Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Merundung

Tak semua yang membunuh membawa senjata; sebagian hanya membawa kata.

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 21 Oktober 2025 12:19 12:19 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 21 Oktober 2025 12:19
Bagikan
Komentar negatif perundungan dan bullying di media sosial
Bagikan

Oleh: Ady Amar

Hidayatullah.com – DI NEGERI yang katanya ramah, rupanya kita makin pandai melukai dengan cara yang lembut. Tak perlu menampar, cukup menertawakan. Tak perlu berteriak, cukup mengabaikan. Dan di Bali, seorang mahasiswa Universitas Udayana membayar mahal harga dari tawa semacam itu—dengan nyawanya sendiri.

Kita kembali dihadapkan pada luka yang tak pernah sembuh—luka generasi yang tumbuh di tengah dunia yang terlalu cepat menilai, tapi terlalu lambat memahami. Satu kalimat bisa jadi senjata, satu unggahan bisa jadi vonis. Dunia maya menjadi gelanggang perundungan massal, tempat manusia menertawakan sesamanya demi beberapa detik perhatian.

Perundungan kini bukan lagi ejekan di sudut kelas. Ia menjelma sistem sosial yang kejam, bekerja di balik layar ponsel. Ia tak berteriak, tapi mencabik. Ia menyusup lewat komentar dan stiker tawa, lewat meme yang dibuat untuk lucu tapi berujung duka. Di sana, orang lupa bahwa yang dijadikan bahan tertawaan bukan karakter fiksi—melainkan manusia yang berdarah dan bernapas.

Pada masa delapan puluhan dan sembilan puluhan, perundungan mungkin juga ada. Tapi kala itu, dunia masih berjarak. Anak-anak yang dipukul bisa membalas, dan besoknya mereka berdamai di lapangan sekolah. Luka fisik bisa sembuh, harga diri masih punya ruang untuk bertahan. Sekarang, perundungan tak berhenti di pintu kelas—ia ikut pulang ke rumah, menempel di layar, mengejar korban sampai ke ranjang dan mimpinya.

Baca Juga

Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi
Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

Generasi hari ini bukan generasi lemah. Mereka hanya hidup di zaman yang terlalu bising, di mana harga diri bisa hancur dalam tiga detik video dan hidup dinilai dari jumlah likes. Dunia yang menuntut tampil kuat, tapi menertawakan yang rapuh. Dunia yang pandai menasihati, tapi jarang memeluk.

Tragedi di Udayana itu adalah peringatan keras.

Bahwa merundung bukan sekadar candaan, melainkan bentuk kekerasan yang nyata—yang memukul tanpa tangan, yang membunuh tanpa darah. Ia lahir dari ketidakpedulian, dari keinginan untuk merasa lebih tinggi dengan menjatuhkan yang lain. Ia tumbuh subur di masyarakat yang lebih cepat menghakimi daripada memahami.

Dan kita semua terlibat, bahkan ketika memilih diam. Diam adalah bentuk persetujuan yang paling sunyi. Diam adalah tangan yang tak tampak tapi ikut mendorong korban ke jurang. Kita senang berbicara soal moral dan etika, tapi kita juga menikmati pemandangan orang lain jatuh, lalu menulis komentar belasungkawa seolah tak tahu apa-apa.

Setiap kali ada korban, kita beramai-ramai menyalakan lilin virtual, menulis tagar, dan berkata: “Semoga tenang di sana.” Tapi di bumi yang sama, kita terus memelihara budaya menertawakan. Kita cepat berduka, tapi enggan berubah.

Kematian mahasiswa itu bukan sekadar tragedi individu—ia adalah cermin yang memantulkan kebusukan kolektif kita. Sebuah bangsa yang kehilangan empati dan mengira humor bisa menggantikan nurani. Kita mencetak sarjana, tapi gagal melahirkan manusia yang berperasaan.

Hari ini, perundungan tumbuh seperti bayangan yang tak lagi kita sadari keberadaannya. Ia menyusup lewat tawa, lewat komentar, lewat kebiasaan menilai tanpa mengenal. Kita hidup di masa ketika simpati sering berhenti di layar, dan empati kehilangan tubuhnya. Kita terbiasa melihat luka dari jauh, seolah bukan bagian dari hidup bersama.

Padahal yang dibutuhkan korban bukan pembelaan besar, hanya sedikit ruang untuk didengar. Sebab perundungan tidak selalu berawal dari niat jahat—kadang hanya dari kebisuan orang-orang baik. Dan di situlah tragedi sering bermula: ketika kita tahu ada yang terluka, tapi memilih berpaling.*

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:bullyingUniversitas UdayanaUnud
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya uni emirat arab Makin Mesra, Uni Emirat Arab Beli Tanah untuk Kedutaan di ‘Israel’
Tulisan selanjutnya Abdurrahman Muhammad Bapak Pimpinan Umum Hidayatullah Kepemimpinan Syuro Kekayaan Moral Sekaligus Benteng Hidayatullah

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Opini

Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan

Opini
14 Agustus 2026 20:11
Kasus Pilot Bawa 26 Kg Ekstasi, Malaysia Kirim Tim Investigasi ke Indonesia
Seminar Hidayatullah Bahas Isu LGSP dari Perspektif Psikologi, Keluarga dan Hukum
Lawan Polisi, Aktivis Akar Rumput Amerika Merusak Kamera Pengawas Flock Satu Per Satu
MUI Kecam Promosi Miras Pakai Tantangan Hafalan Surat Ad-Dhuha

Terbaru

  • Prancis Desak Israel Tangkap Pemukim Yahudi yang Memblokade Rumah Warga Palestina di Qusra
  • PDRM Buru Sindikat Narkoba Terkait Pilot Malaysia yang Ditangkap di Bandara Soetta
  • Mahkamah Konstitusi Prancis Tidak Meloloskan Larangan Media Sosial Bagi Anak
  • Kibarkan Bendera Palestina, Ratusan Warga Yunani Hadang Kapal Pesiar Wisatawan ‘Israel’
  • 70 Ribu Warga Palestina Hadiri Shalat Jumat di Masjidil Aqsha, Ribuan Datang Sejak Subuh
  • Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
  • Ratusan Pemukim ‘Israel’ Nodai Masjidil Aqsha, Lakukan Ritual Yahudi
  • ‘Israel’ Kembali Langgar Gencatan Senjata, Bunuh Kepala Polisi Gaza
  • Lima Strategi PBNU untuk Wujudkan Pesantren Aman
  • RMI PBNU: Jangan Tutup-tutupi Kekerasan di Pesantren

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI

24 April 2026 20:20
Opini

Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi

13 April 2026 18:00
ArtikelOpini

Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

18 Maret 2026 09:00
Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?