Hidayatullah.com— Pemerintah Jerman mengungkap bahwa sejumlah 930 kejahatan Islamofobia (“anti-Muslim”) telah dilaporkan antara Januari hingga September 2025, menurut jawaban resmi terhadap permintaan Parlemen dari partai Kiri (Die Linke), lapor Anadolu Agency (AA).
Data dari Kantor Polisi Kriminal Persekutuan (Bundeskriminalamt, BKA) menunjukkan pola peningkatan kejadian dari bulan ke bulan: 469 insiden tercatat pada kuartal pertama, 316 insiden pada kuartal kedua, dan 145 insiden pada kuartal ketiga.
“Kami melihat tren yang mengkhawatirkan. Mayoritas serangan terkait dengan kelompok ekstrem kanan dan ini menuntut perhatian serius dari seluruh lembaga keamanan,” ujar Kepala BKA, Holger Münch kepada AA.
Dari total 930 kejadian, 31 serangan terhadap masjid juga dilaporkan. Insiden-insiden ini mengakibatkan 37 orang cedera, termasuk seorang korban dalam kondisi serius.
“Masjid seharusnya menjadi tempat aman bagi komunitas kami. Serangan-serangan ini bukan hanya kejahatan terhadap individu, tetapi terhadap seluruh masyarakat Muslim,” kata Ketua Dewan Muslim Jerman, Aiman Mazyek, kepada Deutsche Welle (DW).
Jenis kejahatan yang dicatat sangat beragam, termasuk provokasi di ruang publik, penghinaan, ancaman, penggunaan simbol organisasi terlarang, kerusakan properti, serta serangan fisik. Pemerintah menegaskan bahwa sebagian besar dari kejahatan ini dilakukan oleh ekstremis sayap kanan.
Sehubungan dengan penyelidikan, polisi berhasil mengidentifikasi sejumlah 540 tersangka sepanjang sembilan bulan tersebut — 283 pada kuartal pertama, 172 di kuartal kedua, dan 85 di kuartal ketiga.
Namun, hanya lima orang ditahan, dan tidak ada perintah penangkapan formal (warrant) yang dikeluarkan pada saat laporan dibuat.
Direktur Unit Kejahatan Kebencian BKA, Sven Richter, mengatakan kepada AA, “Proses hukum untuk kejahatan kebencian kompleks dan memerlukan bukti kuat. Namun, jumlah pelaku yang sedikit ditahan menunjukkan tantangan serius dalam penegakan hukum.”
Peningkatan serangan anti-Muslim ini muncul di tengah lonjakan insiden Islamofobia yang lebih luas di Jerman.
Laporan dari organisasi masyarakat sipil CLAIM mengungkapkan bahwa sepanjang 2024 terdapat lebih dari 3.000 insiden diskriminasi dan kekerasan anti-Muslim, termasuk penyerangan fisik, pembakaran properti, dan serangan terhadap institusi keagamaan.
“Setiap serangan meninggalkan trauma mendalam bagi korban dan komunitas. Statistik ini hanyalah puncak gunung es,” ujar Juru bicara CLAIM, Leila Agha.
Para aktivis Muslim dan kelompok antirasisme menyerukan tindakan tegas dari pemerintah, termasuk penguatan pencatatan kejahatan kebencian, perlindungan lebih baik untuk masjid, dan program pencegahan terhadap ekstremisme sayap kanan.
“Tanpa langkah konkret, komunitas Muslim akan terus menjadi target serangan yang meningkat,” ujar Aiman Mazyek kepada DW.
Di pihak legislatif, beberapa politisi dari partai Kiri dan Hijau mendesak agar pemerintah menyusun Rencana Aksi Nasional melawan rasisme anti-Muslim, dan melatih aparat kepolisian serta lembaga peradilan untuk menyikapi kejahatan ini dengan lebih serius.
Anggota Bundestag dari partai Hijau, Franziska Brantner, mengatakan kepada AA, “Kami membutuhkan strategi nasional yang jelas agar kejahatan berbasis kebencian tidak menjadi bagian normal dari kehidupan masyarakat.”
Jerman memiliki populasi Muslim yang signifikan — diperkirakan sekitar 5,5 juta orang, menjadikannya populasi Muslim terbesar kedua di Eropa Barat setelah Prancis, menurut laporan AA.
Krisis ini semakin mempertegas tantangan keberagaman di Jerman dan menyoroti kebutuhan mendesak untuk kebijakan yang efektif dalam memerangi kebencian berbasis agama.*




