Tidak semua ucapan layak disampaikan, dan tidak semua yang layak disampaikan itu disebar begitu saja tanpa mempertimbangkan situasi dan kondisi. Semua dijelaskan secara gamblang oleh Ibrahim bin Adham melalui empat kategori.
Hidayatullah.com | DI era digital yang dipenuhi dengan notifikasi, komentar media sosial, dan obrolan tanpa henti, menjaga lisan sering kali menjadi tantangan yang paling berat. Kita sering merasa harus bersuara, namun jarang menimbang apakah suara tersebut membawa manfaat atau justru menjadi beban di hari akhir.
Seorang ulama besar dari kalangan salaf, Ibrahim bin Adham Rahimahullah, memberikan sebuah perspektif yang tajam mengenai manajemen lisan. Dalam kitab “Ash-Shamt wa Ādābu al-Lisān” (67/50) karya Ibnu Abi Dunya, dikisahkan bahwa Ibrahim bin Adham adalah sosok yang sangat gemar berdiam diri.
Ketika ditanya mengapa ia tidak berbicara, beliau membedah perkataan manusia ke dalam empat kategori besar. Analisis beliau bukan sekadar etika berkomunikasi, melainkan sebuah filter spiritual yang mampu menyaring mana yang layak keluar dari lisan kita dan mana yang harus dipendam selamanya.
Pertama, Ucapan yang Diharapkan Manfaatnya, Namun Dikhawatirkan Akibat Buruknya. Kategori pertama adalah ucapan yang secara lahiriah tampak baik atau memiliki potensi keuntungan, namun di baliknya tersimpan risiko fitnah, kesalahpahaman, atau bahaya bagi diri sendiri dan orang lain.
Terkadang, sebuah kebenaran jika disampaikan pada waktu yang salah atau dengan cara yang keliru, justru memicu kerusakan yang lebih besar. Terhadap jenis ini, Ibrahim bin Adham berpesan: “Keutamaan dalam hal ini adalah meninggalkannya agar selamat.”
Hal ini selaras dengan kaidah fikih “Dar’ul mafāsid muqaddamun ‘ala jalbil mashālih” (menolak kerusakan lebih diutamakan daripada mengambil kemaslahatan). Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman mengenai pentingnya menimbang perkataan:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَقُولُواْ قَوۡلٗا سَدِيدٗا 70 يُصۡلِحۡ لَكُمۡ أَعۡمَٰلَكُمۡ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۗ ….. 71 [الأحزاب: 70-71]
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar (Sadiid), niscaya Allah akan memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu…” (QS. Al-Ahzab [33]: 70-71).
Dalam kitab “Mausū‘at at-Tafsīr al-Ma’tsūr” (18: 148-149) disebutkan bahwa ketika ditanya tentang firman Allah qaulan sadīdan. Ibnu ‘Abbas menafsirkannya sebagai perkataan yang adil dan benar, dan dalam riwayat lain beliau menyebutnya perkataan yang tepat. Mujahid menafsirkannya sebagai perkataan yang lurus, sementara al-Ḥasan al-Baṣrī mengatakan maksudnya adalah perkataan yang jujur.
Adapun Qatādah menjelaskan bahwa qaulan sadīdan berarti perkataan yang adil, baik dalam ucapan maupun dalam seluruh amal, dan menegaskan bahwa yang dimaksud dengan “saddīd” adalah kejujuran. Dengan demikian, para mufassir sepakat bahwa “qaulan sadīdan” adalah ucapan yang lurus, benar, adil, dan jujur, yang mencerminkan integritas seorang mukmin dalam tutur kata maupun perbuatannya.
Intinya sadīd berarti perkataan yang tepat sasaran, benar secara substansi, dan tepat secara momentum. Jika sebuah ucapan benar namun berisiko menimbulkan mudharat (bahaya) yang tak terkendali, maka diam adalah benteng keselamatan.
Kedua, Ucapan yang Tidak Ada Manfaatnya, namun Tidak Pula Ada Bahayanya. Inilah yang kita kenal dengan istilah “obrolan kosong” atau laghwu. Ucapan ini tidak mengandung dosa seperti ghibah, namun juga tidak mengandung pahala seperti dzikir atau nasihat.
Ini adalah jenis ucapan yang paling mendominasi keseharian kita; mulai dari membicarakan cuaca secara berlebihan hingga mengomentari gaya hidup orang lain yang tidak ada urusannya dengan kita. Meskipun terlihat tidak berbahaya, Ibrahim bin Adham mengingatkan bahwa dengan meninggalkannya, “Sekurang-kurangnya engkau meringankan beban fisik dan lisanmu.”
Nabi Muhammad SAW memberikan kriteria utama bagi seorang Muslim yang baik melalui hadits populer:
من حُسْنِ إسْلامِ المَرْءِ تَرْكُه مَا لا يَعْنيهِ
“Di antara tanda sempurnanya Islam seseorang adalah meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmidzi).
Waktu yang kita gunakan untuk membicarakan hal sia-sia adalah modal hidup yang terbuang. Diam dalam kategori ini bukan hanya soal etika, melainkan tentang efisiensi amal.
Ketiga, Ucapan yang Tidak Diharapkan Manfaatnya, dan Tidak Aman dari Akibat Buruknya. Ini adalah kategori yang paling berbahaya. Di sinilah letak dosa-dosa lisan yang mematikan: ghibah (gunjingan), namīmah (adu domba), dusta, caci maki, dan fitnah. Ucapan ini tidak membawa kebaikan sedikit pun di dunia maupun akhirat, justru hanya menumpuk kemurkaan Allah.
Mengenai kategori ini, Ibrahim bin Adham menegaskan: “Bagi orang yang berakal, ia sudah cukup tahu untuk tidak perlu mengeluarkan tenaga untuk mengucapkannya.”
Risiko dari ucapan jenis ini bukan sekadar urusan sosial, melainkan urusan keselamatan di akhirat. Rasulullah SAW bersabda ketika ditanya yang banyak menggelincirkan orang ke neraka:
الْفَمُ وَالْفَرْجُ
“Mulut dan kemaluan.” (HR. Tirmidzi). Seorang yang bijak akan melihat kategori ini seperti racun; tidak ada alasan bagi siapa pun untuk mencicipinya, apalagi menelannya.
Keempat, Ucapan yang Diharapkan Manfaatnya, dan Aman dari Akibat Buruknya. Inilah satu-satunya kategori yang tersisa sebagai “lampu hijau”. Ucapan yang mengandung kebenaran, ajakan kepada kebaikan, dzikir, ilmu yang bermanfaat, serta kata-kata santun yang mendamaikan hati manusia.
Ibrahim bin Adham memberikan mandat tegas: “Inilah ucapan yang wajib atasmu untuk menyebarkannya.” Kategori inilah yang menjadi ladang pahala jariyah bagi seorang hamba. Allah SWT memberikan perumpamaan indah tentang kata-kata yang baik: “Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimah thayyibah (ucapan yang baik) seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya (menjulang) ke langit.” (QS. Ibrahim [14]: 24).
Inilah jenis ucapan yang diperintahkan Nabi SAW dalam sabda pendek namun mendalam: “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau (jika tidak bisa) diam.” (HR. Bukhari & Muslim).
Mendengar pembagian tersebut, Khalaf bin Tamim (murid Abu Ishaq) berkomentar kepada gurunya, “Aku melihat beliau (Ibrahim bin Adham) telah menggugurkan tiga perempat perkataan manusia.” Gurunya menjawab, “Benar.”
Realitas pahitnya adalah, sebagian besar dari apa yang kita bicarakan setiap hari terjebak dalam tiga kategori pertama: berisiko, sia-sia, atau jahat. Hanya seperempat −atau bahkan kurang− yang benar-benar murni bermanfaat dan aman dari dampak buruk.
Melaluhi pemahaman yang baik terkait klasifikasi ini, kita diajak untuk menjadi pribadi yang lebih “hemat” dalam berbicara. Diamnya seorang mukmin adalah berpikir, dan bicaranya adalah dzikir serta manfaat.
Jika lisan kita adalah sebuah mesin, maka biarkanlah ia hanya bekerja untuk memproduksi kebaikan, karena setiap kata yang terlontar akan dicatat dan dimintai pertanggungjawabannya tanpa ada yang terlewatkan. Sudahkah ucapan kita hari ini masuk dalam kategori yang layak disebarkan? (MBS)




