Hidayatullah.com– Pemimpin Hizbullah hari Selasa (4/8/2026) mengatakan bahwa pihaknya tidak keberatan untuk melakukan pertemuan terbuka dengan pemimpin Suriah saat ini, yang telah menggulingkan rezim Bashar Assad yang merupakan sekutunya.
“Tidak ada halangan untuk pertemuan di hadapan publik antara Hizbullah dan kepemimpinan Suriah pada waktu yang dianggap tepat oleh kedua belah pihak,” kata Naim Qassem dalam pidato yang ditayangkan di layar televisi.
Dia menekankan penting dan perlunya hubungan kooperatif, bersaudara dan positif antara Libanon dan Suriah lansir AFP.
Pemerintah Suriah saat ini yang menggulingkan kekuasaan presiden Bashar Assad bersikap bermusuhan dengan Hizbullah, yang selama perang saudara di Suriah menyokong penuh kediktatoran rezim Assad.
Suriah, selama klan Assad berkuasa, merupakan rute pasokan senjata yang penting bagi Hizbullah di Libanon dari Iran.
Pemerintahan baru Suriah berulang kali mengumumkan penangkapan orang-orang yang diduga memiliki afiliasi dengan Hizbullah serta penyitaan senjata-senjata yang akan dikirimkan ke milisi Syiah Libanon itu.
Hizbullah membantah ada anggota nya yang beroperasi di Suriah.
Pada bulan Juni, menjawab pertanyaan tentang apakah dirinya bersedia duduk satu meja dengan Hizbullah, Presiden Ahmed Al-Sharaa menjawab, “Jika itu bermanfaat bagi kepentingan Libanon dan tentunya kepentingan Suriah, kenapa tidak?”
Damaskus mengatakan pihaknya tidak ingin campur tangan dalam urusan militer Libanon.
“Kami bermaksud membuka saluran-saluran ekonomi antara Libanon dan Suriah, bukan militer,” kata Sharaa.
Pernyataan itu dikemukakan setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang dikenal kerap berbohong dan bermulut besar, berulang kali mengisyaratkan bahwa Damaskus bisa ikut dalam memerangi Hizbullah di Libanon.
Hizbullah menyeret Libanon ke dalam perang Timur Tengah pada 2 Maret dengan menembakkan roket ke arah Israel sebagai dukungan terhadap Teheran, yang digempur Zionis dan AS sejak 28 Februari. Akibat serangan Hizbullah itu, Israel melancarkan serangan-serangan udara ke Libanon dan mengerahkan pasukan darat untuk merebut wilayah selatan Libanon yang berbatasan langsung dengan wilayah Palestina yang dijajahnya.
Sementara itu juga pada hari Selasa (4/8), militer Libanon mengatakan bahwa pihaknya menyita sejumlah roket yang diselundupkan dari wilayah Suriah ke wilayah Libanon dan menangkap dua orang yang diduga terlibat.*




