Haji Agus Salim termasuk tokoh yang cukup mengapresiasi secara kultural momentum peringatan maulid Nabi. Namun, pada waktu yang sama tetap tidak kehilangan daya kritisnya untuk terus mengingatkan umat Islam agar tidak menjadikannya sebatas seremonial.
Hidayatullah.com | PADA bulan Rabiul Awal, semarak peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW bergema di berbagai penjuru dunia Islam. Masjid-masjid dipenuhi jemaah yang mengumandangkan selawat, panggung-panggung keagamaan menggelar tabligh akbar, dan lantunan puji-pujian tentang kemuliaan akhlak sang Rasul dikumandangkan dengan penuh takzim. Tradisi yang mengakar kuat ini telah menjadi simbol kecintaan kultural yang mendalam.
Hanya saja, di balik gemerlap perayaan seremonial yang senantiasa berulang dari masa ke masa, terbesit sebuah pertanyaan mendasar yang kurang mendapat perhatian: sejauh mana peringatan kelahiran Nabi ini telah membangkitkan kesadaran kritis, etos keilmuan, dan daya cipta peradaban umat yang hari ini masih tertinggal?
Menariknya, renungan kritis semacam ini bukanlah barang baru. Hampir seabad silam, tepatnya pada 28 Agustus 1928, surat kabar harian Fadjar Asia edisi Nomor 198 menurunkan sebuah tulisan bernas karya salah seorang pejuang kemerdekaan sekaligus pemikir besar Islam Nusantara, Hadji Agus Salim.

Dalam artikel berjudul “Maulid Nabi Calla’llahoe alaihi wa sallama” yang diterbitkan dalam surat kabar tersebut, Agus Salim tidak hanya larut dalam eulogi sejarah atau romantisme masa silam. Dengan ketajaman pena dan kejernihan wawasan peradabannya, diplomat ulung berjuluk The Grand Old Man ini memanfaatkan momentum Maulid untuk melancarkan otokritik yang sangat berani dan menggugah terhadap kemunduran umat Islam di hadapan kemajuan bangsa-bangsa Barat.
Agus Salim mengawali tulisannya dengan menarasikan kembali silsilah dan potret kehidupan awal Nabi Muhammad SAW. Secara nasab, Nabi berasal dari garis keturunan paling terpandang di tanah Arab, menyambung hingga Nabi Ismail dan Nabi Ibrahim AS. Namun, bila ditinjau dari kacamata kalkulasi nasib materiil manusiawi, perjalanan awal kehidupan Nabi tampak begitu getir: lahir dalam keadaan yatim, ditinggal wafat oleh ibundanya di usia belia, hidup dalam kemiskinan, tidak mengenal pendidikan formal baca-tulis, serta harus bekerja keras menggembalakan ternak demi menyambung hidup.
Dalam pandangan Haji Agus Salim, keterbatasan ekstrem tersebut bukanlah suatu kemalangan yang sia-sia, melainkan rencana Ilahi agar jiwa Nabi terpelihara murni dari jeratan tradisi kemusyrikan dan penyembahan berhala. Dari kesucian jiwa dan keteguhan iman itulah, beliau siap mengemban wahyu agung pembawa petunjuk dan rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin).
Lebih jauh, Agus Salim menyibak babak sangat krusial alam sejarah peradaban Islam. Beliau menegaskan bahwa kelahiran Nabi dan turunnya Al-Qur’an pada awalnnya berhasil membangkitkan akal budi umat. Umat Islam generasi awal tergerak untuk menggali kembali khazanah ilmu pengetahuan klasik yang sempat terkubur oleh zaman kegelapan, lantas memperkayanya dengan temuan-temuan baru.
Pada saat itu, Al-Qur’an dipahami sebagai pelecut untuk meneliti, mengamati, dan menyelidiki rahasia ciptaan Allah di jagat raya. Semangat ilmiah, rasionalitas, dan keterbukaan intelektual inilah yang membawa dunia Islam menikmati masa keemasan peradaban selama berabad-abad, menjadi pusat kemajuan sains dan rujukan utama dunia internasional.
Sayangnya, kejayaan tersebut perlahan surut dan justru berbalik menjadi keterpurukan. Di sinilah letak pukulan kritik Agus Salim yang paling menghentak sanubari. Beliau melihat bahwa generasi umat Islam berikutnya mulai memunggungi teladan luhur dan esensi ajaran Nabinya.
Umat tergelincir ke dalam jurang perdebatan metafisika yang sia-sia dan menguras energi. Waktu produktif dihabiskan untuk meraba-raba “rahasia ketuhanan” dan hal-hal kebatinan yang sejatinya berada di luar jangkauan nalar manusia. Alih-alih meneliti alam semesta yang nyata dan bisa dikaji, umat justru sibuk saling debat tanpa ujung mengenai ayat-ayat perumpamaan serta perkara-perkara doktrinal yang tidak membawa maslahat konkret bagi kehidupan sosial.
Ironisnya, sementara umat Islam sibuk bertengkar dalam perselisihan sektarian dan dogmatisme sempit, bangsa-bangsa Barat pada saat itu justru meniru dan mengambil alih metode penyelidikan empiris yang pernah dipelopori para ilmuwan Muslim. Bangsa Barat memusatkan perhatiannya pada eksplorasi ilmu pengetahuan alam, penemuan teknologi, dan pembangunan peradaban duniawi.
Akibatnya sangat jelas: Barat melompat maju memimpin panggung modernitas, sedangkan dunia Islam tertinggal ratusan tahun dalam bayang-bayang kejayaan masa lalunya. Agus Salim menandaskan bahwa ketertinggalan ini bukan disebabkan oleh ajaran Islam itu sendiri, melainkan akibat kelalaian dan keengganan umatnya dalam menjalankan perintah membaca dan meneliti alam semesta.
Kritik tajam yang ditulis Agus Salim pada tahun 1928 tersebut masih terasa sangat relevan dengan realitas sosiologis hari ini. Di era ledakan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), transformasi teknologi digital, dan revolusi bioteknologi, bayang-bayang penyakit peradaban yang dipotret Agus Salim masih nyata di depan mata.
Di panggung ruang publik dan media sosial, energi umat sering kali terserap habis untuk memproduksi dan menyebar hoaks, memperdebatkan perbedaan cabang fikih (furu’iyah), saling menyalahkan kelompok lain, dan larut dalam polemik keagamaan yang tidak berkesudahan. Di sisi lain, kontribusi nyata umat dalam penguasaan sains terapan, inovasi industri, riset medis modern, dan penciptaan nilai ekonomi strategis masih tergolong minim dan sangat mundur dibanding era kejayaannya di masa silam.
Memaknai Maulid Nabi di era digital melalui kacamata pemikiran Hadji Agus Salim menuntut adanya pergeseran paradigma yang radikal. Merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW tidak boleh hanya berhenti pada ritual seremonial, pembacaan syair, dan jamuan makan belaka. Maulid harus ditransformasikan menjadi momentum kebangkitan intelektual, pembaruan etos kerja, serta penguatan literasi ilmiah dan teknologi.
Umat Islam harus berani menghentikan perdebatan kusir yang memecah belah dan mulai mengarahkan seluruh daya pikirnya untuk menciptakan solusi konkret atas tantangan kemanusiaan kontemporer, mulai dari krisis lingkungan, ketimpangan ekonomi, hingga literasi digital. Umat Islam tidak boleh hanya berpangku tangan, tenggelaman dalam romantisme kejayaan masa silam dan tidak berkontribusi apa-apa di tengah dinamika kemajuan yang sedang berlangsung di level global.
Agus Salim menutup refleksinya dengan sebuah pesan optimisme yang kokoh: bahwa kekuatan rohani Islam senantiasa hidup dan jauh lebih kuat daripada segala kemegahan materi duniawi. Tulisnya, “Sekalipoen di dalam perdjoangan bereboet kedoniaan kadang-kadang seperti tertoetoep dan hilang tjahaja agama; akan tetapi sebagai kekoeatan roh ini, lebih koeat njawanja daripada segala kedoeniaan itoe.”
Meski demikian, kekuatan rohani tersebut baru akan berbuah menjadi kemajuan jika diiringi dengan ikhtiar nyata dalam menguasai hukum-hukum alam yang telah diciptakan Allah. Meneladani Nabi secara paripurna berarti menyatukan kemurnian iman di dalam hati dengan ketajaman logika ilmiah dalam tindakan. Maka dari itu, Maulid Nabi bukan lagi sekadar peringatan nostalgia masa lampau, melainkan kompas masa depan untuk merebut kembali kepemimpinan peradaban dunia. (MBS)




