Hidayatullah.com – Blokade militer Amerika Serikat terhadap pelabuhan Iran kemungkinan akan memutus pasokan minyak vital ke negara tersebut, namun Iran dilaporkan dapat bertahan selama berbulan-bulan tanpa krisis ekonomi besar.
Menurut laporan NBC News pada Sabtu (09/05/2026), industri minyak Iran diyakini tak akan mengalami kerusakan permanen meski menghadapi blokade militer AS.
Setelah blokade dimulai sekitar sebulan yang lalu, Presiden Donald Trump dan pejabat senior pemerintahan menyatakan bahwa hal itu akan dengan cepat memicu krisis di sektor minyak Iran.
Trump mengatakan infrastruktur minyak Iran dapat “meledak” dalam beberapa hari jika ekspor dihentikan. “Jika mereka tidak menggerakkan minyak mereka, seluruh infrastruktur minyak mereka akan meledak.”
Prediksi itu tidak menjadi kenyataan, meskipun blokade telah menghentikan puluhan kapal tanker Iran di dekat Selat Hormuz.
Iran telah perlahan mengurangi produksi minyak karena blokade dan dapat kehabisan ruang penyimpanan dalam waktu dua bulan, yang berpotensi memaksa beberapa sumur untuk ditutup.
Sebagian ladang minyak Iran masih beroperasi
Namun, laporan tersebut mengatakan bahwa Iran mungkin menghindari penutupan besar-besaran karena sebagian besar minyaknya dapat dimurnikan dan digunakan di dalam negeri, sehingga sebagian besar ladang tetap beroperasi.
“Mereka harus menutup sekitar setengah dari produksi mereka. Mereka dapat terus berproduksi karena mereka dapat memurnikannya di dalam negeri,” kata Robin Mills dari Qamar Energy Consulting dan Center on Global Energy Policy di Universitas Columbia, New York.
Gregory Brew dari Eurasia Group mengatakan Iran memiliki pengalaman dalam mengurangi produksi minyak setelah melakukannya dua kali dalam 15 tahun terakhir di bawah sanksi AS.
“Saya rasa itu tidak akan menyebabkan kerusakan besar pada infrastruktur mereka,” kata Brew. “Mereka tahu bagaimana melakukannya. Mereka pernah melakukannya sebelumnya.”
Menurut Brew, Iran telah merespons dengan mengurangi jumlah minyak yang dimuat ke kapal tanker dari sekitar 11 juta barel per minggu menjadi sekitar 6-8 juta barel.*




