Hidayatullah.com– Seorang pendeta Hindu berusia 49 tahun tewas setelah terjatuh ke jurang sedalam sekitar 12 meter saat memimpin ritual khusus di puncak Bukit Gampa Mallayya Swamy, wilayah Singanamala Mandal, Distrik Anantapur, negara bagian Andhra Pradesh, India, pada Sabtu (21/8/2021).
Upaya yang disebut dilakukan untuk membuktikan klaim tersebut justru berakhir tragis setelah ia terjatuh dari sebuah bukit dan meninggal dunia.
Media melaporkan pendeta itu mengajak sejumlah pengikutnya, termasuk perempuan dan anak-anak, ke puncak bukit untuk menunjukkan kemampuannya terbang.
Dalam video yang beredar di media sosial, terlihat sekelompok umat mengikuti ritual Hindu yang diiringi kepulan dupa, bunyi lonceng, dan tabuhan drum.
Rekaman itu memperlihatkan sang pendeta yang bertelanjang dada menggoyangkan lonceng dengan cepat sebelum menambahkan beban di bahunya.
Beberapa saat kemudian, ia berdiri di atas batu, bersiap melompat, sementara puluhan orang menyaksikan dari dekat. Tak lama setelah itu, ia melompat dan terjatuh ke jurang.
Laporan The Times of India mengenai insiden yang terjadi pada Agustus 2021 menyebut korban bernama Papayya. Ia meninggal setelah kehilangan keseimbangan saat memimpin ritual puja di puncak Bukit Gampa Mall.
Sejumlah saksi menyaksikan korban kehilangan keseimbangan sebelum akhirnya terjatuh dari bukit.
Para umat yang berada di lokasi hanya bisa menyaksikan dengan penuh kepanikan ketika tubuh korban membentur bebatuan sebelum akhirnya masuk ke dalam jurang.
Awalnya, Sabtu pagi, Papayya bersama ratusan umat dari berbagai negara bagian di India selatan datang ke Kuil Gampa Mallayya Swamy untuk mengikuti ritual khusus yang digelar dalam rangka menyambut bulan suci Sravana Masam.
Saat memimpin ritual, Papayya memegang lonceng di satu tangan dan piring harathi—perlengkapan upacara berisi api sebagai bagian dari ritual penghormatan kepada dewa—di tangan lainnya. Di tengah prosesi, ia tiba-tiba kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke jurang sedalam sekitar 40 kaki (12 meter).
Sekitar 100 umat yang menyaksikan kejadian itu tidak dapat berbuat banyak selain berteriak histeris melihat insiden tersebut.
Setelah menerima laporan dari para umat, polisi Singanamala datang ke lokasi, mengevakuasi jenazah Papayya untuk dilakukan autopsi, serta membuka penyelidikan atas peristiwa tersebut.
Video tersebut pun viral dan memicu beragam komentar di media sosial. Salah satunya membandingkan pendeta tersebut dengan Abbas ibn Firnas, sosok yang dikenal dalam sejarah sebagai pelopor eksperimen terbang menggunakan sayap buatan.*




