Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pustaka

Al-Rushafi dan Catatan Kritis Seputar Sirah Nabi Muhammad

Mahmud
Terakhir diupdate: 31 Juli 2026 20:23 8:23 pm
Mahmud
Dipublikasikan 31 Juli 2026 20:21
Bagikan
Ma'ruf Al-Rushafi
Bagikan

Bagaimana jika perjalanan Nabi Muhammad dibedah lewat skeptisisme rasionalis, bukan kacamata mukjizat? Artikel ini mengulas biografi Ma’ruf Al-Rushafi dan kontroversi bukunya, Al-Syakhshiyyah Al-Muhammadiyyah, yang menyelisihi arus utama sirah klasik yang dalam waktu yang sama mengajak kita menguji metodologi kritisnya secara bijak tanpa menanggalkan kedaulatan akidah.

Hidayatullah.com | MA’RUF bin Abdul Ghani bin Mahmud Al-Jabbari, yang lebih dikenal dengan nama Ma’ruf Al-Rushafi (1875–1945), merupakan salah satu figur cukup berpengaruh dalam kancah kesusastraan dan pemikiran Irak pada abad ke-20. Lahir di kawasan Rushafa, Baghdad, dari ayah beretnis Kurdi dan ibu beretnis Turkimen, Al-Rushafi tumbuh dalam tradisi keilmuan yang kuat.

Pendidikan agamanya ditempuh di bawah bimbingan ulama ternama Baghdad, Syekh Mahmud Syukri Al-Alusi, selama kurang lebih sepuluh tahun. Sang guru pulalah yang menyematkan julukan “Al-Rushafi” kepadanya sebagai bentuk harapan agar ia mencapai kedudukan mulia dan nama baik sebagaimana ulama sufi terkemuka, Ma’ruf Al-Karkhi.

Sepanjang hidupnya, Al-Rushafi tidak hanya dikenal sebagai sastrawan dan penyair ulung, tetapi juga sebagai pendidik, jurnalis, serta tokoh politik. Ia pernah mengajar bahasa dan sastra Arab di Baghdad dan Yerusalem, menjadi anggota parlemen (Majlis Al-Mab’utsan) pada era Kekhalifahan Utsmaniyah, serta terpilih sebagai anggota Akademi Bahasa Arab di Damaskus. Di samping aktivitas akademis dan politik, Al-Rushafi merupakan pejuang reformasi sosial yang vokal.

Bersama sejawatnya, Jamil Sidqi Al-Zahawi, ia gigih menyuarakan pentingnya hak-hak perempuan, kemajuan pendidikan, serta kebebasan berpikir. Puisi-puisinya tidak hanya merayakan keagungan penciptaan Tuhan, tetapi juga tajam menyoroti ketimpangan sosial serta kepalsuan institusi politik pada era kolonialisme. (Baca: Mūjiz Dā’irat al-Ma‘ārif al-Islāmiyyah, 1998: XXX/9412-9428)

Baca Juga

Menuangkan Ide Melalui Novel: Telaah Karya Abbas Aqqad, Malek Bennabi dan Hamka
Telaah Buku Dr. Raghib As-Sirjani: Syi’ah dalam Timbangan Sejarah dan Aqidah
Dr. Abu Syahbah Menepis Badai Syubhat terhadap Sunnah Nabawiyah
Syekh Ahmad Yasin dan Firasat Kehancuran Israel Tahun 2027
Hadits Dha’if: Antara Penolakan Mutlak dan Apresiasi Bersyarat

Kemunculan Karya: Al-Syakhshiyyah Al-Muhammadiyyah

Di samping karya-karya puitisnya yang monumental, Al-Rushafi meninggalkan sebuah karya prosais kontroversial yang ditulis menjelang akhir masa aktifnya. Pada sekitar tahun 1933, ketika mengasingkan diri di kota Fallujah untuk menyendiri dan berfokus pada riset.

Buku al-Syakhshiyyah al-Muhammadiyyah karya Al-Rushafi

Pada waktu itu, beliau menyusun sebuah naskah tebal berjudul Al-Syakhshiyyah Al-Muhammadiyyah aw Hallu Al-Lughzi Al-Muqaddas (Kepribadian Muhammad atau Memecahkan Teka-Teki Suci). Naskah ini berada dalam bentuk manuskrip rahasia selama puluhan tahun dan berpindah tangan di antara beberapa cendekiawan Irak sebelum akhirnya diterbitkan secara resmi oleh penerbit Dar Al-Jamal di Cologne, Jerman, pada tahun 2002.

Penerbitan buku tersebut membentangkan babak baru perdebatan dalam studi literatur Islam modern. Bagi sebagian pemikir sekuler dan modernis, buku ini dianggap sebagai bentuk keberanian akademis yang berupaya mengurai narasi sejarah dengan pendekatan rasionalistis.

Sebaliknya, di mata mayoritas ulama dan institusi keagamaan mainstream, karya ini memicu keprihatinan mendalam karena dinilai memutus metodologi klasik dalam penyampaian sejarah kenabian.

Pergeseran Metodologis: Menyelisihi Arus Utama Sirah Nabawiyah

Apabila dibaca secara cermat dari kacamata historiografi Islam, letak keutamaan sekaligus kekhasan analisis Al-Rushafi dalam Al-Syakhshiyyah Al-Muhammadiyyah berada pada metodologinya.

Arus utama penulisan Sirah Nabawiyah −sebagaimana dirumuskan oleh para ulama klasik seperti Ibnu Ishaq, Ibnu Hisyam, Ath-Thabari, hingga ulama era modern− bersandar pada validasi sanad (transmisi riwayat), ketatnya seleksi perawi, serta integrasi antara data historis dan nilai-nilai keimanan (teologis). Dalam tradisi ini, peristiwa kenabian tidak hanya dipandang sebagai fenomena sosiologis semata, melainkan sebagai bagian dari petunjuk wahyu.

Sebaliknya, tinjauan Al-Rushafi secara fundamental menyelisihi kebanyakan metodologi sirah tersebut. Al-Rushafi menerapkan pendekatan positivisme-sejarah yang sepenuhnya membedah kehidupan Nabi Muhammad SAW semata-mata sebagai figur sosiologis dan politik di tengah latar kebudayaan Arab abad ke-7.

Dalam usahanya merasionalkan setiap peristiwa, ia cenderung mengesampingkan porsi dimensi kewahyuan dan keajaiban spiritual yang menjadi pilar penting pemahaman umat Islam secara umum. Kerangka berpikir yang terlampau menitikberatkan pada aspek psikologis dan latar belakang sosiokultural ini secara langsung menempatkan kesimpulannya berseberangan dengan konsensus (ijma’) mayoritas ahli sirah dan historiografi keislaman.

Untuk memahami bagaimana metodologi Al-Rushafi bekerja secara nyata, kita dapat melihat penerapannya saat menguraikan peristiwa-peristiwa penting dalam Sirah. Sebagai contoh, ketika mengulas momen awal penerimaan wahyu di Gua Hira atau pengalaman spiritual seperti Isra dan Mi’raj, arus utama sirah memandangnya sebagai manifestasi kekuasaan ilahi dan intervensi supranatural.

Sementara itu, Al-Rushafi menafsirkan peristiwa tersebut melalui kacamata psiko-sosiologis. Ia menggambarkan proses perenungan Nabi di Gua Hira sebagai pencarian intelektual seorang pemikir genius yang tertekan oleh keprihatinan moral atas kebiasaan masyarakat Jahiliah, sehingga fenomena wahyu diinterpretasikan secara metaforsis sebagai pergolakan batin dan intuisi kejiwaan yang mendalam.

Contoh lainnya terlihat pada analisis Al-Rushafi mengenai strategi politik dan keputusan militer di Madinah. Dalam konsensus sirah klasik, langkah-langkah politik Rasulullah SAW senantiasa dibimbing oleh petunjuk wahyu dan hikmah kenabian.

Sebaliknya, Al-Rushafi menguraikan pergerakan tersebut murni sebagai keahlian diplomasi, taktik keagawanan, serta manuver kepemimpinan politik seorang negarawan ulung dalam menyatukan suku-suku Arab yang terpecah belah.

Dengan mereduksi aspek supranatural menjadi penjelasan-penjelasan rasional-materialis, karya ini menghasilkan potret kenabian yang sangat manusiawi (humanis-sosiologis), tetapi di saat yang sama menghilangkan dimensi keghaiban yang menjadi fondasi utama keimanan umat Islam.

Demikian juga, Al-Rushafi menolak penafsiran mayoritas ulama sirah yang memaknai kata ummi sebagai “buta huruf” untuk membuktikan mukjizat kenabian; sebaliknya, ia menganalisis istilah tersebut secara sosiologis-kategorial sebagai sebutan bagi orang atau bangsa yang tidak memiliki kitab suci diturunkan kepada mereka sebelumnya (sebagaimana pembeda antara bangsa Arab dengan Ahli Kitab).

Melalui pendekatan sosiolinguistik ini, Al-Rushafi merasionalkan posisi sejarah Nabi Muhammad SAW sebagai utusan bagi masyarakat yang belum berkitab, sekaligus menggeser pemaknaan mukjizat spiritual-transendental menjadi penjelasan struktur sosial-historis semata.

Menarik untuk ditambahkan dalam tulisan ini, di antara buku yang memberikan catatan kritis atas karya Al-Rusafi ini adalah Al-Minah Ar-Rabbaniyyah lil Syakhshiyyah Al-Muhammadiyyah karangan pendakwah Khaled Al-Jundi, yang ditulis untuk membantah berbagai tuduhan dan keraguan dalam buku Asy-Syakhshiyyah Al-Muhammadiyyah karya penyair Irak, Ma’ruf Ar-Rusafi.

Al-Jundi mengkritik metodologi Ar-Rusafi yang bersandar pada riwayat-riwayat lemah dan sumber-sumber bermasalah untuk memosisikan Nabi Muhammad SAW sekadar sebagai tokoh biasa yang cerdas secara sosial, serta meragukan keautentikan Al-Qur’an dan Sunnah. Melalui karyanya ini, Al-Jundi membedah latar belakang pemikiran Ar-Rusafi dan memberikan sanggahan ilmiah guna membela kesucian ajaran Islam serta meluruskan sejarah kenabian.

Sikap Kritis dan Sikap Bijak Umat

Keberadaan buku Al-Syakhshiyyah Al-Muhammadiyyah menyajikan tantangan tersendiri bagi pembaca Muslim di era modern. Dalam menghadapi literatur sejarah yang memiliki sudut pandang tidak biasa seperti ini, umat Islam dituntut untuk mengedepankan ketelitian dan kedewasaan intelektual.

Menyikapi karya semacam ini tidak cukup hanya dengan emosi atau sekadar pelarangan fisik, melainkan melalui pemahaman yang kritis dan komparatif. Pembaca perlu menyadari bahwa setiap karya historiografi membawa prasangka metodologis penulisnya. Ketika Al-Rushafi mendekati Sirah Nabi dengan skeptisisme rasionalis, ia membatasi pemahamannya hanya pada variabel-variabel materi yang tampak.

Oleh karena itu, agar pembaca tidak terombang-ambing oleh narasi tunggal yang memisahkan sejarah dari akidah, sangat penting untuk menyandingkan pembacaan buku ini dengan rujukan-rujukan otoritatif yang komprehensif, seperti Ar-Rahiq Al-Makhtum karya Syekh Shafiyurrahman Mubarakfuri, Fiqhus Sirah karya Syekh Ramadhan Al-Buthi atau buku sirah otoritatif lainnya.

Secara umum, tidak diragukan bahwa Ma’ruf Al-Rushafi adalah sosok sastrawan besar yang memiliki kontribusi nyata dalam pembaharuan bahasa dan kritik sosial di Irak. Namun, karyanya dalam ranah sirah kenabian menunjukkan keterbatasan ketika pendekatan rasionalistis murni ‘dipaksakan’’ untuk mengukur fenomena keagamaan yang sarat dimensi ilahi.

Karya Al-Syakhshiyyah Al-Muhammadiyyah hendaknya diposisikan sebagai dokumen sejarah pemikiran abad ke-20 yang memperlihatkan bagaimana wacana modernisme berinteraksi dengan tradisi, bukan sebagai rujukan utama dalam memahami kepribadian dan keagungan Nabi Muhammad SAW. Dengan literasi yang kritis, bijak, dan berbasis keilmuan yang kokoh, umat Islam dapat memilah antara kontribusi kebudayaan seorang tokoh dan validitas pandangan keagamaannya. Wallahu a’lam. (MBS)

Redaktur: Mahmud
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Ma'ruf al-Rushafisirahsirah nabawiyah
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Hackney London Mulai Akhiri Hubungan Kota Kembar dengan Haifa ‘Israel’

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Zulkifli Hasan Ajak Umat Islam Perkuat Kedaulatan Pangan, Sebut Swasembada Kehormatan Bangsa

Berita
26 Juli 2026 20:24
MUI Gandeng 16 LAZ, Perkuat Sinergi Program Zakat untuk Pemberdayaan Umat
Jusuf Kalla Indonesia Harus Ambil Peran Lebih Besar dalam Perdamaian Timur Tengah
Setelah Palestina, Kini Suriah Jadi Sasaran Pencurian Tanah Pemukim Yahudi ‘Israel’
Netanyahu Yakin Pasukan Elite ‘Israel’ akan Membebaskannya Jika Ditahan di Luar Negeri

Terbaru

  • Al-Rushafi dan Catatan Kritis Seputar Sirah Nabi Muhammad
  • Hackney London Mulai Akhiri Hubungan Kota Kembar dengan Haifa ‘Israel’
  • Apa itu Project Panama? Mengapa Anthropic Menghancurkan Buku-Buku Langka Demi Melatih AI
  • Netanyahu Yakin Pasukan Elite ‘Israel’ akan Membebaskannya Jika Ditahan di Luar Negeri
  • Setelah Palestina, Kini Suriah Jadi Sasaran Pencurian Tanah Pemukim Yahudi ‘Israel’
  • Amankan Laut Merah dari Houthi, Arab Saudi Galang Koalisi Internasional
  • Usai Jadi Pemimpin Politik Hamas, Khalil al-Hayya Langsung Bertemu Menlu Turki
  • Angka Bunuh Diri Tentara ‘Israel’ Terus Naik, Tahun Ini Sudah 16 Tewas
  • Survei: Hampir Separuh Warga AS Dukung Penangkapan Netanyahu
  • Laznas BMH dan Baitul Wakaf Gelar Penanaman Perdana Pisang Cavendish di Sleman untuk Kemandirian Ekonomi Umat

Mungkin Anda Juga Suka

Pustaka

Jalan Mudah Menuju Bahagia

20 Februari 2026 16:15
Pustaka

Perjuangan KH Ahmad Dahlan: Membendung Arus Gerakan Kristenisasi dan Freemasonry

23 Juni 2025 13:39
Pustaka

Cahaya Islam di Timor Timur

13 Juni 2024 16:01
ArtikelPustaka

Mengenal Aliran Teologi Syi’ah, Sebuah Pengantar

13 Januari 2024 11:32
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?