“Wahai Dhirar, istirahat itu di surga esok hari.” Kata-kata legendaris dari Khalid bin Walid Ra. kepada sahabatnya: Dhirar bin Al-Azwar, saat penaklukan Syam, ketika ditawari istirahat sejenak untuk melepas penat. (Al-Waqidi, Futūh asy-Syām, I/32)
Hidayatullah.com | DUNIA sering kali digambarkan –oleh sementara orang– sebagai tempat untuk melepas penat, sebuah destinasi di mana manusia berlomba-lomba mengumpulkan materi demi satu tujuan: kenyamanan. Ada yang membangun rumah yang megah, membeli kendaraan yang mewah, dan merancang masa pensiun yang tenang dan lain sebagainya.
Masalahnya, benarkah ada “istirahat” yang benar-benar tuntas di atas bumi ini? Jika kita menilik jejak para salaf saleh dan hikmah yang ditinggalkan para ulama, kita akan menemukan jawaban yang kontras dengan ambisi duniawi kita. Bagi mereka, dunia bukan sekadar tempat bekerja, melainkan sebuah medan ujian yang tidak menyediakan kursi untuk bersantai dalam waktu lama.
Mari kita bayangkan sebuah peristiwa yang terekam dalam kitab “Al-Jāmi’ li Ulūm Al-Imām Ahmad” (II/191). Suatu hari, ada seorang lelaki datang jauh-jauh dari Khurasan menuju kediaman Imam Ahmad bin Hanbal. Perjalanan yang memakan waktu berbulan-bulan itu hanya untuk satu pertanyaan singkat namun sangat bermakna tentang kapan seorang hamba merasakan manisnya istirahat.
Imam Ahmad, sang pejuang Sunnah yang hidupnya penuh dengan ujian, menjawab dengan kalimat yang sangat menggetarkan jiwa:
عِنْدَ أَوَّلِ قَدَمٍ يَضَعُهَا فِي الْجَنَّةِ
“Pada saat langkah kaki pertama menapak di Surga.”
Jawaban ini sontak menghancurkan ilusi kita tentang istirahat di dunia. Selama nyawa masih dikandung badan, selama kaki masih menginjak bumi, maka ujian akan terus menimpa. Istirahat yang sesungguhnya bukan saat kita tidur di kasur empuk, melainkan saat kita telah aman dari huru-hara hari kiamat.
Logika Terbalik: Mengejar Istirahat Melalui Lelah
Dalam kitab “Miftāh Dāri as-Sa’ādah” (II/15) karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dikemukakan sebuah hukum alam yang unik. Beliau menegaskan sebuah kaidah yang disepakati oleh orang-orang berakal:
أَجْمَعَ عُقَلَاءُ كُلِّ أُمَّةٍ عَلَى أَنَّ النَّعِيمَ لَا يُدْرَكُ بِالنَّعِيمِ، وَإِنَّ مَنْ آثَرَ الرَّاحَةَ فَاتَتْهُ الرَّاحَةُ
“Telah sepakat orang berakal dari setiap umat bahwa kenikmatan tidak akan didapatkan dengan bersantai-santai, dan barangsiapa yang lebih memilih kenyamanan (di dunia), maka ia akan kehilangan kenyamanan (di akhirat).”
Ibnu Qayyim Rahimahullah menjelaskan bahwa jika seorang hamba mau lelah sebentar saja di dunia yang fana ini, ia akan beristirahat untuk waktu yang sangat lama. Beliau menuliskan:
إِذَا تَعِبَ الْعَبْدُ قَلِيلًا اسْتَرَاحَ طَوِيلاً
“Jika seorang hamba mau bersusah payah sebentar, maka ia akan beristirahat panjang.”
Pandangan ini berakar dari pemahaman para sahabat Nabi. Abdullah bin Mas’ud pernah berkata, sebagaimana dikutip dalam kitab “Az-Zuhd” (311) karya Waki’:
لَا رَاحَةَ لِلْمُؤْمِنِ دُونَ لِقَاءِ اللَّهِ
“Tidak ada istirahat bagi seorang mukmin sebelum ia bertemu dengan Allah.”
Senada dengan itu, Abu Darda Ra. pernah memegang jenggotnya sendiri sambil bergumam tentang kapan beban hidup ini akan berakhir. Ketika ditanya kapan saat itu tiba, beliau menjawab:
إِذَا دَخَلْنَا الْجَنَّةَ
“Ketika kita memasuki Surga.” (Hannad bin As-Sarri, az-Zuhd, I/71). Bahkan, dalam situasi genting peperangan, prinsip ini tetap teguh.
Saat penaklukan Syam, Khalid bin Walid Ra. sedang bertempur dengan hebatnya. Sahabatnya, Dhirar bin Al-Azwar, merasa kasihan melihat Khalid dan berkata, “Wahai Amir, biarkan aku yang maju menggantikanmu agar engkau bisa beristirahat.” Khalid Ra. menjawab:
يَا ضِرَارُ الرَّاحَةُ فِي الْجَنَّةِ غَدًا
“Wahai Dhirar, istirahat itu di surga esok hari.” (Al-Waqidi, Futūh asy-Syām, I/32)
Jebakan Istirahat Duniawi
Ada peringatan keras bagi mereka yang menjadikan “istirahat” sebagai tujuan utama hidupnya di dunia. Beberapa kaum bijak berkata:
إِذَا كَانَ سَعْيُكَ إِنَّمَا هُوَ لِطَلَبِ الرَّاحَةِ فِي الدُّنْيَا، ثُمَّ سَعَيْتَ لِأَكْثَرَ مِمَّا يَكْفِيكَ لَمْ تَزْدَدْ مِنَ الرَّاحَةِ وَالدَّعَةِ إِلَّا بُعْدًا
“Jika usahamu hanyalah untuk mencari istirahat di dunia, lalu engkau mencari lebih dari apa yang mencukupimu, maka engkau tidak akan menambah apa pun kecuali menjauhkan dirimu dari ketenangan.” (Ibnu Abdil Barr, Bahjatu al-Majālis wa Uns al-Majālis, 239)
Dalam sebuah riwayat, Alqamah atau Aswad bin Yazid pernah diingatkan tentang tubuhnya yang kurus karena terus beribadah, ia pun menjawab:
لَا تَنَالُ الرَّاحَةَ إِلَّا بِالتَّعَبِ
“Kenyamanan tidak akan diraih kecuali dengan keletihan.” (Ibnu ‘Abdi Rabbih, al-‘Iqdu al-Farīd, III/113)
Ada lagi hal menarik yang perlu dikemukakan dalam tulisan ini. Masruq memberikan perspektif yang mungkin terdengar kontemplatif namun benar secara hakiki:
مَا مِنْ بَيْتٍ خَيْرٌ لِلْمُؤْمِنِ مِنْ لَحْدٍ، قَدِ اسْتَرَاحَ مِنْ هُمُومِ الدُّنْيَا، وَأَمِنَ مِنْ عَذَابِ اللَّهِ
“Tidak ada rumah yang lebih baik bagi seorang mukmin daripada liang lahat, karena di sana ia telah beristirahat dari kegundahan dunia dan merasa aman dari azab Allah.” (Waki’, az-Zuhd, 313). Tentu ini bukan ajakan untuk membenci hidup, melainkan pengingat agar kita tidak salah meletakkan harapan. Dunia adalah tempat menanam, bukan tempat panen.
Dalam sebuah riwayat yang dikutip oleh Abu Hafsh An-Nasafi, Ali bin Abi Thalib pernah bertanya kepada Rasulullah SAW tentang apa itu istirahat. Rasulullah menjawab:
لِقَاءُ اللَّهِ تَعَالَى
“Bertemu dengan Allah Ta’ala.” (An-Nasafi, at-Taisīr fī at-Tafsīr, XIV/338). Maka, jika hari ini kita merasa lelah, jika punggung kita terasa berat memikul amanah, tersenyumlah. Sebab, orang beriman memang tidak diciptakan untuk beristirahat di sini.
Teruslah berjalan di jembatan dunia ini hingga kelak kedua kaki kita benar-benar menapak di atas tanah surga. Sebagaimana yang digambarkan Syekh Ahwad Sahnun dalam syair indahnya:
وَدُنْيَانَا لَنَا جِسْرٌ … نَمُرُّ بِهِ إِلَى الأُخْرَى
إِلَى اللهِ إِلَى الْجَنَّةِ … حَيْثُ الرَّاحَةُ الْكُبْرَى
“Dunia kita hanyalah jembatan … yang kita lewati menuju akhirat, menuju Allah, menuju surga … tempat istirahat yang paling besar (hakiki).” (Ahmad Sahnun, Dīwān al-Syaikh Ahmad Sahnūn (2/305). Yaitu saat di mana kata “lelah” resmi dihapus dari kamus kehidupan kita untuk selamanya. (MBS)




