Ketika manusia salah memaknai dunia, harta, kuasa, dan ambisi mudah disangka sebagai jalan menuju kebahagiaan.
Oleh: Imam Nawawi
Hidayatullah.com | KATA kosmik berasal dari bahasa Yunani, kosmein, yang berarti menata atau mengatur dengan baik. Dari akar kata inilah lahir konsep kosmos, yakni tatanan yang teratur. Dalam konteks pemikiran peradaban, ada dalam tradisi Hindu/India, istilah “cosmic illusion” atau ilusi kosmik, merujuk pada konsep Maya—yakni dunia fenomenal yang menipu persepsi manusia tentang realitas sejati.
Erich Fromm dalam To Have or To Be? (1976) membedakan manusia yang hidup dalam mode “memiliki” dengan yang hidup dalam mode “menjadi”. Orang yang hidup untuk “memiliki” akan terus mengejar benda, status, dan penguasaan, tetapi tetap kosong secara batin.
Sementara Tim Kasser dalam The High Price of Materialism menunjukkan bahwa orientasi hidup yang terlalu materialistik berkaitan dengan kecemasan, rendahnya kesejahteraan psikologis, dan hubungan sosial yang lebih buruk.
Ilusi kosmik, yaitu cara pandang yang keliru tentang bagaimana manusia menata hidup agar tampak baik, bahagia, tenteram, dan sejahtera, tetapi seluruhnya diletakkan di atas fondasi materi.
Sekilas, pandangan semacam ini tampak wajar. Banyak orang memang tumbuh dengan keyakinan bahwa hidup akan selesai bila seseorang memiliki cukup harta, kedudukan, dan pengaruh.
Namun, di situlah ilusi itu bekerja: ia membuat manusia mengira bahwa kebahagiaan bisa diraih hanya dengan menguasai dunia lahiriah, padahal ada dimensi yang jauh lebih menentukan dalam diri manusia, yaitu jiwa.
Orang yang termakan ilusi kosmik biasanya menempatkan harta, tahta, dan syahwat sebagai pusat orientasi hidup. Ia mengejar semuanya dengan penuh tenaga, bahkan kadang dengan cara-cara yang secara batin sebenarnya ia tahu keliru.
Dalam kondisi seperti ini, manusia tidak lagi hidup dengan kejernihan nurani, melainkan digerakkan oleh hasrat untuk memiliki, menguasai, dan menang.
Di sinilah letak kesalahpahaman mendasarnya: manusia dipahami hanya sebagai makhluk jasmani. Padahal manusia bukan sekadar tubuh yang makan, tidur, bekerja, dan menikmati dunia. Ia juga memiliki ruh, hati, dan kesadaran moral.
Ketika dimensi ruhani ini diabaikan, manusia perlahan kehilangan arah. Ia mungkin tampak berhasil di mata dunia, tetapi kosong di dalam. Bahkan, dalam bahasa Al-Qur’an, manusia yang hanya memperturutkan hawa nafsu dapat jatuh pada derajat yang lebih rendah daripada hewan ternak, karena hidupnya tak lagi dipandu oleh akal sehat dan cahaya kebenaran.
Ilusi Kosmik dalam Politik Global
Ilusi kosmik tidak hanya bekerja pada level individu. Ia juga dapat menjangkiti para pemegang kekuasaan, bahkan memengaruhi arah sejarah dunia. Dalam politik global, kita sering menyaksikan bagaimana ambisi, ego, dan kepentingan kuasa dibungkus dengan narasi keamanan, perdamaian, atau kepentingan nasional.
Dalam konteks inilah serangan Amerika Serikat dan ‘Israel’ terhadap Iran dapat dibaca. Bagi banyak pihak, langkah itu bukan sekadar keputusan militer, tetapi cerminan dari cara pandang yang meyakini bahwa dominasi, tekanan, dan kekuatan bersenjata adalah jalan untuk mempertahankan pengaruh dan membangun citra kemenangan.
Namun sejarah berulang kali menunjukkan bahwa keputusan yang lahir dari ambisi dan ilusi sering kali justru menghasilkan efek sebaliknya. Penolakan warga Amerika sendiri melalui gelombang demonstrasi bertajuk “No Kings” menunjukkan bahwa tidak semua orang menerima logika kuasa semacam itu.
Di mata banyak warga, tindakan semacam itu justru merugikan Amerika, memperdalam ketegangan global, dan mencederai nilai-nilai demokrasi yang selama ini diklaim dijunjung tinggi.
Jika dibaca melalui kerangka ilusi kosmik, maka tindakan menyerang pihak lain demi keuntungan politik atau citra global adalah tanda seseorang sedang terjebak dalam pandangan yang keliru.
Ia mengira bahwa kekuasaan akan semakin kokoh bila lawan ditundukkan. Padahal kenyataan sering membuktikan sebaliknya: semakin besar ambisi yang dibangun di atas ilusi, semakin besar pula kegelisahan yang mengikutinya.
Karena itu, krisis yang muncul sering kali bukan hanya krisis kebijakan, melainkan juga krisis jiwa. Seseorang bisa saja tampak kuat di depan publik, tetapi sesungguhnya rapuh dalam batin. Ia tidak tenang, tidak jernih, dan tidak lagi mampu membedakan mana yang benar-benar maslahat dan mana yang sekadar memuaskan ego sesaat.
Buta dan Tuli Mata Hati
Dalam pandangan Al-Qur’an, kondisi seperti ini bukan semata kesalahan intelektual, tetapi juga penyakit hati. Manusia yang terlalu lama hidup dalam ilusi kosmik lambat laun akan mengalami kebutaan dan ketulian batin. Ia tidak lagi peka terhadap kebenaran, nasihat, atau peringatan. Yang menjadi ukuran utamanya hanya satu: apakah hasratnya terpenuhi atau tidak.
Ketika seseorang telah sampai pada titik ini, ia tidak lagi memandang dunia sebagai amanah, melainkan sebagai arena pemuasan diri. Kekuasaan bukan lagi sarana menegakkan keadilan, melainkan alat menundukkan orang lain. Harta bukan lagi titipan, melainkan ukuran kehormatan. Dan manusia lain tidak lagi dipandang sebagai sesama makhluk Allah, melainkan sekadar alat atau ancaman.
Di sinilah kita memahami bahwa persoalan utama sebenarnya bukan pada dunia itu sendiri. Dunia tetaplah ciptaan Allah yang bisa menjadi ladang kebaikan. Yang menjadi masalah adalah cara manusia memaknainya.
Ketika dunia dibaca dengan hawa nafsu, ia berubah menjadi jebakan. Tetapi ketika dunia dipahami dengan cahaya iman, ia menjadi jalan menuju kemuliaan.
Semua ini menjadi pelajaran penting bagi siapa pun. Islam tidak memaksa manusia untuk berpikir secara buta, tetapi justru mendorongnya untuk menggunakan akal, hati, dan kesadaran ruhani.
Orang yang mau berpikir jernih pada akhirnya akan mencari yang hakiki, bukan yang semu; mencari kebenaran, bukan sekadar kemenangan; dan mencari ridha Allah, bukan sekadar tepuk tangan dunia.
Karena itu, bahaya terbesar dalam hidup bukan semata kemiskinan atau kekalahan, melainkan ketika manusia tenggelam dalam ilusi kosmik—lalu mengira bahwa dunia, dengan seluruh harta, tahta, dan syahwatnya, adalah kiblat akhir kehidupan.*
Pegiat literasi




