Hidayatullah.com— Tokoh Yahudi anti-Zionis, Rabbi Elhanan Beck, menegaskan bahwa kritik terhadap Israel dan Zionisme tidak bisa serta-merta disamakan dengan antisemitisme. Dalam wawancara di podcast Middle East Eye, Beck menyebut kemarahan banyak orang di dunia saat ini lebih ditujukan kepada pendudukan, perang, dan pembunuhan warga sipil, bukan kepada identitas Yahudi itu sendiri.
“Mereka tidak membenci orang Yahudi. Mereka membenci para penjajah. Mereka membenci genosida,” kata Beck.
Menurut dia, tuduhan antisemitisme kerap dipakai untuk membungkam kritik terhadap tindakan Israel di Palestina dan kawasan sekitarnya. Beck menilai pencampuradukan antara Yudaisme dan Zionisme justru memperburuk keadaan karena membuat tindakan negara Israel seolah mewakili seluruh orang Yahudi di dunia.
Dalam wawancara itu, Beck juga mempertanyakan narasi lama bahwa Israel memiliki “hak membela diri” tanpa lebih dulu membahas akar konflik, yakni pendudukan atas tanah Palestina.
“Siapa yang memberi mereka hak untuk berada di sana sejak awal? Itu bukan tanah mereka,” ujarnya.
Ia menilai argumen “hak membela diri” tidak dapat dipisahkan dari persoalan pokok tentang pengambilalihan tanah, pengusiran penduduk, dan perubahan demografi yang menurutnya dipaksakan sejak awal berdirinya negara Israel.
“Engkau tidak bisa merampas rumah seseorang, lalu berkata bahwa engkau punya hak untuk mempertahankannya,” kata Beck.
Ia juga menyinggung dukungan kekuatan internasional, termasuk Deklarasi Balfour, yang menurutnya tidak memberi legitimasi moral untuk memindahkan kedaulatan suatu tanah dari rakyat yang telah lama tinggal di sana kepada kelompok lain.
“Palestina milik rakyat yang tinggal di sana. Tidak ada siapa pun di dunia yang berhak mengambil tanah itu lalu memberikannya kepada orang lain,” ujarnya.
Beck menilai akar konflik di kawasan bukan terletak pada agama, melainkan pada praktik pendudukan dan pemaksaan kekuasaan atas bangsa lain. Karena itu, menurut dia, kritik terhadap Israel seharusnya dibaca sebagai kritik terhadap kolonialisme dan penindasan, bukan kebencian terhadap orang Yahudi.
“Masalah sesungguhnya dimulai dari pendudukan dan pemaksaan terhadap orang lain,” kata Beck.
Ia juga menyinggung sejarah panjang hidup berdampingan antara Yahudi dan Muslim di berbagai wilayah sebagai bukti bahwa agama bukan sumber utama konflik. Dalam pandangannya, problem muncul ketika agama dipakai untuk membenarkan proyek politik, ekspansi wilayah, dan kekerasan.
Bagi Beck, membedakan secara tegas antara Yudaisme sebagai agama dan Zionisme sebagai ideologi politik merupakan hal penting agar kritik terhadap negara Israel tidak terus dipelintir menjadi kebencian terhadap identitas Yahudi.*




