Hidayatullah.com—Setelah penandatanganan fase pertama kesepakatan gencatan senjata Gaza, Hamas secara resmi menyerahkan daftar tahanan Palestina untuk dibebaskan sebagai bagian dari mekanisme pertukaran tahanan dengan ‘Israel’. Daftar ini diserahkan berdasarkan kriteria kesepakatan yang telah ditetapkan mediator dari Qatar, Mesir, Turki, dan Amerika Serikat.
Menurut laporan Anadolu, pejuang Hamas menyebut bahwa proses pengiriman daftar dilakukan segera setelah kedua belah pihak menyepakati poin-poin awal perjanjian. Nama-nama tahanan akan diumumkan ke publik melalui “Asra Media Office” setelah semua aspek teknis dan kesepakatan final disetujui.
“Kami menunggu persetujuan akhir atas nama-nama tahanan Palestina sebelum diumumkan kepada publik. Langkah ini merupakan bentuk komitmen terhadap kesepakatan dan kemanusiaan,” kata Zaher Jabarin, Kepala Kantor Syuhada dan Tahanan Hamas, dalam pernyataannya.
Berdasarkan berbagai laporan media ‘Israel’ dan pengamat diplomatik, kesepakatan ini mencakup pembebasan:
- Sekitar 250 tahanan Palestina yang menjalani hukuman seumur hidup.
- Ditambah sekitar 1.700 tahanan Gaza yang ditahan sejak genosida 7 Oktober 2023 sebagai bagian dari kesepakatan pertukaran.
Dengan demikian, total yang diusulkan untuk dibebaskan mencapai sekitar 1.950 orang — kombinasi tahanan jangka panjang dan tahanan akibat genosida Gaza yang berlangsung.
Dalam konteks yang lebih luas, laporan kemanusiaan menyebut bahwa lebih dari 11.000 warga Palestina ditahan di penjara ‘Israel’, termasuk sekitar 3.544 orang yang ditahan tanpa proses peradilan formal.
Tokoh Penting dalam Daftar Negosiasi
Sejumlah tokoh Palestina berprofil tinggi disebut-sebut termasuk dalam daftar yang diklaim Hamas. Di antaranya:
Marwan Barghouti, figur politik terkemuka Palestina dan mantan pemimpin Fatah, sering menjadi simbol tuntutan pertukaran tahanan.
Zakaria Zubeidi, mantan komandan Brigade Al-Aqsa di kamp pengungsi Jenin, yang telah menjadi figur simbolik dalam genosida Palestina-’Israel’. Ia sempat dibebaskan di masa lalu dalam kesepakatan sebelumnya.
Namun demikian, pihak ‘Israel’ menyatakan bahwa Barghouti kemungkinan besar tidak akan menjadi bagian dari pembebasan dalam kesepakatan ini, menurut pernyataan juru bicara ‘Israel’.
Dalam upaya pertukaran ini, komite pengawasan bersama yang diusulkan oleh Mesir dan Qatar dirancang untuk memastikan nama-nama yang dikirim benar-benar sesuai dengan kesepakatan, serta mencegah penolakan mendadak dari pihak ‘Israel’.
Di kalangan Palestina, penyerahan daftar ini disambut dengan harapan. Hamas menegaskan bahwa pembebasan tahanan merupakan prioritas tinggi dalam perjanjian.
Namun, sejumlah pengamat memperingatkan bahwa potensi penolakan ‘Israel’ untuk nama-nama tertentu, proses verifikasi administratif, dan konsumsi waktu dari proses diplomatik membuat realisasi pembebasan bisa tak berjalan mulus, kutip Times of ‘Israel’.
Selain itu, kondisi tahanan Palestina sendiri menjadi sorotan: Lembaga HAM lokal menyebut puluhan tahanan Gaza mengalami penyiksaan, kondisi medis kritis, dan penahanan administratif tanpa dakwaan jelas.
Penyerahan daftar tahanan ini mempertegas bahwa aspek pertukaran tawanan merupakan elemen pusat dari perjanjian gencatan senjata. Jika terealisasi, pembebasan hampir 2.000 tahanan akan menjadi salah satu pertukaran terbesar antara ‘Israel’ dan faksi Palestina dalam sejarah genosida modern.
Akan tetapi, jalan menuju eksekusi masih panjang: verifikasi administratif, persetujuan legislatif, dan tekanan politik internal ‘Israel’ akan menjadi ujian nyata dari tekad negara tersebut untuk melaksanakan komitmen dalam kesepakatan damai ini.*




