Hidayatullah.com – Maraknya pemberitaan kasus kekerasan seksual, perundungan hingga kekerasan fisik membuat kepercayaan publik terhadap pondok pesantren mencapai titik terendah.
Muhammadiyah menilai salah satu solusinya adalah membekali Musyrif atau pengawas santri dengan berbagai keterampilan termasuk psikologi remaja.
Hal itulah yang menjadi materi dalam Pelatihan Pamong, Musyrif, dan Musyrifah Pesantren Muhammadiyah Gelombang 1 pada pekan lalu (02/08/2026) di Tabligh Institute Yogyakarta.
“Kehidupan pesantren pada dasarnya adalah proses kepengasuhan yang terjadi selama 24 jam. Maka pelatihan ini adalah ikhtiar kita bersama dalam menjaga kepercayaan masyarakat terhadap pesantren Muhammadiyah, sekaligus menjaga nama baik institusi dan persyarikatan,” ujar Maskuri, Ketua Lembaga Pengembangan Pesantren Pimpinan Pusat Muhammadiyah, dalam pembukaan kegiatan nasional tersebut.
Menurutnya, pelatihan yang dihadiri 49 peserta ini bukan sekadar pembinaan seremonial, namun intervensi struktural untuk mengeliminasi segala bentuk kekerasan yang kerap berlindung di balik dalih kedisiplinan tradisional.
Melansir laman resmi Muhammadiyah, lembaga pemerhati anak mengatakan pesantren rentan terjebak dalam budaya impunitas dan penutupan kasus demi menjaga nama baik institusi, yang memicu ketakutan mendalam bagi wali santri.
Pelatihan Musyrif dan Musyrifah Muhammadiyah Gelombang 1 berfokus pada tiga tujuan: menghapuskan total hukuman fisik di lingkungan asrama, membekali pamong dengan keterampilan psikologi remaja agar memiliki pendekatan komunikasi yang humanis, serta merumuskan Standar Operasional Prosedur (SOP) perlindungan anak yang transparan.
Selain itu, kegiatan ini menjadi momentum konsolidasi nasional untuk memperkuat pengawasan internal, mengaudit keselamatan lingkungan asrama, serta bersinergi dengan pakar psikologi guna menjamin standar pengasuhan yang terukur.*




