Hidayatullah.com– Profesor berkulit hitam termuda di Universitas Cambridge yang dituduh plagiat, hari Rabu (5/8/2026), menyatakan mengundurkan diri dari salah satu perguruan tinggi terkemuka di Inggris tersebut.
Jason Arday – yang namanya menjadi dikenal publik pada 2023 saat ditetapkan sebagai profesor – menghadapi serentetan tuduhan plagiarisme terkait tesis doktoralnya beserta prestasi-prestasi yang sudah dicapainya.
Di dalam sebuah surat yang dimuat daring, dia mengatakan berhenti merupakan satu-satunya cara untuk mengatasi “masa sulit” yang sedang dihadapinya, tetapi dia menegaskan bahwa hal itu bukan berarti pihaknya menerima narasi-narasi tuduhan yang diarahkan kepadanya.
Arday mengatakan ia “segera” mengundurkan diri dari posisinya sebagai profesor sosiologi dan fellow di Jesus College di Universitas Cambridge.
Keputusan itu diambil Arday beberapa jam setelah Cambridge mengumumkan bahwa pihaknya sudah memulai investigasi menyusul adanya informasi baru perihal kualifikasi akademik dan penghargaan-penghargaan yang dimiliki Professor Arday.
“Secara terpisah, masih ada sejumlah pengaduan lain terkait pelanggaran akademik, yang sedang ditangani sesuai kebijakan kami tentang pelanggaran dalam penelitian,” imbuhnya seperti dilansir AFP.
Pada bulan Juni universitas terkemuka itu, yang sering dibandingkan dengan Universitas Oxford itu, secara tegas membela Arday, mengklaim bahwa tuduhan-tuduhan tersebut sebagai kampanye untuk merendahkan kredibilitasnya. Tidak hanya itu, kala itu, Cambridge juga bersikeras mengatakan bahwa tuduhan plagiarisme terkait “tesis dan publikasi jurnalnya” sudah diselidiki dan dibantah oleh “lembaga terkait” dan jurnal-jurnal yang menerbitkan riset Arday.
Cambridge hari Rabu tidak menjelaskan informasi baru apa yang mereka dapat, sementara Jesus College secara terpisah mengatakan bahwa pihaknya memulai penyelidikannya sendiri.
Berawal dari perselisihan sejawat
Keributan seputar Arday ini berawal dari tuduhan yang disampaikan Nathan Cofnas, seorang akademisi Amerika Serikat yang menyebut dirinya sendiri sebagai “race realist” (orang yang meyakini bahwa perbedaan biologis antara kelompok ras manusia adalah nyata, dapat diukur, dan bersifat bawaan). Afiliasi penelitian Cofnas dengan Cambridge diakhiri pada 2024 ditengah tuduhan rasisme. Dia mengklaim bahwa banyak dari bagian disertasi doktoral Arday menyontek hasil karya orang lain.
Sebagian klaim Arday tentang kehidupan pribadinya, termasuk bahwa dia pernah mengikuti 30 lari maraton dalam kurun 35 hari dan mendulang uang jutaan untuk amal, juga diperselisihkan.
Dalam wawancara dengan koran The Times hari Sabtu lalu, Arday mengaku telah melakukan sejumlah kesalahan akademik, akan tetapi dia juga bersikukuh bahwa dirinya secara keliru telah digambarkan ke publik sebagai seorang pembohong dan akademisi palsu.Dia juga menduga bahwa kampanye hitam yang ditujukan kepadanya untuk mendepaknya dari posisi akademiknya itu bermotif rasial.
Sebuah surat terbuka berisi dukungan untuk Arday menuduh adanya “upaya untuk melemahkan orang kulit hitam yang memegang posisi berpengaruh” sudah mengumpulkan lebih dari 15.000 tanda tangan, termasuk dari kalangan akademisi kulit hitam terkemuka dan tokoh-tokoh Cambridge.
Sebelumnya pada hari Rabu, Simon & Schuster – yang sayap penerbitannya di Inggris akan menerbitkan memoar Arday berjudul “Great and Unfortunate Things” bulan ini – mengatakan bahwa pihaknya “dengan bangga akan menerbitkan” kisah latar belakang akademisi muda tersebut.
Didiagnosis sebagai autis, Arday mengaku tidak bicara sampai usianya 11 tahun dan baru belajar membaca dan menulis di usia 18 tahun, sebelum menjadi seorang profesor Cambridge di usia 37 tahun.Simon & Schuster menegaskan bahwa tidak ada tuduhan plagiarisme terkait dengan memoar tersebut.
Dalam sebuah pernyataan, Arday menegaskan “ini bukan akhir dari kerja saya” dan bahwa ia membutuhkan “waktu untuk memulihkan diri … dan menjadi diri saya sendiri lagi.”
“Saya akan kembali,” janjinya.*




