Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Zohran Mamdani di Antara Euforia Kemenangan dan Ujian Zaman

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 5 November 2025 23:43 11:43 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 6 November 2025 05:00
Bagikan
Bagikan

Oleh: Ady Amar, Kolumnis

“Bagi umat Islam hari ini, tantangannya bukanlah apakah Islam bisa menyesuaikan diri dengan modernitas, tetapi apakah modernitas masih menyediakan ruang bagi iman.”
— John L. Esposito, The Future of Islam (2010)

Di New York yang tak pernah tidur, seorang lelaki bernama Zohran Mamdani menyalakan bab baru dalam sejarah. Ia Muslim pertama yang menaklukkan kursi wali kota di kota paling kosmopolit dunia. Di antara sorak-sorai liberal dan spanduk partai biru, namanya disambut sebagai simbol kemenangan keberagaman — wajah baru dari demokrasi yang konon memberi ruang bagi semua warna iman.

Namun di balik gemuruh pesta politik itu, ada bisikan halus yang hanya didengar oleh mereka yang peka, bahwa kemenangan ini bukan sekadar peristiwa, melainkan ujian zaman — bagi dirinya, dan bagi nama Islam yang ikut bergaung di setiap pemberitaan.

Mamdani lahir jauh dari Manhattan. Ia tumbuh di Kampala, Uganda, sebagai anak diaspora India yang kelak menapak di lorong-lorong Queens — salah satu wilayah administratif di New York City. Dari sana ia belajar bahasa perjuangan kaum kecil: bahasa sewa rumah yang melonjak, jam kerja panjang, dan impian imigran yang tak pernah sederhana.

Baca Juga

Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi
Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

Kini, dari Balai Kota New York, ia berjanji akan “menjadikan kota ini rumah bagi semua.” Janji itu lahir dari keyakinan sosialisme demokratik mimpi besar tentang keadilan struktural yang berhadapan langsung dengan mesin kapitalisme Amerika.

Ia mengusung agenda transportasi publik gratis atau setidaknya murah, perumahan terjangkau, dan pajak progresif bagi kaum kaya.

Sebuah visi yang ideal, tapi juga penuh batu sandungan. Sebab di negeri yang sudah lama menuhankan efisiensi dan pasar, keadilan sering kali dianggap utopia. Dan di sanalah Zohran Mamdani berdiri: di antara iman dan ideologi, di antara politik dan moralitas.

Bagi sebagian Muslim di Amerika, kemenangannya adalah penanda harapan. Setelah dua dekade Islam dicurigai pasca 9/11, kini seorang Muslim memimpin kota dunia tanpa perlu menanggalkan identitasnya.

Namun di balik kebanggaan itu, tersimpan beban moral yang tak ringan. Publik menunggu bukan hanya apa yang ia capai, tapi bagaimana ia melangkah. Akan kah ia menjadi pemimpin yang memelihara nurani Islam, atau hanya politisi yang membawa labelnya? Zohran akan diuji bukan dalam doa, tapi dalam keputusan anggaran. Bukan di mimbar, tapi di meja negosiasi partai.

Partainya, Demokrat, adalah rumah bagi nilai-nilai liberal — hak LGBTQ+, kebijakan sekuler, kebebasan tanpa batas — yang tak sejalan dengan ajaran Islam. Maka, ujian terbesar Mamdani mungkin bukan pada oposisi politik, tetapi pada kompromi moral yang dituntut sistem. Apakah ia sanggup menjaga integritas ketika realitas menuntut penyesuaian?

Namun, mungkin di situlah nilai sejati dari kemenangan ini. Kemenangan tidak diukur dari tinggi podium, tapi dari dalamnya kesetiaan pada nurani.

Seorang Muslim disebut menang bukan karena berhasil menguasai kota, tapi karena tidak dikuasai oleh kota itu sendiri.

Dunia akan mencatat Mamdani sebagai wali kota Muslim pertama di New York; tetapi sejarah hanya akan mengingatnya jika ia memimpin dengan keadilan. Sebab keadilan adalah nama lain dari iman ketika diterjemahkan ke dalam tindakan.

Dan di tengah tepuk tangan liberalisme, mungkin ia perlu mengingat satu hal, bahwa Islam tidak hadir untuk menolak zaman, melainkan untuk menyembuhkan manusia dari luka zaman itu sendiri.

Maka biarlah Zohran Mamdani melangkah di jalan barunya: di antara gedung-gedung Manhattan yang tinggi, di antara harapan komunitas dan tuntutan kekuasaan.

Semoga ia mampu bertahan di arus besar modernitas tanpa kehilangan arah pulang.

Sebab zaman ini bukan kekalahan bagi iman — hanya pengingat bahwa cahaya tak selalu bersinar di masjid. Kadang ia menyala di Balai Kota.**

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Donald TrumpMuslimWalikota New YorkZohran Mamdani
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Microsoft, G42 Perluas Kapasitas Data Center di UEA
Tulisan selanjutnya Demi Kepentingan Publik, Hamas Setuju Gaza Dikelola Menteri Otoritas Palestina

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

IPB Kembangkan Kampung Ramah Keluarga Lewat Kolaborasi Riset dengan Dua Universitas Jepang

Berita
15 Oktober 2026 16:32
Bandara King Khalid Riyad Ditutup Hingga 15 Oktober Imbas Serangan Houthi
Zionis Sebut Belanda Sarang Anti-Semit usai Suporter ‘Israel’ Dilarang Tandang
Wakaf Al-Qur’an: Menghadirkan Cahaya Qur’an bagi Santri di Tolitoli
Arab Saudi Batalkan Hukuman Mati Pria Sri Lanka Penghina Nabi Muhammad

Terbaru

  • Air Hujan di Singapura Berwarna Abu-abu karena Asap Karhutla
  • Blokade Militer Amerika Mencekik Kemampuan Finansial Iran
  • Remaja Norwegia yang Dikontrak Geng Kriminal Terkait Iran untuk Melakukan Pembunuhan di Inggris Dibui 20 Tahun
  • Qatar Janji Bantu Pemulihan Sektor Energi Libanon
  • Perusahaan Periklanan ‘Israel’ Tanam Spyware di Perangkat Jurnalis Al-Jazeera
  • Arab Saudi Eksekusi Pasangan yang Berbuat Asusila di Salah Satu Masjid Mekkah
  • Santri Hari Ini, Pemimpin Masa Depan: Semangat PFD XIII di Yogyakarta
  • Kebakaran Hutan dalam Sejarah Utsmani: Sebab, Penanggulangan, dan Pelajarannya
  • Gerombolan Pemukim ‘Israel’ Bakar Masjid di Desa Mukhmas Tepi Barat
  • IPB Kembangkan Kampung Ramah Keluarga Lewat Kolaborasi Riset dengan Dua Universitas Jepang

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI

24 April 2026 20:20
Opini

Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi

13 April 2026 18:00
ArtikelOpini

Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

18 Maret 2026 09:00
Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?