Hidayatullah.com – Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH M Cholil Nafis, mengimbau umat Islam tidak terlena dengan penggunaan media sosial (medsos) yang menyajikan informasi secara singkat dan padat. Menurutnya, kebiasaan mengonsumsi informasi secara cepat perlu diimbangi dengan tradisi membaca buku dan literatur ilmiah.
Pesan tersebut disampaikan Kiai Cholil saat menghadiri peluncuran dan bedah buku Sejarah Peradaban Islam karya Sekretaris Jenderal MUI Buya Amirsyah Tambunan di Aula Buya Hamka, Kantor MUI Pusat, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (19/8/2026).
Kiai Cholil menyoroti kebiasaan masyarakat di era digital yang semakin bergantung pada media sosial sebagai ruang bertukar informasi dan gagasan. Menurutnya, karakter informasi di media sosial yang serba cepat dan singkat tidak selalu memberikan kedalaman wawasan intelektual.
“Jangan terlena dengan medsos yang padat, singkat, dan seakan-akan sudah bisa mengeluarkan semua ide-ide kita, padahal tidak ada wawasan intelektual. Di sini pentingnya kita tidak lupa pada sejarah, sebagai landasan untuk kita membangun wawasan dan peradaban di masa yang akan datang,” tegas Kiai Cholil.
Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah, Depok, Jawa Barat, itu mengingatkan agar media sosial digunakan secara proporsional tanpa mengesampingkan buku dan berbagai literatur ilmiah. Menurutnya, membaca buku tetap penting untuk membangun kemampuan berpikir yang lebih mendalam.
Dalam kesempatan tersebut, Kiai Cholil juga mengajak umat Islam meneladani tradisi membaca dan menulis yang telah tumbuh sejak masa Rasulullah SAW dan para sahabat.
Ia mencontohkan perintah membaca yang terkandung dalam wahyu pertama melalui kata Iqra’, penguasaan bahasa asing oleh Zaid bin Thabit, serta pembinaan Ahlus Suffah di Masjid Nabawi sebagai bagian dari tradisi keilmuan pada masa awal Islam.
Menurut Kiai Cholil, generasi saat ini memang tidak lagi menerima wahyu. Karena itu, aktivitas literasi menjadi salah satu kunci penting dalam mengembangkan kualitas manusia dan memajukan bangsa.
Membaca, katanya, dapat mengasah kemampuan berpikir secara mendalam sekaligus memperluas khazanah pengetahuan. Sementara itu, menulis menjadi sarana untuk mewariskan ilmu kepada generasi berikutnya.
Ia mengaitkan aktivitas tersebut dengan konsep amal jariah berupa ilmu yang bermanfaat atau ‘ilmun yuntafa’u bihi.
Di tengah perkembangan teknologi, Kiai Cholil juga mengapresiasi kemudahan masyarakat dalam mengakses bahan bacaan melalui format digital, seperti PDF dan e-book. Menurutnya, kemajuan teknologi seharusnya dapat dimanfaatkan untuk mengisi waktu luang dengan aktivitas yang produktif.
Meski jurnal ilmiah kini menjadi bagian penting dalam perkembangan intelektual, ia menilai keberadaan buku tetap tidak tergantikan.
“Meskipun sekarang pada kerangka intelektual sudah jurnal, buku tetap diperlukan. Saya pikir buku ini (Sejarah Peradaban Islam) sangat baik dibaca oleh kita semua, para aktivis muslim, hingga mahasiswa,” kata Rais Syuriah PBNU tersebut.
Kiai Cholil berharap masyarakat, khususnya generasi muda Muslim, tidak hanya menjadi konsumen informasi yang serba cepat di media sosial. Tradisi membaca dan menulis perlu terus dipelihara agar perkembangan teknologi berjalan seiring dengan penguatan wawasan, kedalaman berpikir, dan pembangunan peradaban.*




