Hidayatullah.com – Uni Emirat Arab dilaporkan telah membeli tanah di ‘Israel’ untuk kedutaan besar permanennya. Hal itu dilakukan berkoordinasi dengan Otoritas Pertanahan Israel dan kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Perusahaan Penyiaran Israel (KAN) pada Senin (20/10/2025), mengatakan pembelian tersebut bernilai “puluhan juta shekel,” dan menyebutnya sebagai fase baru dalam hubungan bilateral berdasarkan Perjanjian Abraham.
Menurut Jerusalem Post, kedutaan akan dibangun di Herzliya setelah pemilihan yang kompleks selama empat tahun “atas permintaan Kantor Perdana Menteri dan berkoordinasi dengan Pemerintah Kota Herzliya.”
Wali Kota Herzliya, Yariv Fisher, menyambut baik langkah tersebut, dengan mengatakan, “Kami menyambut baik kenyataan bahwa gedung Kedutaan Besar Uni Emirat Arab di Israel akan dibangun di Herzliya.” Ia mengaku telah beberapa kali bertemu dengan Duta Besar UEA Mohamed al-Khaja untuk mendukung pemilihan lokasi tersebut.
Kesepakatan ini muncul di tengah pelanggaran berkelanjutan Israel terhadap “gencatan senjata” Gaza, yang telah menewaskan puluhan orang dalam beberapa hari terakhir, memicu kemarahan yang meluas di seluruh dunia Arab.
Sejak menormalisasi hubungan pada tahun 2020, UEA telah mengoperasikan misi diplomatiknya dari gedung sewaan di Tel Aviv.
Pada bulan Juli 2021, Abu Dhabi secara resmi membuka kedutaannya di dalam gedung Bursa Efek Tel Aviv, menjadi negara Teluk pertama yang melakukannya.
Baik pejabat Emirat maupun ‘Israel’ belum berkomentar secara terbuka mengenai pembelian tanah tersebut.
Lima tahun setelah menormalisasi hubungan dengan ‘Israel’, UEA tetap mempertahankan komitmennya terhadap Perjanjian Abraham meskipun terjadi genosida di Gaza dan adanya penolakan publik yang meluas.
Kerja sama perdagangan, pariwisata, dan teknologi antara kedua negara terus berkembang, sementara UEA tetap menjadi salah satu dari segelintir negara Arab yang mempertahankan hubungan diplomatik resmi dengan ‘Israel’.*




