Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Mengapa AKP Menjadi Partai Populer di Turki?

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 22 Agustus 2009 17:59 5:59 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 22 Agustus 2009 17:59
Bagikan
Bagikan

Oleh Raymond J. Mas*

Hidayatullah.com–Turki di masa lalu selalu berganti pemerintahan akibat dibentuk melalui koalisi gemuk. Di samping itu pertentangan di dalamnya kerap memicu intervensi militer. Untuk memahami dinamika lanskap politik Turki saat ini, dan bagaimana Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) mengukuhkan diri menjadi partai terbesar, kita harus kembali ke asal-muasal Republik Turki dan visi pendirinya, Mustafa Kemal Ataturk.

Negara Turki muncul berkat kepribadian kuat Ataturk (yang namanya berarti “Bapak Orang Turki”), pahlawan militer yang menyelamatkan orang-orang yang berpatah asa dan tak bersemangat dari situasi genting disintegrasi tragis Kekaisaran Ottoman pada akhir Perang Dunia I.

Sekalipun Ataturk membuat sebuah negara dengan konstitusi liberal, ia memandang politik kepartaian dengan penuh curiga dan rasa tak percaya, lantaran ia merasa oposisi bisa membahayakan pembaruan-pembaruan yang dilancarkannya.

Dan, Ataturk jelas melihat agama sebagai antitesis kemajuan. Meminggirkan agama karenanya telah menjadi salah satu nilai pedoman kelompok sekuler di Turki. Bahkan militer, yang secara konstitusional diharapkan untuk tak memihak, memandang diri mereka sebagai penjaga etika publik “Kemalisme” yang sekular.

Baca Juga

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman
Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia
Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

Militer terpaksa masuk politik selepas era Perang Dunia II ketika Turki jatuh dalam karut marut politik dan depresi ekonomi sebagai akibat kevakuman politik karena perseteruan para pemimpinnya. Sejak itu militer tak pernah sepenuhnya mundur dari politik. Kini militer duduk di Dewan Keamanan Nasional yang membuatnya menjadi mitra permanen pemerintah.

Periode panjang ketakstabilan politik ini berakhir ketika (alm.) Turgut Ozal menjadi Perdana Menteri pada 1983. Ia dianggap oleh banyak orang sebagai pemimpin Turki yang paling berpengaruh setelah Ataturk, dan hingga kini masih menjadi figur populer di Turki.

Ozal, yang keturunan Kurdi, tidak melihat kontradiksi antara agama dan modernitas, dan berupaya mengintegrasikan agama ke kultur publik dalam cara yang serupa dengan Amerika Serikat. Pada Januari 1991, ketika ia menjadi Presiden, kabinetnya menyetujui penghapusan tiga pasal dari KUHP Turki yang berisi larangan politik berdasarkan kelas atau agama.

Dalam iklim baru ini, agama mendapat jalan untuk berperan dalam sebuah sistem politik demokratis baru yang terbuka, dan karenanya, partai-partai agama pun didirikan.

Pada 1997, Perdana Menteri wanita pertama Turki, Tansu Ciller, membuat kesepakatan pembagian kekuasaan dengan sebuah partai politik Islam, pendahulu AKP sekarang. Namun, sekali lagi kudeta terjadi, militer melengserkan pemerintahan itu. Buyarlah kesempatan bagi sebuah partai berbasis agama untuk membuktikan diri.

Tapi silih bergantinya pemerintahan lemah yang didera skandal, tingginya tingkat inflasi, dan percekcokan politik, ditambah munculnya generasi muda pemimpin Islam politik dalam gaya seperti Kristen Demokrat di Eropa, akhirnya menyediakan ruang bagi kemunculan kembali AKP yang mengejutkan.

Kini partai-partai sekuler, yang retak oleh faksi-faksi yang dipengaruhi tokoh-tokoh populer, tak bisa bersatu menampilkan kandidat yang benar-benar bisa menandingi pemimpin AKP. Banyak pemilih partai sekuler yang merasa tak mempunyai saluran suara politik yang efektif.

Bahayanya adalah bila mereka sampai berpaling pada militer untuk melakukan apa yang tak bisa dilakukan oleh para politisi mereka dan mengambil kendali dari AKP secara paksa, seperti tampak dalam kabar-kabar belakangan ini menyangkut kelompok sekuler Ergenekon, yang dituding melakukan konspirasi untuk menjatuhkan pemerintah.

Menimbang hal ini, akankah Turki mempunyai politik berhaluan tengah yang stabil di masa depan?

Kini, AKP tampak memainkan peran lebih sebagai sebuah partai berhaluan tengah (centrist party). Meredupnya Partai Rakyat Republik yang berhaluan kiri moderat, dan partai-partai kanan moderat, seperti Partai Jalan Benar dan Partai Ibu Pertiwi, menandakan bahwa tak ada pesaing berat bagi AKP saat ini. Pada akhirnya, ancaman utama bagi dominasi AKP—bila tak diperhatikan—boleh jadi adalah AKP sendiri, terlebih bila ia tergoda untuk melampaui batas-batas politiknya lantaran popularitasnya yang meningkat.

AKP meraih dukungan dari spektrum pemilih yang luas, yang tertarik pada reformasi ekonomi dan sosial, di samping pada kharisma pribadi pemimpinnya, Recep Tayyip Erdogan. Kebijakannya yang kuat untuk bergabung dengan Uni Eropa, telah turut membantah klaim bahwa ia akan mengarahkan kebijakan-kebijakannya menjauh dari Barat.

Apa yang penting buat AKP—dan Turki secara keseluruhan—adalah melanjutkan politik berhaluan tengah ini dan melampaui pertentangan di masa lalu.[RJM/hidayatullah.com]

* Raymond J. Mas ialah penulis dan editor lepas. Ia tinggal di Turki selama empat tahun dan kerap mengunjungi negara ini. Artikel ini ditulis untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews).

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Aktivis Liberal Dukung Polisi Periksa Orang Bercadar
Tulisan selanjutnya Ramadhan dan Jeritan Al-Aqsa

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam

Berita
4 Juni 2026 11:00
Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
Hakim Memutuskan Nama Donald Trump Dihapus dari Gedung Kesenian Kennedy Center
Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran

Terbaru

  • Amerika Jatuhkan Sanksi Atas Presiden Kuba, Anggota Keluarga Castro
  • Usai Serangan Drone Terminal Pelabuhan Mina al-Fahl Oman Beroperasi Kembali
  • Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Opini

Zohran Mamdani dan Paranoia Primitif di Jantung Amerika

11 November 2025 16:00
Opini

Ketika Bertanya Dianggap Bersalah: Membaca Logika Polisi atas Kasus Roy Suryo Cs

10 November 2025 10:19
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?