Hidayatullah.com – Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional, Sudarnoto Abdul Hakim, mengecam keras serangan militer Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran. Ia menilai agresi tersebut sebagai ancaman nyata bagi upaya memperkuat perdamaian dan ketertiban dunia.
Menurut Sudarnoto, serangan itu bukan hanya berdampak pada Iran, tetapi juga berpotensi mengguncang stabilitas kawasan Teluk dan wilayah lain secara lebih luas. Ia menyebut tindakan tersebut sebagai bagian dari konfigurasi geopolitik yang lebih besar, yang sarat dengan ambisi hegemonik dan kepentingan dominasi regional.
“Ini bukan sekadar serangan militer biasa, melainkan langkah sistematis yang melemahkan posisi strategis Iran di kawasan,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima Hidayatullah.com, Ahad (01/03/2026).
Ia menilai, salah satu tujuan utama dari tekanan tersebut adalah menghambat dukungan Iran terhadap perjuangan Palestina. Sudarnoto juga menyoroti peran Presiden Amerika Serikat saat itu, Donald Trump, yang menurutnya turut bertanggung jawab atas eskalasi ketegangan. Ia menyebut kebijakan Trump justru merusak agenda perdamaian global.
“Serangan ini menjadi bukti konkret bahwa Trump bukan pembawa damai, tetapi perusak perdamaian,” tegasnya. Ia bahkan menilai berbagai inisiatif perdamaian yang pernah digagas kehilangan legitimasi moral dan politik akibat tindakan agresif tersebut.
Menurutnya, penggunaan narasi “peace” atau perdamaian oleh pemerintah AS tidak sejalan dengan realitas kebijakan di lapangan. “Sulit mempercayai komitmen perdamaian jika langkah yang diambil justru memperluas konflik,” katanya.
Lebih lanjut, Sudarnoto memperingatkan bahwa agresi militer Israel–AS berpotensi mendorong terjadinya perang regional di kawasan Timur Tengah. Jika konflik meluas, stabilitas kawasan bisa semakin terpuruk dan berdampak pada situasi kemanusiaan serta keamanan global.
Ia menilai eskalasi tersebut berisiko membuat kawasan Timur Tengah semakin tidak stabil, yang pada akhirnya akan memengaruhi dinamika politik dan keamanan di wilayah tersebut.
Terkait posisi Indonesia, Sudarnoto menegaskan bahwa pemerintah Indonesia seharusnya tidak terlibat dalam konflik tersebut. Ia mendorong agar Indonesia tetap konsisten menolak segala bentuk agresi militer serta memperjuangkan penyelesaian konflik melalui jalur damai dan berbasis keadilan.
“Indonesia harus tegas menolak aksi agresi militer, menegakkan hukum internasional, dan memperjuangkan penyelesaian damai yang adil,” ujarnya.
Pernyataan ini menambah daftar sikap kritis sejumlah tokoh nasional terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah, yang dinilai berpotensi mengganggu stabilitas kawasan dan merusak tatanan perdamaian dunia.*




