Hidayatullah.com – Kursus Singkat Sekolah Pemikiran Islam (SPI) Bandung untuk angkatan ke-11 resmi berakhir dengan digelarnya kegiatan Rihlah yang diselenggarakan di Lembang pada Sabtu-Ahad (7-8 Februari 2026) silam. Selain memenuhi kewajiban untuk menghadiri perkuliahan, para murid SPI Bandung juga dituntut untuk menyelesaikan sebuah penelitian ilmiah sebagai salah satu syarat kelulusan.
Di akhir masa belajarnya, murid-murid SPI diberi kesempatan untuk melaksanakan penelitian ilmiah yang topiknya dipilih berdasarkan preferensi masing-masing. “Selama masa pembelajaran di SPI, setiap murid dilatih untuk berpikir kritis dan menggunakan worldview Islam sebagai pisau analisisnya. Oleh karena itu, mereka didorong untuk memilih sendiri topik penelitian dan menyusunnya ke dalam bentuk sebuah makalah, kemudian mempresentasikannya dalam Rihlah ini,” ujar Kepala SPI Pusat, Akmal Sjafril, yang turut hadir dalam kegiatan tersebut.
Menurut Akmal, murid-murid SPI Bandung angkatan ke-11 memiliki latar belakang yang semakin beragam dibandingkan dengan angkatan-angkatan sebelumnya.
“Sebagian di antara murid SPI aktif di lembaga dakwah kampus, ada juga yang berprofesi sebagai guru, pegawai dan ibu rumah tangga. Menariknya, kali ini SPI Bandung menerima tiga orang murid yang masih menempuh pendidikan di SMA dan pra-universitas, dan ketiganya mengikuti pendidikan hingga akhir,” ungkap Akmal lagi.
Keragaman latar belakang tersebut, menurut Akmal, nampaknya tercermin dari keragaman topik penelitian yang dipilih. “SPI memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada murid untuk memilih topik penelitiannya masing-masing. Di angkatan ke-11 ini, obyek penelitiannya sangat beragam, mulai dari kajian kritis terhadap pemikiran Tan Malaka dan Yuval Noah Harari, sampai konsep pendidikannya Montessori. Ada beberapa murid yang membahas fenomena dakwah di media sosial, fenomena FOMO dan brainrot, tidak ketinggalan juga seputar bencana ekologis di Sumatera tempo hari,” tandas ayah dari dua anak ini.
Selain kursus singkat sebagai program andalannya, SPI juga memiliki program daring yang dapat diikuti oleh semua orang, yakni kajian Tuesday’s Special yang membahas berbagai persoalan kontemporer.
“Di Tuesday’s Special, kami berusaha mengajak umat untuk memperluas wawasannya dengan menyajikan topik-topik yang kekinian. Pekan lalu, misalnya, kami membahas persoalan Board of Peace yang ditawarkan oleh Donald Trump. Alhamdulillaah, peminat kajian-kajian semacam ini semakin banyak dari waktu ke waktu,” pungkas Akmal.
Selasa (10/02) besok, SPI dijadwalkan menggelar kajian Tuesday’s Special dengan tajuk “Kotak Pandora Itu Bernama Jeffrey Epstein”. Informasi terkini tentang kegiatan-kegiatan SPI dapat diakses melalui akun-akun media sosialnya, terutama di Facebook dan Instagram.*SPI Media Center




