Umat Islam sering kali terburu-buru memberikan label pada kelompok Syiah tanpa benar-benar memahami akar sejarah, teologi, dan konstelasi politik yang menyertainya. Padahal, dalam ushul fiqih dikatakan: menghukumi (menilai) sesuatu bagian dari tashawur (gambaran/definisi). Bagaimana bisa menilai Syi’ah, jika hakikat gambaranya saja masih belum diketahui?
Hidayatullah.com | MEMBICARAKAN Syiah sering kali menjebak kita dalam labirin emosi yang buntu; antara kekaguman pada narasi perlawanan atau kebencian yang lahir dari ketidaktahuan. Saat dunia menyaksikan kebangkitan kekuatan yang tampil dengan retorika heroik, sebuah tanya besar menyeruak.
Apakah keberanian yang kita lihat di layar kaca adalah pembelaan tulus terhadap martabat Islam, atau justru sebuah sandiwara politik yang menyimpan agenda perombakan fondasi paling sakral dalam agama kita?
Benarkah mereka adalah garda terdepan pembela Islam di era modern, ataukah ada agenda tersembunyi di balik jubah “perjuangan” tersebut yang justru mengancam fondasi paling sakral dalam agama kita? Buku ini bukan sekadar narasi sejarah biasa; ia adalah sebuah bedah anatomi terhadap salah satu ideologi paling kontroversial dalam sejarah umat manusia.
Prof. Dr. Raghib As-Sirjani mengajak Anda menelusuri “lorong waktu”, menyingkap tirai teologi yang gelap, dan melihat kenyataan politik yang sering kali disamarkan oleh retorika manis. Sebelum Anda memutuskan untuk memihak atau membenci, bersiaplah untuk menghadapi fakta-fakta yang mungkin akan mengubah total cara pandang Anda terhadap peta kekuatan dunia Islam saat ini.

Keterangan Lengkap Buku:
Judul Asli : Asy-Syī’ah.. Nidhāl am Dhalāl?
Judul Terjemahan : Syiah.. Perjuangan atau Kesesatan?
Penulis : Prof. Dr. Raghib As-Sirjani
Penerbit Asli : Dar Aqlam lin Nasyr wa Tauzi’ wa Tarjamah, Kairo, Mesir
Tahun Terbit : 1432 H / 2011 M
Jumlah Halaman : 152 Halaman
Bahasa Asli : Arab
Subjek : Sejarah Islam, Analisis Madzhab, Geopolitik Timur Tengah
Buku karya Dr. Raghib As-Sirjani ini dibuka dengan sebuah kaidah ushul fiqh yang sangat mendasar: “Al-hukmu ‘ala syai’in far’un ‘an tashawwurihi” yang maknanya: memberikan penilaian terhadap sesuatu adalah bagian dari penggambaran seseorang terhadap hal tersebut.
Penulis menegaskan bahwa umat Islam sering kali terburu-buru memberikan label pada kelompok Syiah tanpa benar-benar memahami akar sejarah, teologi, dan konstelasi politik yang menyertainya.
Buku ini hadir sebagai panduan komprehensif bagi pembaca untuk memahami apakah fenomena Syiah saat ini murni sebuah perjuangan (nidhal) membela Islam ataukah sebuah kesesatan (dhalal) yang menyimpang dari fondasi nubuwah.
As-Sirjani membedah sejarah kemunculan Syiah dengan membagi fasenya secara objektif. Ia menjelaskan bahwa pada awalnya, Syiah hanyalah sebuah faksi politik yang mendukung kepemimpinan Ali bin Abi Thalib ra. Namun, seiring berjalannya waktu, gerakan politik ini bertransformasi menjadi sebuah gerakan ideologis yang sangat berbeda.
Penulis menyoroti peran elemen luar, terutama pengaruh sisa-sisa pemikiran Persia purba atau kaum “Syu’ūbiyyah”, yang menyusupkan dendam sejarah ke dalam ajaran agama untuk meruntuhkan wibawa kekhalifahan Islam dari dalam dengan mengatasnamakan kecintaan pada Ahlul Bait.
Salah satu kekuatan buku ini adalah klasifikasi kelompok Syiah yang sangat jernih. Penulis memberikan apresiasi terhadap Syiah Zaidiyah di Yaman, yang ia nilai sebagai kelompok yang paling dekat dengan Ahlus Sunnah karena tidak mencela sahabat dan memiliki fikih yang moderat. Namun, titik berat kritik As-Sirjani diarahkan pada Syiah Itsna Asyariyah (Dua Belas Imam) yang dominan di Iran.
Bagi ulama pakar sejarah asal bumi Kinanah Mesir ini, kelompok inilah yang mengusung doktrin-doktrin ekstrem yang menjadi duri dalam daging bagi kesatuan umat Islam secara global karena adanya perbedaan mendasar dalam masalah ushuluddin.
Dalam aspek teologis, As-Sirjani mengecam keras doktrin pencelaan terhadap sahabat Nabi dan Ummul Mukminin. Ia berargumen bahwa mencerca Abu Bakar, Umar, dan Aisyah ra bukan sekadar masalah sentimen sejarah, melainkan ancaman terhadap transmisi wahyu.
Jika para pembawa risalah (sahabat) dianggap fasik atau murtad, maka kredibilitas Al-Qur’an dan Sunnah yang mereka sampaikan secara otomatis akan runtuh. Hal inilah yang membuat dialog antara Sunnah dan Syiah selalu menemui jalan buntu karena adanya perbedaan standar dalam menilai otoritas keagamaan.
As-Sirjani juga memberikan analisis tajam terhadap sistem politik modern di Iran pasca-revolusi 1979. Ia mengulas teori Wilāyatul Faqih yang dipopulerkan oleh Khomeini, di mana seorang ulama memegang kekuasaan absolut sebagai wakil Imam Mahdi yang gaib.
Penulis menilai sistem ini sebagai bentuk diktatorisme berjubah agama yang memposisikan pemimpin tertinggi sebagai sosok yang semi-maksum. Hal ini, menurut As-Sirjani, telah mengalihkan loyalitas umat dari prinsip syura yang demokratis menjadi kepatuhan mutlak pada satu figur manusia yang dianggap suci.
Terkait fenomena Hizbullah di Lebanon, buku ini memberikan perspektif yang sangat kritis dan berani. Meskipun banyak Muslim Sunni yang terpesona dengan kemenangan militer Hizbullah atas Israel pada tahun 2006, As-Sirjani memperingatkan agar tidak tertipu oleh permukaan.
Beliau melihat Hizbullah bukan sebagai pejuang Islam universal, melainkan sebagai “tangan panjang” kepentingan Iran di Mediterania. Perjuangan mereka dianggap sebagai taktik untuk memperkuat posisi Syiah di kawasan tersebut, yang terbukti dalam beberapa konflik internal di mana senjata mereka justru diarahkan ke sesama Muslim.
As-Sirjani juga mengulas isu Houthi di Yaman dengan kacamata geopolitik yang luas. Ia menjelaskan bagaimana transformasi ideologis terjadi dari Zaidiyah yang moderat menuju pola Itsna Asyariyah yang provokatif.
Bagi penulis, fenomena Houthi adalah bagian dari proyek “Bulan Sabit Syiah” yang bertujuan untuk mengepung jantung dunia Islam, khususnya Arab Saudi. Krisis ini digambarkan bukan hanya sebagai masalah domestik Yaman, melainkan bagian dari desain besar Iran untuk menguasai jalur-jalur strategis di kawasan Teluk dan Laut Merah.
Kegagalan upaya taqrīb (pendekatan) antara Sunnah dan Syiah menjadi poin penting dalam buku ini. Penulis berpendapat bahwa selama ini upaya pendekatan sering kali hanya bersifat sepihak, di mana kaum Sunni memberikan banyak konsesi sementara kaum Syiah tetap teguh pada doktrin-doktrin penghinaan sahabat dan misi penyebaran mereka di negeri-negeri Sunni.
As-Sirjani menyimpulkan bahwa pendekatan yang realistis bukanlah penyatuan aqidah yang memang mustahil, melainkan hidup berdampingan secara politik (at-ta’ayush) tanpa adanya infiltrasi ideologis yang merusak.
Pesan penting lainnya dalam buku ini adalah ajakan bagi kaum Sunni untuk tidak menjadi “umat yang emosional”. Penulis mengajak pembaca untuk membentengi diri dengan literasi sejarah dan aqidah yang kuat.
Ia mencatat bahwa ketertarikan banyak orang Sunni terhadap Syiah sering kali bermula dari ketidaktahuan mereka terhadap sejarah emas kekhalifahan Sunni sendiri. Oleh karena itu, solusi jangka panjang yang ditawarkan bukan hanya dengan membantah penyimpangan Syiah, tetapi dengan menghidupkan kembali kejayaan ilmu dan martabat politik di dunia Sunni.
Sebagai penutup, “Syiah.. Perjuangan atau Kesesatan?” adalah karya yang menggugah nalar. Dr. Raghib As-Sirjani berhasil merangkum kerumitan masalah Syiah ke dalam narasi yang mudah dipahami namun tetap mendalam secara akademis.
Buku ini merupakan pengingat bahwa dalam menilai sebuah pergerakan, kita tidak boleh hanya melihat hasil akhirnya secara pragmatis, tetapi harus meninjau kesesuaian metodenya dengan tuntunan syariat. Di samping itu, mengajak umat Islam untuk bersatu di atas kebenaran murni, bukan sekadar persatuan semu yang mengorbankan prinsip-prinsip mendasar aqidah Islamiyah. (MBS)




