026 12:14
Ghazwul FikrKajian

Krisis Makna di Era Modern dan Jalan Kembali kepada Wahyu

26 Juni 2026 11:30
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai
Opini

Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

25 Juni 2026 17:06
Artikel

Khalwat Digital, Fenomena Pacaran Era Media Sosial

16 Juni 2026 16:34
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?