Hidayatullah.com – Penggulingan rezim Assad diperlukan tidak hanya untuk Suriah, tetapi juga untuk kawasan Timur Tengah secara keseluruhan. Hal itu disampaikan Presiden Suriah Ahmad Al-Sharaa dalam wawancara eksklusif dengan Al-Jazeera.
Ia mengatakan bahwa keragaman dan peradaban berusia berabad telah menjadi fondasi identitas nasional negara tersebut. Al-Sharaa juga menegaskan bahwa Suriah merupakan negara penting karena telah dibangun selama lebih dari 7.000 tahun melalui keragamannya.
Presiden Suriah itu mengungkapkan ia berharap dapat membangun kembali Suriah seperti sebelum adanya rezim.
Belajar Memimpin sejak di Idlib
Pria berusia 43 tahun itu mengatakan dia telah belajar memimpin dan mengorganisir sejak di Idlib, merujuk pada masa ia memimpin kelompok perlawanan Hayat Tahrir al-Sham (HTS) dari tahun 2017 hingga 2025.
“Saya mendapat manfaat dari setiap pengalaman dan mulai mengorganisir upaya untuk menjatuhkan rezim dari dalam Damaskus. Kekalahan dan kemunduran mengajari kami banyak pelajaran, terutama dengan sumber daya kami yang terbatas. Kami tidak menerima dukungan eksternal dan berhasil membangun ekonomi yang seimbang di Idlib,” kata al-Sharaa tentang pengalamannya saat melawan rezim Assad.
Presiden menegaskan bahwa ia yakin akan keberhasilan dan bahwa rezim itu akan jatuh karena telah melakukan kejahatan yang tak terhitung jumlahnya terhadap rakyat Suriah, dan penggulingannya diperlukan bukan hanya untuk rakyat Suriah, tetapi untuk seluruh dunia.
“Kami melatih diri dalam rekonstruksi dan manajemen kelembagaan, mendirikan Dewan Syura, universitas dan lembaga media, serta membangun kota industri besar, lingkungan perumahan, pusat perbelanjaan, jalan raya, dan infrastruktur lainnya,” tegas Presiden al-Sharaa.
Wacana Nasionalis Arab
Dalam wawancara itu, al Shara mengaku dirinya dipengaruhi oleh wacarana nasionalis Arab yang berfokus pada isu-isu yang dihadapi masyarakat Arab dan Islam.
“Kita membedakan antara Islam dan pengalaman Islam, yang mencakup berbagai ide dan interpretasi,” tegas Presiden al-Sharaa.
“Lingkungan tempat saya dibesarkan menolak rezim sebelumnya karena kebijakan dan praktik-praktiknya yang merugikan warga negara, serta pembatasan yang dikenakan kepada mereka,” kata Presiden al-Sharaa, menegaskan bahwa rasa memiliki terhadap Golan berasal dari wacana sehari-hari yang berakar kuat dalam keluarga dan masyarakatnya.
Prioritas Pemerintah Suriah
Baik sejak memimpin di Idlib maupun memimpin seluruh Suriah, Al-Sharaa mengatakan bahwa ia telah memprioritaskan hal yang sama. Yaitu rekonstruksi dan pembangunan ekonomi.
Dia juga menegaskan perlunya menjunjung prinsip-prinsip mendasar dalam memimpin; melayani rakyat, membela mereka, dan melawan ketidakadilan.
“Kami berusaha menyampaikan citra kami yang sebenarnya melalui media dan pengunjung dengan menunjukkan apa yang telah kami capai di Idlib dan daerah-daerah yang dibebaskan di berbagai sektor,” tambah Presiden al-Sharaa.*




