Hidayatullah.com– Alat kecerdasan buatan Grok besutan perusahaan milik Ekon Musk xAI dipergunakan dalam serangan terhadap Iran. Hal itu terungkap ketika pemerintah Amerika Serikat membela penggunaan turbin-turbin gas oleh data center raksasa milik pengusaha triliuner itu, yang menjadi target gugatan hukum dalam kasus kerusakan lingkungan.
Dalam legal briefing bertanggal 15 Juni yang dilihat AFP hari Selasa (16/6/2026), Departemen Kehakiman AS berargumen bahwa gugatan hukum tersebut “mengancam nasional, ekonomi dan energi Amerika Serikat” karena berusaha menghentikan pasokan listrik bagi inovasi kecerdasan buatan yang mendukung operasi-operasi militer yang dilakukan Departemen Perang” (Departemen Pertahanan).
Untuk mendukung argumen itu, jaksa federal menyodorkan kesaksian dari Kepala AI Pentagon Cameron Stanley di mana dia mengatakan, di bawah sumpah, bahwa Grok sudah dipakai dalam Project Maven, operasi militer yang dibantu teknologi AI dalam membidik sasaran yang awalnya menggunakan AI model Claude buatan Anthropic. Anthropic mundur dari program itu karena target militer dirancang secara otomatis yang berpotensi juga menyasar warga sipil.
Dalam pernyataannya, Stanley mengatakan bahwa proyek Maven Smart Systems (MSS) memungkinkan militer AS menembakkan 2.000 amunisi ke 2.000 target tertentu dalam kurun waktu 96 jam selama operasi militer terhadap Iran yang diberi nama Operation Epic Fury.
Stanley memuji alat kecerdasan buatan Grok Gov Model yang disebutnya sangat membantu meningkatkan efisiensi operasi militer pasukan AS.NAACP, sebuah organisasi hak sipil yang membela hak-hak warga kulit hitam AS, menggugat xAI dan menuduhnya mengoperasikan puluhan turbin tanpa izin dan melanggar undang-undang lingkungan Clean Air Act.
NACCP berargumen turbin-turbin itu mencemari lingkungan pemukiman yang kebanyakan dihuni penduduk berkulit hitam. Namun, xAI berdalih turbin-turbin itu bersifat sementara dan mobile (bisa dipindah tempat) dan karenanya tidak menjadi subyek dari regulasi tersebut.
Pada bulan Februari, pemerintah Amerika Serikat menghentikan kontrak dengan Anthropic, setelah perusahaan itu menolak alatnya dipergunakan untuk serangan yang bersifat otomatis seluruhnya atau dipakai untuk memata-matai penduduk Amerika.
Pentagon kemudian berpaling ke pesaing Anthropic seperti Google, OpenAI dan xAI, guna melanjutkan Project Maven.*




