Oleh: Ahmad Rohim
Di tengah kemajuan teknologi yang luar biasa, manusia modern justru menghadapi paradoks yang menggelisahkan. Hidup semakin mudah, tetapi hati semakin gelisah. Informasi semakin melimpah, tetapi kebijaksanaan semakin langka. Manusia mampu menjelajahi ruang angkasa, namun sering tersesat dalam ruang batinnya sendiri.
Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalan terbesar manusia modern bukan lagi sekadar kemiskinan materi, melainkan kemiskinan makna. Banyak orang memiliki pekerjaan, penghasilan, dan hiburan yang cukup, tetapi tetap merasakan kehampaan yang sulit dijelaskan. Mereka bertanya, “Untuk apa semua ini?” atau “Mengapa hidup terasa kosong meski segala kebutuhan terpenuhi?”
Kondisi tersebut oleh Viktor Frankl disebut sebagai existential vacuum atau kekosongan eksistensial, yaitu keadaan ketika manusia kehilangan tujuan hidup dan tidak menemukan makna yang mendalam dalam keberadaannya. Frankl menegaskan bahwa kebutuhan paling mendasar manusia bukan sekadar mencari kesenangan atau kekuasaan, melainkan mencari makna hidup.
Dalam masyarakat modern, krisis makna semakin menguat karena beberapa faktor. Pertama, materialisme yang menjadikan harta sebagai ukuran utama keberhasilan. Kedua, individualisme yang melemahkan ikatan sosial dan spiritual. Ketiga, derasnya arus digital yang membuat manusia terhubung secara virtual, tetapi sering terasing secara emosional. Keempat, melemahnya peran agama sebagai sumber orientasi hidup.
Akibatnya, banyak orang hidup dalam siklus yang berulang: bekerja, memperoleh uang, mengonsumsi hiburan, lalu mengulanginya kembali tanpa tujuan yang jelas. Mereka sibuk menjalani hidup, tetapi tidak memahami untuk apa hidup itu dijalani. Di sinilah muncul berbagai problem psikologis seperti kecemasan, depresi, kesepian, dan kehilangan arah hidup.
Al-Qur’an telah jauh lebih dahulu mengingatkan bahwa manusia yang berpaling dari petunjuk Allah akan mengalami kesempitan jiwa. Allah berfirman:
“Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh dia akan menjalani kehidupan yang sempit.” (QS. Thaha: 124).
Ayat ini tidak hanya berbicara tentang kesulitan ekonomi atau penderitaan fisik. Kehidupan yang sempit juga dapat berupa hati yang kosong, jiwa yang gelisah, dan hilangnya makna hidup meskipun secara lahiriah seseorang tampak sukses.
Sesungguhnya krisis makna muncul ketika manusia melupakan tujuan penciptaannya. Dalam pandangan Islam, manusia tidak diciptakan secara kebetulan. Kehadirannya di bumi memiliki misi yang jelas. Allah berfirman:
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56).
Ibadah dalam ayat ini tidak terbatas pada ritual. Ia mencakup seluruh aktivitas yang dilakukan dalam rangka penghambaan kepada Allah. Ketika bekerja, mengajar, berdakwah, meneliti, memimpin, bahkan ketika tersenyum kepada sesama, semuanya dapat menjadi bagian dari ibadah apabila diniatkan untuk mencari ridha-Nya.
Di sinilah letak perbedaan mendasar antara pandangan wahyu dan pandangan modern yang sekuler. Dunia modern sering menjadikan manusia sebagai pusat segala sesuatu (human-centered). Sedangkan Al-Qur’an menjadikan Allah sebagai pusat orientasi kehidupan (God-centered). Ketika manusia menjadikan dirinya sendiri sebagai tujuan akhir, ia akan terus merasa kurang. Namun ketika Allah menjadi tujuan utama, kehidupan memperoleh arah yang jelas dan stabil.
Karena itu, jalan keluar dari krisis makna bukan sekadar motivasi atau terapi psikologis, meskipun keduanya dapat membantu. Solusi yang lebih mendasar adalah kembali kepada wahyu sebagai sumber orientasi hidup. Al-Qur’an bukan hanya kitab hukum atau kitab ibadah, tetapi juga kitab makna yang menjelaskan siapa manusia, dari mana ia berasal, untuk apa ia hidup, dan ke mana ia akan kembali.
Allah menyebut Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia:
“Sungguh telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan Kitab yang menerangkan.” (QS. Al-Ma’idah: 15).
Ketika manusia kembali berinteraksi dengan Al-Qur’an melalui tilawah, pemahaman, tadabbur, dan pengamalan, ia akan menemukan kembali peta kehidupan yang selama ini hilang. Ia menyadari bahwa hidup bukan sekadar mengejar kesuksesan dunia, melainkan perjalanan menuju Allah.
Maka, tantangan terbesar umat manusia pada abad ini bukanlah kekurangan teknologi, melainkan kekurangan makna. Dunia membutuhkan lebih banyak ilmuwan, tetapi juga membutuhkan manusia yang mengenal Tuhannya. Dunia membutuhkan inovasi, tetapi juga membutuhkan hikmah. Sebab kemajuan tanpa petunjuk dapat melahirkan kekosongan, sedangkan kemajuan yang dibimbing wahyu akan melahirkan peradaban yang berkeadaban.
Di tengah kebisingan dunia modern, Al-Qur’an mengajak manusia kembali mendengar suara fitrahnya. Dan di tengah krisis makna yang semakin meluas, wahyu tetap menjadi kompas yang menunjukkan arah pulang.
Catatan Kaki
- Viktor Frankl memperkenalkan konsep existential vacuum (kekosongan eksistensial) dan will to meaning (kehendak untuk menemukan makna) sebagai inti logoterapi.
- Krisis eksistensial dalam masyarakat modern sering dikaitkan dengan melemahnya sumber-sumber makna tradisional, meningkatnya pilihan hidup, dan berkurangnya orientasi religius sebagai pedoman hidup.
- Kehilangan makna hidup berhubungan dengan kecemasan, kehampaan, depresi, dan berbagai bentuk krisis eksistensial yang mengganggu fungsi kehidupan sehari-hari.
- Logoterapi menegaskan bahwa manusia dapat menemukan makna melalui karya, pengalaman, dan sikap terhadap penderitaan, serta bahwa kehidupan tetap memiliki makna dalam berbagai keadaan.
- Kajian akademik tentang logoterapi menunjukkan bahwa pencarian makna merupakan kebutuhan fundamental manusia dan memiliki dimensi spiritual yang signifikan dalam kehidupan manusia.




