Hidayatullah.com – Ketua Dewan Murabbi Pusat (DMP) Hidayatullah, Tasrif Amin, menegaskan lembaga yang kini dipimpinnya, sedang menapaki fase baru penguatan peran strategis dalam pembinaan kader dan dakwah peradaban. Hal itu ia sampaikan dalam sesi pemaparan arah kebijakan Dewan Murabbi Pusat di sela-sela rangkaian Musyawarah Nasional ke-6 Hidayatullah di Jakarta.
Menurut Tasrif, DMP memiliki empat tugas pokok dan fungsi utama. Pertama pengembangan konsep perkaderan dan pembinaan. Kedua standarisasi murabbi wustho dan ulya. Ketiga, standarisasi struktur tarbiyah wustho dan ulya. Keempat menetapkan murabbi nasional.
“Ketetapan terakhir ini merupakan hasil keputusan Majelis Musyawarah Syura (MMS) yang menegaskan bahwa Dewan Murabbi Pusat berwenang mengeluarkan Surat Keputusan Murabbi Nasional,” kata Tasrif Amin dalam sambutannya sebagai ketua Dewan Murobbi Pusat Hidayatullah di Munas VI yang digelar di Asrama Haji Pondok Gede, Kamis (23/10/2025).
Tasrif menjelaskan, inti kekuatan Hidayatullah terletak pada konsep pembinaan dan dakwah yang dirancang secara sistematis dan berbasis nilai-nilai Al-Qur’an. Ia mencontohkan, sebagaimana Rasulullah diutus membawa konsep perubahan melalui wahyu. Maka tugas strategis Dewan Murabbi Pusat memastikan berjalannya jati diri Hidayatullah.
Tasrif menambahkan, saat ini sedang disiapkan naskah baru “Konsep Jati Diri Hidayatullah”, yang akan menjadi rujukan utama dalam perkaderan. Revisi tersebut masuk dalam kebijakan strategis nomor satu bidang perkaderan.
Lebih jauh, Tasrif menyoroti pentingnya sinergi antara murabbi dan pembinaan perkaderan, dan dakwah agar proses kaderisasi tidak berhenti di tataran halaqah. “Besok para murabbi tidak lagi hanya membawa mainstream tarbiyah, tapi juga harus masuk ke mainstream dakwah,” ungkapnya.
Tasrif mengatakan halaqah merupakan lembaga yang paling terkelola secara kultural di lingkungan Hidayatullah. Namun, gerakannya masih terbatas pada lingkup internal tarbiyah. Karena itu, ke depan DMP menargetkan agar para murabbi juga menjadi penggerak dakwah peradaban di tengah masyarakat.
“Saya sampaikan bahwa lembaga yang paling termanage secara kultural di Hidayatullah adalah halaqah. Di sana ada murabbi, di sana ada mutarabbi, dan sudah ada sistem gerakannya. Tapi itu baru tataran tarbiah,” paparnya.
Dalam pandangan Tasrif, ke hadapan musyawirin Hidayatullah harus bertransformasi menjadi “juru bicara peradaban”. Ia menegaskan bahwa umat hari ini merupakan pasar dakwah yang luas, namun masih mencari “etalase” yang menampilkan tokoh dan gagasan Hidayatullah di ruang publik.
“Umat ini ibarat pasar dakwah. Mereka mencari etalase, mencari toko. Kalau Hidayatullah tidak tampil, umat akan mencari tempat lain. Karena itu, murabbi nasional harus hadir sebagai juru bicara peradaban Hidayatullah,” katanya.
Gerakan ini, lanjutnya, akan dijalankan secara sinergis antara Departemen Rekrutmen dan Departemen Dakwah, dengan pendekatan yang lebih terbuka dan inklusif.
Kolaborasi Strategis dengan DPP Hidayatullah
Tasrif juga mengaku bangga, sekaligus bersyukur Dewan Murabbi Pusat telah memberikan kontribusi besar kepada kepemimpinan pusat Hidayatullah dengan menempatkan salah satu kader terbaiknya, KH Naspi Arsyad, sebagai Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah) periode 2025-2030.
“Ini kontribusi yang sangat mahal dari Dewan Murabbi Pusat. Separuh jiwa Ustad Naspi masih ada di DMP, insya Allah sinergi dan kolaborasi akan berjalan baik,” ujarnya disambut takbir oleh peserta Munas.
Dengan arah baru ini, Dewan Murabbi Pusat berharap gerakan tarbiyah dan dakwah Hidayatullah akan semakin solid, berorientasi pada pembinaan peradaban, dan mampu menjawab tantangan zaman dengan pendekatan yang kokoh secara ideologis dan adaptif secara sosial. “Murabbi bukan hanya pembina halaqah, tapi pembina peradaban.” pungkas Tasrif Amin.*




