Kisah perempuan di Guangzhou menunjukkan bahwa di tengah krisis demografi China, pasar jodoh telah berubah menjadi arena seleksi sosial yang sering kali menempatkan usia di atas pencapaian, terutama bagi perempuan
Hidayatullah.com | TANGIS seorang perempuan berusia 38 tahun pecah di sebuah sudut Taman Tianhe, Guangzhou, China Guangzhou. Ia baru saja kembali mengalami penolakan dalam proses perkenalan pasangan di pasar jodoh akhir pekan yang rutin digelar di ruang publik kota itu.
Menurut sejumlah saksi di lokasi yang kemudian dikutip dalam laporan media lokal dan diskusi warganet, hari itu menjadi salah satu dari puluhan upaya pencarian pasangan yang ia jalani. Ia disebut telah melalui sedikitnya 20-an sesi perkenalan tanpa hasil yang sesuai harapan.
Perempuan tersebut bukan tanpa pencapaian. Ia digambarkan sebagai lulusan magister dari universitas ternama, bekerja sebagai eksekutif di perusahaan asing, berpenghasilan tinggi, serta telah memiliki rumah dan mobil.
Namun di ruang sosial pasar jodoh, seluruh atribut itu seolah menyusut menjadi satu variabel tunggal: usia.
“Saya sudah 38 tahun, saya mandiri secara finansial. Saya hanya ingin pasangan yang setara,” teriaknya dalam video yang kemudian menyebar luas di platform media sosial China.
Video itu ramai dibahas di Weibo dan Xiaohongshu, dan diberitakan ulang oleh sejumlah media internasional seperti BBC News dan South China Morning Post dalam konteks meningkatnya tekanan sosial pada perempuan lajang di perkotaan China.
Pernikahan yang Terus Menurun
Kasus ini muncul di tengah tren penurunan angka pernikahan di China yang telah berlangsung bertahun-tahun.
Data Kementerian Urusan Sipil China yang dikutip berbagai media internasional menunjukkan jumlah pendaftaran pernikahan terus merosot, mencapai titik terendah dalam beberapa dekade terakhir.
Pada 2023, tercatat sekitar 7,6 juta pasangan menikah, dan laporan awal tahun berikutnya menunjukkan penurunan lebih lanjut menjadi sekitar 6 juta pasangan.
Para demografer yang dikutip Reuters dan BBC menyebut tren ini sebagai bagian dari krisis demografi yang lebih luas, yang ditandai oleh penurunan angka kelahiran dan penuaan populasi yang cepat.
Di balik angka tersebut, terdapat tekanan struktural: biaya hidup yang tinggi di kota besar, harga properti yang tidak terjangkau bagi banyak generasi muda, serta pasar kerja yang semakin kompetitif.
Dalam kondisi seperti ini, pernikahan tidak lagi dipandang sebagai kewajiban sosial otomatis, melainkan keputusan ekonomi jangka panjang.
Perubahan nilai juga ikut mendorong pergeseran ini. Generasi muda China semakin menempatkan kemandirian pribadi, stabilitas karier, dan kualitas hidup sebagai prioritas utama, menggantikan tekanan tradisional untuk menikah di usia muda.
Beban yang Tidak Setara bagi Perempuan
Meski angka pernikahan menurun secara umum, tekanan sosial terhadap perempuan lajang tetap jauh lebih besar.
Di China, perempuan yang belum menikah di atas usia 27 tahun sering dilabeli sheng nü atau “perempuan sisa”.
Istilah ini telah lama dibahas dalam kajian gender dan diberitakan secara luas oleh media internasional sebagai bentuk stigma sosial terhadap perempuan berpendidikan dan berkarier.
Peneliti gender seperti Leta Hong Fincher menilai istilah tersebut bukan sekadar label budaya, melainkan bagian dari narasi sosial yang ikut membentuk ekspektasi negara dan masyarakat terhadap perempuan: bahwa pendidikan tinggi dan karier profesional tetap harus berujung pada pernikahan dan kelahiran anak.
Di pasar jodoh, paradoks itu terlihat jelas. Perempuan dengan pendidikan tinggi dan penghasilan besar kerap dianggap “terlalu mandiri” atau “sulit dipasangkan”, sementara laki-laki dengan profil serupa cenderung memiliki preferensi usia yang lebih muda.
Akibatnya, usia menjadi faktor dominan yang sering kali mengalahkan variabel lain seperti pendidikan, pendapatan, atau stabilitas karier.
Pasar Jodoh sebagai “CV Sosial”
Di kota-kota besar seperti Beijing, Shanghai, dan Guangzhou, pasar jodoh di ruang publik masih berlangsung setiap akhir pekan.
Di sana, orang tua atau perantara memasang profil anak mereka di papan informasi terbuka. Data yang dicantumkan bukan sekadar identitas dasar, melainkan “ringkasan kelayakan sosial”: usia, tinggi badan, pendidikan, pekerjaan, penghasilan, kepemilikan rumah, hingga status kendaraan.
Media lokal dan laporan jurnalisme sosial di China kerap menggambarkan praktik ini sebagai bentuk “seleksi berbasis data sosial”, di mana kecocokan emosional sering kali berada di urutan kedua setelah kecocokan ekonomi.
Dalam praktiknya, pasar jodoh ini menciptakan apa yang oleh sejumlah pengamat disebut sebagai ketidakseimbangan pasar perkawinan (marriage market mismatch).
Perempuan berpendidikan tinggi cenderung mencari pasangan dengan status setara, tetapi kelompok laki-laki dengan kriteria tersebut lebih sering memilih pasangan yang lebih muda.
Logika pasar pun masuk ke ruang yang sangat personal: hubungan dipertimbangkan seperti kombinasi aset, usia, prospek ekonomi, dan stabilitas masa depan.
Lebih dari Kisah Pribadi
Tangis perempuan 38 tahun di Guangzhou pada akhirnya tidak berdiri sebagai peristiwa individual semata.
Ia memperlihatkan persilangan antara tiga tekanan besar yang sedang berlangsung di China modern: krisis demografi, ketimpangan gender dalam pasar pernikahan, dan pergeseran nilai generasi muda terhadap institusi pernikahan itu sendiri.
Di satu sisi, negara menghadapi penurunan angka kelahiran dan penyusutan populasi usia produktif. Di sisi lain, individu—terutama perempuan di perkotaan—menghadapi standar sosial yang masih menempatkan pernikahan sebagai indikator utama “keberhasilan hidup”.
Di antara dua arus besar itu, pasar jodoh menjadi ruang paling kasat mata untuk melihat bagaimana statistik, budaya, dan tekanan sosial bertemu dalam kehidupan sehari-hari. Dan di tengah kerumunan taman kota itu, pertanyaan perempuan tersebut masih menggantung: jika pendidikan, kemandirian, dan kesuksesan ekonomi belum cukup, sebenarnya standar apa yang sedang ditetapkan masyarakat untuk sebuah “kelayakan” menjadi pasangan hidup?*




