Oleh: Ady Amar
Hidayatullah.com – DI NEGERI yang katanya ramah, rupanya kita makin pandai melukai dengan cara yang lembut. Tak perlu menampar, cukup menertawakan. Tak perlu berteriak, cukup mengabaikan. Dan di Bali, seorang mahasiswa Universitas Udayana membayar mahal harga dari tawa semacam itu—dengan nyawanya sendiri.
Kita kembali dihadapkan pada luka yang tak pernah sembuh—luka generasi yang tumbuh di tengah dunia yang terlalu cepat menilai, tapi terlalu lambat memahami. Satu kalimat bisa jadi senjata, satu unggahan bisa jadi vonis. Dunia maya menjadi gelanggang perundungan massal, tempat manusia menertawakan sesamanya demi beberapa detik perhatian.
Perundungan kini bukan lagi ejekan di sudut kelas. Ia menjelma sistem sosial yang kejam, bekerja di balik layar ponsel. Ia tak berteriak, tapi mencabik. Ia menyusup lewat komentar dan stiker tawa, lewat meme yang dibuat untuk lucu tapi berujung duka. Di sana, orang lupa bahwa yang dijadikan bahan tertawaan bukan karakter fiksi—melainkan manusia yang berdarah dan bernapas.
Pada masa delapan puluhan dan sembilan puluhan, perundungan mungkin juga ada. Tapi kala itu, dunia masih berjarak. Anak-anak yang dipukul bisa membalas, dan besoknya mereka berdamai di lapangan sekolah. Luka fisik bisa sembuh, harga diri masih punya ruang untuk bertahan. Sekarang, perundungan tak berhenti di pintu kelas—ia ikut pulang ke rumah, menempel di layar, mengejar korban sampai ke ranjang dan mimpinya.
Generasi hari ini bukan generasi lemah. Mereka hanya hidup di zaman yang terlalu bising, di mana harga diri bisa hancur dalam tiga detik video dan hidup dinilai dari jumlah likes. Dunia yang menuntut tampil kuat, tapi menertawakan yang rapuh. Dunia yang pandai menasihati, tapi jarang memeluk.
Tragedi di Udayana itu adalah peringatan keras.
Bahwa merundung bukan sekadar candaan, melainkan bentuk kekerasan yang nyata—yang memukul tanpa tangan, yang membunuh tanpa darah. Ia lahir dari ketidakpedulian, dari keinginan untuk merasa lebih tinggi dengan menjatuhkan yang lain. Ia tumbuh subur di masyarakat yang lebih cepat menghakimi daripada memahami.
Dan kita semua terlibat, bahkan ketika memilih diam. Diam adalah bentuk persetujuan yang paling sunyi. Diam adalah tangan yang tak tampak tapi ikut mendorong korban ke jurang. Kita senang berbicara soal moral dan etika, tapi kita juga menikmati pemandangan orang lain jatuh, lalu menulis komentar belasungkawa seolah tak tahu apa-apa.
Setiap kali ada korban, kita beramai-ramai menyalakan lilin virtual, menulis tagar, dan berkata: “Semoga tenang di sana.” Tapi di bumi yang sama, kita terus memelihara budaya menertawakan. Kita cepat berduka, tapi enggan berubah.
Kematian mahasiswa itu bukan sekadar tragedi individu—ia adalah cermin yang memantulkan kebusukan kolektif kita. Sebuah bangsa yang kehilangan empati dan mengira humor bisa menggantikan nurani. Kita mencetak sarjana, tapi gagal melahirkan manusia yang berperasaan.
Hari ini, perundungan tumbuh seperti bayangan yang tak lagi kita sadari keberadaannya. Ia menyusup lewat tawa, lewat komentar, lewat kebiasaan menilai tanpa mengenal. Kita hidup di masa ketika simpati sering berhenti di layar, dan empati kehilangan tubuhnya. Kita terbiasa melihat luka dari jauh, seolah bukan bagian dari hidup bersama.
Padahal yang dibutuhkan korban bukan pembelaan besar, hanya sedikit ruang untuk didengar. Sebab perundungan tidak selalu berawal dari niat jahat—kadang hanya dari kebisuan orang-orang baik. Dan di situlah tragedi sering bermula: ketika kita tahu ada yang terluka, tapi memilih berpaling.*




