Hidayatullah.com– Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung hari Sabtu (11/4/2026) menuding Israel gagal melihat ke dalam dirinya sendiri perihal tuduha pelanggaran berbagai hak yang dilakukan oleh pasukannya, setelah Israel menuduhnya membesar-besarkan “disinformasi” di media sosial.
Pemimpin Seoul itu membuat geram Kementerian Luar Negeri Israel pekan ini dengan komentar-komentarnya lewat video di media sosial yang memuat gambar tentara Israel menyiksa dan mendorong seorang “anak Palestina” jatuh dari atap bangunan.
“Saya perlu melihat apakah ini benar, dan jika memang demikian, apa langkah-langkah yang sudah diambil,” kata Lee hari Jumat lewat platform X seperti dilansir AFP.
Menurut peninjauan AFP, video itu sepertinya menunjukkan gambar dari sisi berbeda sebuah insiden yang tertangkap kamera AFPTV di Tepi Barat dua tahun lalu, ketika sejumlah reporter melihat seorang serdadu Israel menggunakan kakinya untuk mendorong jasad yang tampaknya mayat seorang pria Palestina dari atap.
Pada 2024 Gedung Putih menyebut rekaman itu” sangat meresahkan “ dan mengatakan pihaknya sudah meminta penjelasan dari Israel di tengah penggerebekan yang banyak dilakukan oleh pasukan IDF di Tepi Barat yang diduduki Zionis sejak 1967.
Kementerian Luar Negeri Israel mengatakan dalam pernyataan yang dirilis hari Sabtu bahwa insiden itu sudah “diselidiki dan ditangani”.
“Presiden Lee Jae Myung, untuk beberapa alasan yang aneh, memilih untuk menggali kembali cerita dari tahun 2024 dan mengutip sebuah akun palsu yang secara keliru menyajikannya sebagai peristiwa yang baru ini terjadi,” kata Kemenlu Zionis lewat pernyataan di media sosial.
“Akun ini dikenal kerap menyebarkan disinformasi anti-Israel dan berita bohong tentang Israel,” imbuhnya.
Kementerian Luar Negeri Korea Selatan berusaha mencegah eskalasi konfrontasi di media sosial.
Dalam sebuah pernyataannya, Kemenlu Korsel mengatakan bahwa unggahan Lee tersebut– yang menuding perlakuan buruk Israel terhadap Palestina sama seperti kekejaman historis yang oernah dialami bangsa Yahudi dan Korea – mengajak untuk mempedulikan “hak-hak asasi manusia universal dan bukan sekedar opini atas suatu isu tertentu”.
Namun, hari Sabtu Lee mengeluarkan komentar susulan, yang menyinggung soal artikel berita yang menyoroti sikap protes Israel terhadap pernyataan-pernyataannya.
“Sangat disayangkan bahwa Anda bahkan tidak melihat kepada diri sendiri perihal kritikan-kritikan orang dari seluruh dunia yang menderita dan merana disebabkan tindakan-tindakan anti-HAM dan anti-hukum internasional yang tidak berkesudahan,” kata Lee, menyinggung pelanggaran HAM yang sangat banyak dilakukan oleh Israel tetapi senantiasa dibantahnya.
“Ketika saya kesakitan, orang lain juga merasakannya,” kata Lee, seakan menyindir Zionis Israel yang tidak memiliki perikemanusiaan.
Korea Selatan merupakan sekutu dari Amerika Serikat yang merupakan penyokong utama Zionis Israel. Seoul biasanya berusaha bersikap netral dalam isu-isu Timur Tengah, tanpa berpihak kepada salah satu pihak yang berkonflik.*




